JawaPos.com - Selat Hormuz dilaporkan menunjukkan dampak nyata dari memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran. Jumlah kapal yang melintasi salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia itu dilaporkan turun drastis setelah gelombang serangan terbaru kedua negara
Data dari organisasi pemilik kapal tanker independen Intertanko menunjukkan rata-rata kapal yang melintas kini hanya sekitar 30 kapal per hari, turun dari sekitar 70 kapal sepekan lalu. Sebelum perang Iran pecah awal tahun ini, lalu lintas di Selat Hormuz bahkan mencapai sekitar 130 kapal per hari.
Direktur Kelautan Intertanko, Phil Belcher, mengatakan kapal-kapal kini semakin menghindari kawasan tersebut karena risiko keamanan yang terus meningkat.
Bahkan, jumlah kapal yang menggunakan jalur selatan Selat Hormuz yang berada lebih dekat ke Oman kini tinggal satu digit.
"Siklus kekerasan, naik turunnya kabar positif dan negatif ini memberikan dampak yang sangat besar, baik terhadap dunia usaha maupun para pelaut itu sendiri," kata Belcher kepada BBC Radio 4.
Penurunan aktivitas pelayaran terjadi setelah militer AS mengumumkan telah menyerang 90 target militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara dan infrastruktur logistik di sepanjang pesisir dekat Selat Hormuz.
US Central Command (Centcom) menyebut operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran melakukan serangan terhadap kapal dagang dan pelayaran sipil di jalur strategis itu.
Di sisi lain, Iran menyatakan telah membalas dengan menyerang sejumlah aset militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Qatar. Media pemerintah Iran kemudian melaporkan serangan lanjutan juga menyasar lokasi di Kuwait, Yordania, dan Irak.
Konflik juga memicu kerusakan di sejumlah wilayah Iran. Media pemerintah melaporkan sasaran di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr ikut terkena serangan, sementara ledakan juga terdengar di Bandar Abbas, Konarak, Sirik, Jask, hingga Pulau Abu Musa.
Kementerian Kesehatan Iran menyebut sedikitnya 14 orang tewas dan 78 orang terluka dalam dua hari terakhir. Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan negaranya akan membalas setiap serangan yang dilakukan Amerika Serikat.
"Izinkan saya mengatakannya dengan jelas: jika Anda menyerang, Anda akan diserang," tulis Ghalibaf melalui akun X.
Meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz menjadi perhatian dunia karena jalur laut tersebut merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas global.
Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan ini berpotensi memengaruhi rantai pasok energi internasional apabila konflik terus berlanjut.