← Beranda
Kesaksian Warga Usai Ledakan Gudang Peledak di Myanmar: Banyak Rumah Hancur dan Korban Berjatuhan
Rian AlfiantoSelasa, 2 Juni 2026 | 02.26 WIB
Pemandangan setelah ledakan di desa Kaung Tat, timur laut Myanmar, 31 Mei 2026 (Al Jazeera)

 

JawaPos.com - Kesaksian memilukan muncul dari lokasi ledakan gudang bahan peledak di wilayah Shan, Myanmar timur laut, yang menewaskan sedikitnya 55 orang. Warga menggambarkan satu desa nyaris musnah setelah ledakan besar mengguncang kawasan yang dikuasai kelompok pemberontak Ta’ang National Liberation Army (TNLA) dekat perbatasan Tiongkok itu.

Ledakan terjadi di Desa Kaung Tat pada Minggu (31/5) siang sekitar pukul 12.00 waktu setempat. Hingga Senin (1/6), proses pencarian korban masih berlangsung di tengah reruntuhan bangunan dan puing-puing yang berserakan.

Jumlah korban tewas dilaporkan mencapai sedikitnya 55 orang menurut warga dan media lokal, sementara banyak korban lainnya mengalami luka-luka. TNLA belum memberikan angka resmi terbaru, tetapi mengakui ledakan tersebut menimbulkan banyak korban jiwa dan kerusakan besar.

Seorang warga bernama Moe Z menjadi saksi langsung kedahsyatan ledakan itu. Ia mengaku berada sekitar 2,4 kilometer dari lokasi ketika dentuman besar terdengar dan asap membentuk awan menyerupai jamur membumbung ke langit.

“Semuanya benar-benar hancur dan tidak bisa dikenali lagi,” kata Moe Z kepada Reuters.

Awalnya, Moe Z mengira wilayah itu diserang lewat serangan udara di tengah konflik sipil Myanmar yang masih berlangsung. Namun, karena tidak ada ledakan lanjutan, ia menduga gudang bahan peledak dalam jumlah besar meledak secara tiba-tiba.

“Dari kekuatan ledakan dan suara yang kami dengar, ini bukan ledakan kecil. Skalanya jauh lebih besar dari bom drone,” ujarnya.

Sekitar satu jam setelah ledakan, Moe Z bersama sejumlah warga tiba di lokasi. Pemandangan yang dilihatnya disebut sangat mengerikan. Banyak tubuh korban dan potongan anggota badan berserakan di area ledakan, sementara sebuah kawah raksasa terlihat di titik penyimpanan bahan peledak.

“Rasanya seperti seluruh desa hilang begitu saja,” katanya.

Seorang jurnalis lokal juga menggambarkan besarnya kerusakan akibat ledakan tersebut. Menurutnya, sebagian korban tertimbun reruntuhan bangunan dalam jumlah besar sehingga alat berat dikerahkan untuk proses evakuasi.

“Lebih dari separuh rumah di desa telah hancur. Rumah-rumah di pusat ledakan benar-benar berkeping-keping sampai tiang rumah pun tidak tersisa,” ujar jurnalis itu.

Dalam pernyataannya, TNLA menyebut bahan peledak yang meledak merupakan stok untuk kegiatan pertambangan. Wilayah Shan memang dikenal kaya sumber daya mineral, termasuk batu ruby dan rare earth yang menjadi sumber pendapatan penting bagi kelompok bersenjata di Myanmar.

Kelompok pemberontak itu juga memastikan investigasi sedang dilakukan untuk mengungkap penyebab ledakan. TNLA berjanji akan memberikan bantuan, layanan kesehatan, dan rehabilitasi bagi warga terdampak.

“Ledakan menyebabkan banyak korban jiwa dan luka-luka di Desa Kaung Tat serta menghancurkan banyak rumah warga,” tulis TNLA sebagaimana diberitakan sebelumnya.

Wilayah tersebut berada di bawah kendali TNLA, salah satu kelompok etnis bersenjata paling kuat di Myanmar. Meski sedang menjalani gencatan senjata dengan militer Myanmar, kawasan itu tetap berada dalam bayang-bayang konflik sejak kudeta militer menggulingkan pemerintahan sipil Aung San Suu Kyi pada 2021.

Perang saudara yang terus berlangsung membuat wilayah Myanmar utara dan timur laut menjadi area rawan bentrokan, serangan udara, hingga ledakan mematikan seperti yang terjadi di Kaung Tat.

EDITOR: Estu Suryowati