JawaPos.com – Sejumlah wilayah Eropa tengah, timur, dan selatan dilanda gelombang panas ekstrem akibat pergeseran fenomena kubah panas yang sebelumnya menyebabkan suhu rekor di kawasan barat.
Dilansir dari laman The Guardian pada Selasa (30/6), Kondisi tersebut membuat beberapa negara menghadapi suhu di atas 40 derajat Celsius serta meningkatkan risiko terhadap kesehatan masyarakat.
Pemerintah di berbagai negara mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem dan meminta warga mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Cancer Besok Rabu, 1 Juli 2026: Karier, Asmara, Keuangan Hingga Kesehatan
Hungaria, Polandia, Rumania, Serbia, Kroasia, Slovakia, serta Bosnia dan Herzegovina menjadi beberapa negara yang mengeluarkan peringatan merah akibat suhu tinggi.
Kota Budapest diperkirakan mengalami suhu lebih dari 40 derajat Celsius, sementara sejumlah kota lain seperti Belgrade dan Bucharest juga mencatat suhu mendekati angka tersebut.
Pemerintah Hungaria bahkan menyediakan lebih dari 2.000 pusat pendinginan bagi masyarakat yang membutuhkan tempat perlindungan dari panas.
Gelombang panas juga menyebabkan berbagai gangguan di sejumlah wilayah Eropa, termasuk gangguan transportasi dan meningkatnya risiko kebakaran hutan.
Jerman mencatat suhu tertinggi hingga 41,7 derajat Celsius di wilayah Brandenburg, sementara beberapa jalur transportasi mengalami gangguan akibat panas yang menyebabkan rel mengalami perubahan bentuk.
Di Kroasia, petugas pemadam kebakaran berupaya mengendalikan kebakaran hutan di Pulau Vis dengan bantuan sejumlah pesawat pemadam.
Dampak gelombang panas tersebut turut meningkatkan angka kematian di beberapa negara Eropa. Prancis melaporkan lebih dari 1.000 kematian tambahan akibat gelombang panas, sedangkan Spanyol mencatat lebih dari 800 kematian tambahan selama periode cuaca ekstrem.
Para ilmuwan menyatakan bahwa intensitas gelombang panas yang terjadi berkaitan dengan perubahan iklim akibat peningkatan emisi dari pembakaran bahan bakar fosil.
Eropa tengah dan timur menghadapi tantangan besar dalam menghadapi suhu ekstrem karena banyak bangunan di kawasan tersebut belum dirancang untuk menghadapi panas berkepanjangan.
Penggunaan pendingin ruangan di wilayah tersebut masih relatif rendah dibandingkan rata-rata Eropa, sehingga masyarakat lebih rentan terhadap dampak suhu tinggi. Selain itu, Ukraina juga menghadapi tekanan tambahan karena jaringan listriknya harus bekerja keras memenuhi peningkatan kebutuhan energi di tengah kondisi cuaca ekstrem.