← Beranda
Nilai Siswa Menurun, Swedia Investasi Besar untuk Kembalikan Buku Cetak ke Kelas
Dhimas GinanjarSenin, 22 Juni 2026 | 14.36 WIB
Sejumlah anak membaca buku cetak di ruang kelas di Stockholm, Swedia, 19 Maret 2026. (Kyodo)

 

JawaPos.com – Swedia yang selama ini dikenal sebagai salah satu pelopor digitalisasi pendidikan kini justru kembali mengandalkan buku cetak di ruang kelas. Pemerintah mengambil langkah tersebut setelah muncul kekhawatiran bahwa penggunaan layar secara berlebihan dapat mengganggu kemampuan belajar anak.

Seperti dilansir Kyodo, Senin (22/6), sekolah-sekolah di Swedia mulai mengurangi ketergantungan pada laptop dan tablet. Sebagai gantinya, siswa kembali menggunakan buku fisik dan materi cetak dalam kegiatan belajar sehari-hari.

Di Sekolah Bandhagen, Stockholm, siswa kelas empat terlihat membaca keras-keras dari buku cetak setelah sebelumnya menghabiskan waktu membaca buku pilihan mereka. Pemandangan itu menjadi gambaran perubahan besar yang sedang berlangsung di sistem pendidikan Swedia.

"Saat membaca di perangkat elektronik, saya biasanya sakit kepala. Saya juga lebih mudah berkonsentrasi ketika membaca buku fisik," kata Emilia, seorang siswi remaja.

Swedia mulai memperluas penggunaan perangkat digital di sekolah sekitar 2010. Namun perdebatan mengenai efektivitas metode tersebut menguat setelah hasil Program for International Student Assessment (PISA) dari OECD menunjukkan penurunan tajam kemampuan membaca dan matematika siswa antara 2018 hingga 2022.

Pemerintah kemudian meminta tim ahli saraf dan pakar kesehatan anak melakukan kajian. Hasilnya menyimpulkan bahwa ketergantungan yang terlalu besar terhadap perangkat digital berpotensi mengurangi perhatian dan konsentrasi anak, sementara materi cetak dinilai lebih efektif untuk proses belajar.

Atas dasar itu, Swedia mengubah kebijakan pada 2023 dengan mendorong penggunaan metode belajar berbasis kertas, terutama untuk siswa usia dini. Pemerintah juga mengalokasikan anggaran antara 658 juta hingga 755 juta krona atau sekitar USD 70 juta hingga USD 80 juta per tahun untuk penyediaan buku pelajaran dan materi cetak hingga 2025.

Dana tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan prasekolah hingga sekolah wajib, yang setara dengan jenjang SD dan SMP di Jepang. Kebijakan ini menjadi perubahan arah yang cukup mencolok bagi negara yang sebelumnya sangat agresif menerapkan pembelajaran digital.

Ketua Komite Pendidikan Parlemen Swedia, Joar Forssell, mengatakan keputusan tersebut didasarkan pada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak dengan perkembangan otak yang masih berlangsung lebih rentan terhadap dampak penggunaan perangkat digital.

Meski demikian, tidak semua pihak sepakat bahwa teknologi menjadi penyebab utama penurunan prestasi belajar. Sejumlah peneliti dan praktisi pendidikan menilai faktor lain juga berperan, termasuk perubahan demografi dan tantangan yang dihadapi siswa dari keluarga imigran.

Sejak sekitar 2015, Swedia menerima gelombang besar imigran dan pengungsi dari Suriah, Afghanistan, serta sejumlah negara di Afrika. Kondisi tersebut dinilai ikut memengaruhi dinamika pendidikan di negara tersebut.

Kepala Sekolah Bandhagen, Pia Nystrom, menilai solusi terbaik bukanlah meninggalkan teknologi sepenuhnya. Menurutnya, yang lebih penting adalah menemukan keseimbangan antara penggunaan perangkat digital dan metode belajar tradisional agar keduanya dapat saling melengkapi.

Langkah Swedia ini menarik perhatian dunia karena terjadi ketika banyak negara justru semakin mendorong digitalisasi pendidikan. Di Jepang, misalnya, undang-undang yang direvisi baru-baru ini memungkinkan buku pelajaran digital digunakan secara resmi sebagai bahan ajar di sekolah.

EDITOR: Dhimas Ginanjar