← Beranda
Damai Sementara, Bukan Akhir Konflik: Ini Deretan Masalah yang masih Membayangi AS-Iran
Rian AlfiantoKamis, 18 Juni 2026 | 18.54 WIB
Ilustrasi bendera AS dan Iran. (kuwaittimes)

 

 

JawaPos.com - Kesepakatan damai awal antara Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi berlaku setelah kedua negara menandatangani memorandum of understanding (MoU) secara elektronik pada Rabu (17/6).

Namun di balik klaim Presiden Donald Trump bahwa kesepakatan tersebut merupakan kemenangan besar bagi Washington, dokumen yang dirilis pemerintah AS menunjukkan masih banyak persoalan penting yang belum terselesaikan.

Kesepakatan itu memang membuka kembali Selat Hormuz dan memperpanjang gencatan senjata, tetapi belum menghasilkan perjanjian final yang dapat menjawab isu-isu utama yang menjadi sumber konflik selama ini.

Sebaliknya, AS dan Iran kini hanya memiliki waktu 60 hari untuk merundingkan berbagai poin krusial yang masih menggantung.

Melansir BBC, salah satu persoalan terbesar adalah program nuklir Iran. Trump berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan ini menjamin Iran tidak akan pernah membeli, mengembangkan, atau memproduksi senjata nuklir.

Namun isi MoU belum memberikan jaminan tersebut. Untuk saat ini, Iran hanya berkomitmen melakukan downblending atau menurunkan tingkat pengayaan stok uranium berkadar tinggi yang dimilikinya di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Seorang pejabat senior AS menyebut langkah itu sebagai 'significant concession' atau konsesi penting dari Iran.

Meski demikian, belum ada kejelasan mengenai bagaimana proses tersebut akan dilakukan, berapa banyak uranium yang harus dikurangi, maupun tenggat pelaksanaannya. Seluruh detail teknis itu masih harus dinegosiasikan dalam dua bulan ke depan.

Isu lain yang berpotensi memicu perdebatan adalah rencana rekonstruksi Iran. Trump sebelumnya menegaskan bahwa AS tidak akan memberikan dana kepada Teheran.

Namun teks kesepakatan menyebut Washington akan bekerja sama dengan mitra regional untuk menyusun rencana rekonstruksi Iran senilai sedikitnya USD 300 miliar.

Pejabat senior AS menegaskan bahwa kesepakatan itu tidak mewajibkan Amerika mengeluarkan dana secara langsung. Meski demikian, bahasa dalam dokumen tersebut dinilai cukup terbuka sehingga masih memungkinkan adanya kontribusi finansial sebagai bagian dari penyelesaian konflik di masa depan.

Di luar isu nuklir dan pendanaan, sejumlah agenda yang sebelumnya menjadi prioritas Washington juga belum mendapat perhatian rinci dalam kesepakatan ini. Salah satunya adalah dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah, termasuk Hizbullah.

Saat konflik dimulai, Trump menegaskan bahwa menghentikan pendanaan dan dukungan Iran kepada kelompok-kelompok tersebut merupakan salah satu tujuan utama operasi militer AS.

Namun dalam dokumen yang telah dipublikasikan, Hezbollah hanya disebut sekilas tanpa penjelasan lebih lanjut mengenai langkah konkret yang harus dilakukan Iran.

Program rudal Iran juga belum diatur secara detail. Padahal isu tersebut sejak awal menjadi salah satu tuntutan utama AS dan Israel dalam setiap pembicaraan dengan Teheran.

Kondisi itu memicu kritik dari sejumlah politikus Partai Republik. Senator Bill Cassidy dari Louisiana menjadi salah satu yang paling vokal menentang kesepakatan tersebut.

"Ambisi nuklir Iran tidak terkendali, dan mereka telah belajar bahwa mengancam Selat Hormuz berhasil dan tidak diragukan lagi akan memanfaatkannya di masa depan," ujar Cassidy melalui unggahannya di X.

Ia bahkan menyebut langkah yang diambil pemerintahan Trump sebagai kesalahan besar dalam kebijakan luar negeri.

"Ini adalah kesalahan kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade," tambahnya.

Dengan masih banyaknya isu yang belum terselesaikan, kesepakatan yang berlaku saat ini lebih tepat disebut sebagai kerangka awal menuju perundingan yang lebih kompleks.

Bahkan dokumen tersebut membuka peluang perpanjangan tenggat 60 hari apabila kedua pihak belum berhasil mencapai kesepakatan final.

Trump sendiri mengakui bahwa keberhasilan negosiasi lanjutan belum bisa dipastikan. Saat ditanya mengenai kemungkinan tercapainya perdamaian permanen, ia memberikan peringatan yang menunjukkan bahwa opsi militer masih berada di atas meja.

"Jika itu tidak selesai dalam 60 hari, tidak apa-apa. Kita kembali ke pengeboman," kata Trump.

Baca Juga: Trump Ancam AS akan Serang Iran Lagi jika Kesepakatan Damai Dilanggar

Pernyataan itu menegaskan bahwa meskipun kesepakatan damai awal telah tercapai, jalan menuju penyelesaian konflik secara menyeluruh antara Amerika Serikat dan Iran masih panjang dan penuh ketidakpastian. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan