← Beranda
Blak-blakan Presiden Iran Masoud Pezeshkian: Tanpa Rudal Balistik, Kami Akan Seperti Gaza
Rian AlfiantoRabu, 24 Juni 2026 | 17.52 WIB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Al Jazeera)

 

 

JawaPos.com - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa program rudal balistik negaranya tidak akan pernah menjadi bahan negosiasi. Hal ini dmeski pembicaraan antara Teheran dan Washington terus berlanjut untuk mencari penyelesaian permanen konflik di Timur Tengah.

Dalam kunjungannya ke Pakistan usai rangkaian perundingan di Swiss, Pezeshkian menyebut rudal menjadi faktor utama yang membuat Iran mampu bertahan dari tekanan militer Israel dan Amerika Serikat selama perang berlangsung.

Menurutnya, tanpa kemampuan pertahanan tersebut, Iran berpotensi mengalami nasib serupa seperti Gaza, Palestina.

“Jika rudal yang kami miliki untuk pertahanan tidak ada, Israel dan Amerika Serikat akan melumat Iran seperti Gaza, tanpa menunjukkan belas kasihan kepada yang tua maupun yang muda,” kata Pezeshkian dikutip Al-Arabiya.

Pernyataan itu sekaligus menjawab spekulasi mengenai kemungkinan Iran bersedia membahas program rudal balistik dalam rangkaian negosiasi yang dimediasi Pakistan.

Pezeshkian menegaskan bahwa isu pertahanan nasional merupakan garis merah yang tidak dapat ditawar.

“Kami tidak akan pernah bernegosiasi dengan siapa pun, dalam keadaan apa pun, mengenai kemampuan pertahanan kami,” tegasnya.

Sikap keras Teheran muncul di tengah perkembangan baru dalam diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengkonfirmasi bahwa kesepakatan awal yang ditandatangani Amerika Serikat, Iran, dan para pihak mediator tidak mencantumkan program rudal balistik sebagai bagian dari poin perundingan.

Konfirmasi tersebut menjadi sinyal penting karena sebelumnya Washington berupaya memasukkan program rudal Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata, di kawasan sebagai bagian dari negosiasi terkait aktivitas nuklir Iran.

Selama perang yang dipicu serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, Teheran meluncurkan ratusan rudal serta ribuan drone ke sejumlah negara di kawasan Teluk dan wilayah Israel.

Serangan itu menunjukkan bahwa rudal tetap menjadi instrumen utama strategi pertahanan Iran.

Program rudal Iran sendiri berakar dari pengalaman perang Iran-Irak pada dekade 1980-an. Saat itu, keterbatasan kemampuan angkatan udara mendorong Teheran mengembangkan rudal jarak jauh sebagai alat penangkal.

Meski berada dalam status embargo perdagangan dunia, dalam beberapa dekade terakhir, teknologi tersebut terus berkembang dengan jangkauan dan tingkat akurasi yang semakin tinggi.

Sementara bagi Israel, program rudal Iran telah lama dipandang sebagai ancaman strategis. Dengan jarak sekitar 1.500 kilometer antara kedua negara, kemampuan rudal jarak menengah dan jauh Iran dianggap mampu menjangkau wilayah Israel secara langsung.

Menariknya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump belakangan menunjukkan nada yang lebih lunak dibandingkan posisi Washington sebelumnya. Dalam pertemuan G7 di Perancis pekan lalu, Trump mengisyaratkan bahwa kepemilikan rudal oleh Iran tidak sepenuhnya dapat dipersoalkan selama negara lain di kawasan juga memiliki kemampuan serupa.

Baca Juga: Optimisme Perdamaian AS-Iran Bikin Harga Minyak Mentah Kembali Turun

“Saya mengatakan bahwa jika negara-negara lain memilikinya, agak tidak adil jika mereka tidak memiliki sebagian kemampuan itu,” ujar Trump.

Meski demikian, pernyataan Pezeshkian menunjukkan bahwa Iran belum melihat adanya ruang kompromi terkait kemampuan militernya.

Dengan rudal balistik dianggap sebagai pilar utama pertahanan nasional, isu tersebut berpotensi tetap menjadi salah satu hambatan terbesar dalam upaya mencapai kesepakatan jangka panjang antara Teheran dan Washington.

 

EDITOR: Kuswandi