← Beranda
Jeff Bezos Pimpin Fase Awal Ambisi Pangkalan Bulan AS, NASA Pilih Blue Origin untuk Tiga Misi Lunar Tanpa Awak
Mellyna Putri DiniarKamis, 28 Mei 2026 | 05.11 WIB
Administrator NASA Jared Isaacman menyampaikan rencana pembangunan pangkalan Bulan dalam konferensi pers di Washington DC (The Guardian)

JawaPos.com - Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) resmi menunjuk Blue Origin, perusahaan antariksa milik pendiri Amazon Jeff Bezos, untuk menjalankan misi pertama dari tiga pendaratan Bulan tanpa awak sepanjang 2026. 

Penugasan itu menjadi fase awal ambisi Amerika Serikat membangun pangkalan permanen di Bulan melalui proyek bernilai USD 20 miliar atau sekitar Rp 357 triliun, dengan kurs Rp 17.850 per dolar AS.

Keputusan itu diumumkan Administrator NASA Jared Isaacman dalam konferensi pers di Washington DC, Selasa waktu setempat. Penunjukan Blue Origin sekaligus menempatkan perusahaan Bezos di garis depan program eksplorasi Bulan Amerika Serikat, mengungguli SpaceX milik Elon Musk pada tahap awal proyek strategis tersebut.

Dilansir dari The Guardian, Isaacman mengatakan keberhasilan misi Artemis II bulan lalu menjadi pemicu percepatan pembangunan pangkalan Bulan. "Orang-orang kembali menengadah ke langit, kembali percaya pada hal-hal besar, dan kembali memperhatikan ketika Amerika kembali ke Bulan, dan kali ini untuk menetap," ujarnya.

Baca Juga: Di Tengah Kritik Ketimpangan, Jeff Bezos Bela Elite Kaya, Dorong Reformasi Pajak, dan Angkat Optimisme AI

Menurut Isaacman, NASA tidak akan langsung membangun habitat permanen di Bulan, "Kami tidak langsung melompat menuju pangkalan Bulan berbentuk kubah kaca. Kami akan menjalankan pendekatan bertahap dengan mengirim lebih banyak wahana pendarat, kendaraan penjelajah, demonstrasi teknologi, serta muatan ilmiah untuk memahami apa yang berhasil dan apa yang tidak," katanya. Dia menambahkan, "Pangkalan Bulan itu indah sekaligus berbahaya."

Misi perdana bertajuk Moon Base One dijadwalkan meluncur paling cepat pada musim gugur 2026. Dalam misi tersebut, Blue Origin akan menggunakan wahana pendarat kargo kriogenik Endurance untuk membawa berbagai instrumen ilmiah milik NASA dan mitra swasta menuju kawasan Shackleton de Gerlache Ridge di kutub selatan Bulan.

NASA menyatakan Blue Origin memperoleh dukungan pendanaan awal sebesar USD 230,4 juta atau sekitar Rp 4,11 triliun untuk mendukung dua misi pertamanya. Meski demikian, sebagian besar pembiayaan operasional tetap ditanggung perusahaan Bezos secara mandiri. Isaacman menyebut misi tersebut akan difokuskan untuk mengurangi risiko bagi sistem pendaratan manusia pada tahap berikutnya.

"Moon Base One akan menjadi misi pendarat Bulan pertama dalam sejarah yang didanai secara privat," kata Isaacman. Dia juga menegaskan Blue Origin dipilih karena "peran penting perusahaan itu dalam program Artemis," program utama NASA untuk mengembalikan manusia ke Bulan setelah lebih dari lima dekade.

Di sisi lain, persaingan antara Blue Origin dan SpaceX diperkirakan semakin intensif menjelang evaluasi sistem pendaratan manusia untuk misi Artemis berikutnya. NASA berencana menguji sistem Starship Human Landing System milik SpaceX dan wahana Blue Moon milik Blue Origin dalam misi Artemis III di orbit rendah Bumi tahun depan sebelum menentukan mitra utama untuk misi Artemis IV pada 2028.

Menurut laporan Reuters, NASA juga mengumumkan kontrak baru bagi sejumlah perusahaan swasta lain dalam proyek eksplorasi Bulan-ke-Mars. Lunar Outpost dan Astrolab dipilih untuk pengembangan kendaraan penjelajah Bulan, sementara Firefly Aerospace akan mengembangkan wahana pengangkut nirawak untuk eksplorasi permukaan Bulan pada 2028.

Selain menjadi proyek teknologi, pembangunan pangkalan Bulan turut memperlihatkan meningkatnya dimensi geopolitik dalam persaingan antariksa global. Pemerintahan Presiden Donald Trump menjadikan program Artemis sebagai bagian dari strategi mempercepat kembalinya Amerika Serikat ke Bulan sebelum Tiongkok mencapai target serupa, termasuk melalui pembangunan pangkalan yang dapat dihuni secara permanen dan pengembangan reaktor nuklir antariksa.

Isaacman menegaskan proyek tersebut bukan sekadar eksplorasi luar angkasa, melainkan investasi teknologi jangka panjang bagi masa depan manusia. "Kami pergi ke sana demi teknologi yang akan kami ciptakan, ilmu pengetahuan yang akan kami pelajari, dan semua hal yang dapat membuat kehidupan di Bumi menjadi lebih baik," ujarnya. "Dan yang paling penting, untuk menguasai kemampuan menuju tempat berikutnya yang pada akhirnya akan menjadi tujuan umat manusia."

Baca Juga: Keluarga Jeff Bezos Gelontorkan Rp 1,75 Triliun untuk Dukung Janji Zohran Mamdani soal Pendidikan Anak Gratis di New York

EDITOR: Candra Mega Sari