← Beranda
Nvidia Bernilai Hampir USD 4,8 Triliun, tetapi Tetap Menolak Budaya 'Makan Siang Gratis' ala Silicon Valley
Mellyna Putri DiniarJumat, 3 Juli 2026 | 01.57 WIB
Jensen Huang, CEO Nvidia (Fortune)

JawaPos.com - Menjadi perusahaan paling bernilai di dunia dengan kapitalisasi pasar sekitar USD 4,8 triliun atau setara Rp86.448 triliun (dengan kurs Rp18.010 per dolar AS) tidak membuat Nvidia mengikuti tradisi kemewahan yang selama ini identik dengan Silicon Valley. 

Alih-alih menyediakan makan siang gratis seperti banyak perusahaan teknologi besar lainnya, Nvidia tetap menerapkan kebijakan bahwa karyawan membayar makanan mereka sendiri di kafetaria perusahaan.

Pendekatan tersebut menjadi sorotan karena bertolak belakang dengan budaya Silicon Valley yang selama bertahun-tahun menjadikan berbagai fasilitas gratis sebagai daya tarik utama untuk merekrut dan mempertahankan talenta terbaik. 

Di saat perusahaan lain mengandalkan beragam tunjangan, Nvidia memilih membangun budaya kerja yang menempatkan kepemilikan perusahaan dan fokus pada pekerjaan sebagai nilai utama.

Baca Juga: GLM-5.2 Guncang Silicon Valley, Model AI Open-Source Tiongkok yang Picu Kekhawatiran Baru AS

Dilansir dari Fortune, Kamis (2/7/2026), perhatian terhadap kebijakan tersebut mencuat setelah insinyur perangkat lunak sekaligus penulis The Pragmatic Engineer, Gergely Orosz, mengunjungi kantor pusat Nvidia di Santa Clara, California.

Dia menulis, "Makanan ringan dan kopi tidak gratis. Anda harus membayarnya. Hal seperti ini mungkin tidak lazim di perusahaan Big Tech, tetapi bukan persoalan bagi para pengembang di sini." 

Sementara itu, mantan karyawan yang diwawancarai Business Insider menjelaskan bahwa makanan di kafetaria memang mendapat subsidi, bukan diberikan cuma-cuma. Kopi umumnya tersedia gratis, tetapi sebagian minuman kemasan dan minuman dari kafe di area kantor tetap harus dibayar. 

Kebijakan tersebut ternyata bukan hal baru. Seorang mantan peserta magang Nvidia pada 2014 pernah menulis bahwa harga makan siang bersubsidi saat itu rata-rata sekitar 6 dolar AS, setara sekitar Rp108.060 dengan kurs saat ini, sedangkan jika disesuaikan dengan inflasi kini nilainya sekitar 8,50 dolar AS. Menu yang tersedia meliputi ayam dan pasta, ayam dan nasi, fish and chips, hingga sandwich. 

Model Nvidia sangat kontras dengan Google yang selama bertahun-tahun menjadi pelopor fasilitas makan gratis di Silicon Valley. Di kompleks Googleplex, Mountain View, tersedia puluhan lokasi makan bagi karyawan. 

Kepala investasi Google dan Alphabet, Ruth Porat, menjelaskan bahwa manfaat terbesar bukan sekadar makanannya. "Pertemuan yang terjadi secara tidak direncanakan sangat berharga. Ketika orang-orang berkumpul saat makan, mereka yang mengerjakan hal berbeda bisa saling bertukar ide," ujarnya dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan pekan lalu. 

Di Nvidia, filosofi tersebut berasal langsung dari pendirinya, Jensen Huang, yang mendirikan perusahaan pada 1993 dan mengubahnya dari produsen cip gim menjadi motor utama revolusi AI. Huang dikenal bekerja tujuh hari dalam sepekan, termasuk akhir pekan dan hari libur, karena merasa perusahaan selalu berada dalam kondisi harus terus bertahan.

Dalam wawancara bersama podcaster Joe Rogan tahun lalu, Huang mengatakan, "Saya sudah menggunakan ungkapan '30 hari lagi menuju kebangkrutan' selama 33 tahun. Namun, perasaan itu tidak pernah berubah. Rasa rentan, ketidakpastian, dan rasa tidak aman itu tidak pernah benar-benar hilang." 

Sementara dalam pidatonya di Stanford University pada 2024, dia bahkan berpesan kepada mahasiswa, "Saya berharap kalian mengalami banyak rasa sakit dan penderitaan," karena menurutnya ketidaknyamanan sering kali menghasilkan pencapaian terbaik. 

Baca Juga: Sergey Brin dan Perlawanan Elite Silicon Valley terhadap Pajak 5 Persen di California

Fenomena ini muncul ketika banyak perusahaan teknologi mulai memangkas fasilitas. Meta kini mengganti makan gratis dengan voucher, bahkan pernah memecat dua lusin karyawan yang dianggap menyalahgunakan fasilitas tersebut. Sementara X, yang dahulu dikenal dengan kafetaria mewahnya, juga memangkas berbagai layanan setelah diakuisisi oleh Elon Musk pada 2022. 

Meski terkesan lebih hemat, Nvidia menawarkan kompensasi dalam bentuk lain. Program pembelian saham karyawan perusahaan itu memberikan potongan harga 15 persen dengan skema two-year lookback, yaitu karyawan dapat membeli saham berdasarkan harga terendah yang pernah tercatat dalam dua tahun terakhir. 

Dengan lonjakan harga saham sekitar 1.400 persen dalam lima tahun terakhir, banyak karyawan memperoleh keuntungan yang jauh melampaui nilai makan siang gratis, memperlihatkan bahwa dalam era AI, kepemilikan saham perusahaan dinilai lebih bernilai daripada sekadar fasilitas kantor.

EDITOR: Candra Mega Sari