← Beranda
Meta Tambahkan Fitur Keamanan Privasi pada Kacamata AI, Namun Sambil Uji Prototipe ‘Super-Sensing’
Mellyna Putri DiniarSelasa, 14 Juli 2026 | 06.33 WIB
Mark Zuckerberg, CEO Meta Platforms, saat memperkenalkan pengembangan teknologi AI perusahaan / Foto: (Fortune)

JawaPos.com — Meta memperkuat perlindungan privasi pada kacamata AI Ray-Ban Meta dengan fitur yang dapat menonaktifkan kamera apabila sistem mendeteksi lampu indikator perekaman LED telah dirusak atau dihancurkan. 

Namun, di saat yang sama, perusahaan teknologi milik Mark Zuckerberg tersebut dilaporkan tengah menguji prototipe “super-sensing” yang memungkinkan kacamata AI menangkap lebih banyak informasi dari lingkungan pengguna.

Dilansir dari Fortune, Senin (13/7/2026), perdebatan privasi muncul karena kacamata pintar memungkinkan seseorang mengambil foto atau merekam video orang lain dengan lebih mudah dibandingkan perangkat kamera biasa.

Pengguna Ray-Ban Meta tetap harus mengaktifkan kamera melalui tombol pada gagang kacamata atau perintah suara. Namun, sejumlah pihak mempertanyakan efektivitas LED karena tidak semua orang memahami fungsinya atau dapat melihatnya dengan jelas dalam kondisi tertentu.

Selain memperkuat keamanan perangkat, Meta juga mengambil tindakan terhadap pihak yang mencoba menonaktifkan fitur perlindungan tersebut. Perusahaan menghapus penawaran di Facebook Marketplace yang menyediakan layanan untuk mematikan LED indikator dan menyatakan dapat memblokir akun maupun mengambil langkah hukum terhadap penyedia layanan itu.

Juru bicara Meta, Dina El-Kassaby, menyebut kepercayaan publik menjadi alasan perusahaan terus memperkuat perlindungan privasi pada kacamata AI. “Semakin banyak orang menggunakan kacamata AI kami karena perangkat ini benar-benar membantu dalam aktivitas sehari-hari, seperti mendengarkan musik, mendapatkan terjemahan langsung saat bepergian, atau melakukan panggilan tanpa tangan. Orang yang menggunakan perangkat ini dan orang-orang di sekitarnya perlu mempercayainya,” ujar El-Kassaby.

Namun, pada saat yang sama, Meta dilaporkan menguji prototipe kacamata AI dengan kemampuan lebih luas yang disebut teknologi “super-sensing”. Berdasarkan laporan Financial Times, teknologi tersebut memungkinkan perangkat mengambil foto setiap beberapa detik dan merekam audio secara terus-menerus sehingga pengguna dapat bertanya kepada AI mengenai apa yang mereka lihat atau dengar sepanjang hari.

Meski masih dalam tahap pengembangan, prototipe tersebut telah memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme perlindungan privasi, terutama terkait indikator ketika fitur penginderaan aktif. 

Laporan Financial Times menyebut eksekutif Meta membahas kemungkinan tidak mengaktifkan lampu indikator LED saat fitur tersebut digunakan, meskipun rencana itu masih dapat berubah. Meta menyatakan rekaman mentah berupa video dan audio tidak akan disimpan oleh perusahaan maupun dapat diakses oleh pengguna.

Isu privasi juga menjadi sorotan setelah Meta menghadapi gugatan terkait dugaan bahwa rekaman sensitif dari perangkat pintarnya ditinjau pekerja di Kenya untuk membantu melatih model AI. Meta menjelaskan bahwa foto dan video pengguna tetap bersifat pribadi kecuali dibagikan melalui Meta AI, sementara materi yang digunakan untuk peningkatan produk telah melalui penyaringan guna melindungi privasi.

Analis keamanan informasi dan kecerdasan buatan dari Fox Rothschild, Mark McCreary, menilai fitur perlindungan LED sebagai langkah positif. Namun, dia mengatakan langkah tersebut dapat dipandang sebagian pihak sebagai upaya Meta mengalihkan perhatian dari perdebatan mengenai teknologi “super-sensing”. “Seorang yang sinis mungkin mengatakan, ‘Jangan lihat apinya. Lihat ke sini.’ Ini bisa menjadi reaksi terhadap pemberitaan mengenai produk baru mereka,” ujar McCreary kepada Fortune.

McCreary juga menyoroti model bisnis Meta yang bergantung besar pada iklan berbasis data pengguna. “Kita semua telah melihat berbagai kejadian selama bertahun-tahun ketika Meta sedikit terlalu longgar dalam penggunaan informasi pribadi pelanggannya,” katanya. 

Menurutnya, tantangan utama kacamata AI bukan hanya kemampuan teknologi, tetapi penerimaan masyarakat terhadap perangkat yang terus memahami lingkungan sekitar mereka. “Kita belum tahu. Kita harus melihat seberapa besar orang merasa ada faktor yang mengganggu, atau apakah kita sudah melewati titik ketika privasi dianggap tidak lagi penting,” ujar McCreary.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho