JawaPos.com — Upaya Tiongkok memperluas pengaruh di sektor infrastruktur digital global memasuki babak baru melalui SpaceSail, proyek konstelasi satelit yang mulai diproyeksikan sebagai rival baru Starlink milik Elon Musk.
Meski jumlah satelit yang dioperasikan masih terpaut jauh, perusahaan yang didukung pemerintah Tiongkok itu mulai mempercepat ekspansi internasional dengan menyasar negara-negara yang belum terjangkau atau menghadapi kendala kerja sama dengan Starlink.
SpaceSail saat ini memiliki sedikitnya 200 satelit aktif di orbit rendah Bumi, jauh di bawah sekitar 10.413 satelit milik Starlink yang melayani lebih dari 12 juta pengguna di 160 negara dan wilayah. Kendati demikian, perusahaan tersebut menyatakan telah memiliki jumlah satelit yang memadai untuk memulai layanan komersial pertamanya dan menargetkan perluasan operasi secara bertahap hingga akhir dekade ini.
Dilansir dari The Guardian, Jumat (26/6/2026), pendiri Orbital Gateway Consulting, Blaine Curcio, menilai SpaceSail "secara sengaja membidik negara-negara tempat Starlink menghadapi persoalan politik maupun regulasi."
Dia membandingkan strategi tersebut dengan langkah produsen kendaraan listrik Tiongkok, BYD, yang memanfaatkan dukungan subsidi pemerintah hingga mampu melampaui Tesla dalam penjualan global. Meski demikian, Curcio mengingatkan bahwa keberhasilan SpaceSail "masih jauh dari terjamin."
SpaceSail, yang secara resmi bernama SpaceSail Constellation atau Qianfan (Thousand Sails), diluncurkan pada 2023 oleh Shanghai Spacecom Satellite Technology (SSST). Proyek tersebut bertujuan menyediakan layanan internet berkecepatan tinggi yang aman dan andal dengan cakupan global. Menurut laporan The Guardian, proyek ini juga diposisikan sebagai bagian dari strategi Tiongkok untuk membangun infrastruktur komunikasi yang lebih mandiri.
Komentator Beijing Review, Lan Xinzhen, mengatakan proyek itu juga dikembangkan dengan mempertimbangkan kepentingan keamanan nasional. Menurutnya, jaringan SpaceSail pada akhirnya akan mendukung "proyek luar negeri, perdagangan maritim, dan misi diplomatik" tanpa bergantung pada perusahaan maupun infrastruktur Barat.
Sejalan dengan tujuan tersebut, SSST memperoleh pendanaan awal sebesar 6,7 miliar yuan, setara sekitar Rp17,75 triliun (dengan kurs Rp2.649 per yuan), dari Pemerintah Kota Shanghai dan Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok.
Sejak peluncuran perdana pada Agustus 2024, SpaceSail telah melaksanakan 12 misi peluncuran satelit. Layanan komersial pertamanya difokuskan untuk pelacakan kapal di laut. Perusahaan menargetkan memiliki 648 satelit aktif pada akhir 2026 sebelum memperluas konstelasinya menjadi lebih dari 15.000 satelit guna menghadirkan layanan internet satelit dengan cakupan global.
Di sisi lain, Starlink masih mempertahankan keunggulan yang sangat besar. Selain mengoperasikan lebih dari 10.000 satelit, perusahaan tersebut juga berencana memperluas konstelasinya hingga sekitar 42.000 satelit. Sementara itu, SpaceSail menargetkan lebih dari 10.000 satelit di orbit rendah Bumi pada 2030, meski pencapaian target tersebut masih bergantung pada ketersediaan roket peluncur dan pendanaan.
Selain bersaing dengan Starlink, SpaceSail juga menghadapi kompetisi di dalam negeri. Curcio menilai perusahaan itu harus berebut kapasitas peluncuran roket dan investasi dengan SatNet, perusahaan milik negara Tiongkok yang tengah mengembangkan konstelasi satelit Guowang.
Namun, dibandingkan SatNet yang lebih berfokus pada telekomunikasi domestik dan keamanan nasional, SpaceSail dinilai lebih berorientasi menjadi pesaing langsung Starlink di pasar internasional.
Ekspansi global SpaceSail pun mulai menunjukkan hasil. Perusahaan dilaporkan tengah bernegosiasi dengan sekitar 30 negara. Di Brasil, regulator telekomunikasi Anatel telah mengizinkan layanan komersial SpaceSail setelah hubungan pemerintah setempat dengan Elon Musk memburuk pada 2024.
Di Kazakhstan, perusahaan itu mendirikan anak usaha menyusul gagalnya pembicaraan Starlink terkait persyaratan penyimpanan data dan keamanan. Sementara itu, Airbus pada Desember lalu sepakat menjadikan SpaceSail sebagai salah satu pilihan layanan Wi-Fi dalam penerbangan.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa persaingan internet satelit ditentukan oleh kemampuan membangun kemitraan internasional, dukungan pemerintah, dan strategi memasuki pasar yang belum digarap secara optimal.
Meski Starlink masih memimpin industri, ekspansi SpaceSail ke berbagai negara menunjukkan ambisi Tiongkok memperkuat kemandirian teknologi sekaligus memperluas pengaruhnya dalam persaingan infrastruktur digital global.