JawaPos.com — Persaingan teknologi global memasuki fase baru setelah Tiongkok kembali menempati posisi teratas daftar superkomputer tercepat di dunia melalui sistem LineShine, mengakhiri dominasi Amerika Serikat (AS) dalam pemeringkatan TOP500.
Capaian ini merupakan simbol keberhasilan Tiongkok memperkuat kemandirian teknologi di tengah pembatasan ekspor cip dan teknologi canggih dari Barat.
Dalam pengumuman pada konferensi International Supercomputing Conference (ISC) 2026 di Hamburg, Jerman, superkomputer LineShine mencatat kinerja berkelanjutan sebesar 2,198 exaflops dan langsung menempati posisi teratas daftar TOP500.
Dengan capaian tersebut, sistem yang dikembangkan sepenuhnya di Tiongkok itu berhasil menggeser El Capitan milik Lawrence Livermore National Laboratory, California, AS, yang sebelumnya menduduki posisi pertama.
Dilansir dari Global Times, Rabu (24/6/2026), keberhasilan tersebut mengakhiri penantian sembilan tahun Tiongkok untuk kembali menduduki peringkat pertama dunia. Pusat Superkomputer Nasional Shenzhen menyebut LineShine sebagai superkomputer pertama yang melampaui batas 2 exaflops dalam pengujian berkelanjutan, sebuah pencapaian yang dinilai menunjukkan kemajuan signifikan industri superkomputer Tiongkok di tengah berbagai pembatasan teknologi dari Barat.
Tak hanya itu, LineShine menarik perhatian komunitas teknologi internasional karena menggunakan pendekatan yang berbeda dari sebagian besar superkomputer modern. Sistem ini dibangun dengan arsitektur CPU murni tanpa bantuan kartu akselerator GPU yang lazim digunakan untuk komputasi kecerdasan buatan (AI).
Media teknologi AS, Engadget, menyoroti bahwa “mesin baru Tiongkok mampu mengalahkan pesaingnya dari AS meskipun menghadapi embargo teknologi karena tidak bergantung pada GPU seperti model-model terdepan lainnya.”
Pandangan serupa disampaikan Jack Dongarra, salah satu penggagas daftar TOP500, yang dikutip The New York Times. Dia menyebut LineShine sebagai “sistem yang mengesankan.” Dongarra menambahkan bahwa Tiongkok berhasil melampaui pesaingnya dengan mengembangkan sistem yang tidak bergantung pada GPU, sebuah pendekatan yang berbeda dari tren dominan industri saat ini.
Menurut peneliti Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, Zhang Yunquan, keberhasilan LineShine menandai kembalinya kepemimpinan Tiongkok di TOP500 sejak era superkomputer Sunway TaihuLight.
Dia menjelaskan bahwa berbeda dengan mayoritas superkomputer AS yang mengandalkan kombinasi CPU dan GPU, LineShine menggunakan jalur teknologi terintegrasi berbasis ARM dengan CPU murni. Pendekatan tersebut memang lebih sulit diterapkan, namun menawarkan kompatibilitas yang kuat untuk komputasi ilmiah tradisional.
Sementara itu, Wakil Presiden Technology and Strategy Research Institute, Chen Jing, menilai keunggulan utama LineShine bukan terletak pada satu komponen perangkat keras tertentu.
“Kemajuan superkomputer Tiongkok tidak hanya didorong oleh satu terobosan perangkat keras, melainkan oleh peningkatan kemampuan tingkat sistem secara menyeluruh,” ujarnya. Dia menyoroti pengembangan ekosistem mandiri, inovasi arsitektur, integrasi sistem penuh, hingga kemajuan teknologi penyimpanan dan pendinginan sebagai faktor utama.
Data TOP500 menunjukkan LineShine mencatat kinerja lebih dari 20 persen lebih cepat dibanding El Capitan pada tolok ukur High Performance Linpack (HPL), yang menjadi standar utama pengukuran superkomputer. Sistem tersebut juga memimpin peringkat HPCG dengan skor 22 petaflops, sekaligus menjadi superkomputer pertama yang menembus dua exaflops menggunakan CPU saja.
Namun, sejumlah analis mengingatkan bahwa dominasi pada TOP500 tidak otomatis berarti unggul dalam seluruh aspek komputasi AI. Reuters melaporkan LineShine hanya berada di posisi keempat dalam pengujian HPL-MxP yang lebih dekat dengan beban kerja AI modern.
Meski begitu, pencapaian tersebut tetap dianggap sebagai bukti bahwa Tiongkok kini mampu membangun sistem komputasi exascale tanpa bergantung pada GPU Nvidia, ekosistem CUDA, maupun standar interkoneksi Barat tertentu.
Pada akhirnya, setelah bertahun-tahun menghadapi pembatasan akses terhadap teknologi maju, Tiongkok menunjukkan bahwa persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh penguasaan cip semata, melainkan juga kemampuan membangun ekosistem komputasi lengkap dari prosesor, perangkat lunak, jaringan, hingga infrastruktur nasional.
Bagi dunia, keberhasilan LineShine menjadi penanda bahwa perlombaan teknologi abad ke-21 kini memasuki babak yang lebih kompleks dan semakin strategis.