← Beranda
Aktivis Flotilla Gaza Bentrok dengan Polisi di Bandara Spanyol, Israel Tuduh Madrid Munafik
Rian AlfiantoSelasa, 26 Mei 2026 | 01.10 WIB
Petugas Ertzaintza menyerang para aktivis di Bandara Bilbao, Spanyol, pada tanggal 23 April 2026. (RTVE)

JawaPos.com - Kepulangan aktivis kemanusiaan dari misi bantuan Gaza memicu kericuhan di Bandara Bilbao, Spanyol. Bentrokan antara polisi Basque dan pendukung Global Sumud Flotilla berujung pemukulan, aksi saling dorong, hingga empat orang ditangkap.

Insiden itu kini melebar menjadi polemik diplomatik antara Israel, Spanyol, dan sejumlah negara Eropa.

Kerusuhan terjadi Sabtu (23/5) waktu setempat saat enam anggota flotilla tiba di Bilbao setelah dideportasi dari Israel. Mereka sebelumnya ditahan ketika mencoba menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza melalui jalur laut.

Baca Juga: Industri Vape Legal Terdampak Isu Narkoba, Pekerja dan UMKM Mengaku Jadi Korban Stigma

Menurut kepolisian Basque atau Ertzaintza, keributan pecah ketika para aktivis dan pendukung mereka dianggap menghalangi salah satu akses keluar area kedatangan bandara saat sesi foto media berlangsung. Polisi kemudian membubarkan kerumunan karena menilai pagar pengamanan dilanggar.

Dilansir dari Euronews, situasi dengan cepat memanas. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan polisi membanting sejumlah aktivis ke lantai sebelum memborgol mereka. Empat orang akhirnya diamankan dengan tuduhan melawan petugas, pembangkangan serius, dan menyerang aparat.

Kepulangan kelompok ini sendiri sempat tertunda sehari setelah dua aktivis harus dirawat di rumah sakit akibat cedera yang disebut terjadi saat mereka dicegat pasukan Israel di tengah perjalanan menuju Gaza.

Baca Juga: Sering Terjebak dalam Rasa Malas dan Kebiasaan Menunda-nunda? Berikut 4 Cara Ampuh untuk Kembali Disiplin

Israel Serang Balik Spanyol: Tuduh Bersikap Hipokrit

Insiden di Bilbao langsung dimanfaatkan Israel untuk menyerang balik pemerintah Spanyol yang selama ini vokal mengkritik blokade Gaza.

Kementerian Luar Negeri Israel memanggil Charge d’Affaires Kedutaan Besar Spanyol di Tel Aviv, Francisca Pedros, atas instruksi Menteri Luar Negeri Gideon Sa’ar. Dalam pertemuan itu, Direktur Politik Kementerian Luar Negeri Israel, Yossi Amrani, menuding Spanyol bersikap tidak konsisten.

Israel menilai Madrid mengirim aktivis menuju wilayah blokade Gaza dan mengecam tindakan Israel, namun di saat bersamaan aparat Spanyol sendiri disebut menggunakan kekerasan terhadap para aktivis yang sama.

Pernyataan itu muncul setelah rekaman bentrokan di Bandara Bilbao ramai beredar di media sosial dan memicu perdebatan publik di Eropa.

Salah satu aktivis asal Spanyol, Santiago Gonzalez Vallejo, mengaku mengalami perlakuan keras selama ditahan otoritas Israel sebelum akhirnya dideportasi.

Dalam wawancara dengan RTVE, Gonzalez mengatakan tindakan kekerasan terhadap mereka terus meningkat selama masa penahanan.

Baca Juga: Ruud Gullit Sebut Mikel Arteta Mencuri Sistem Pep Guardiola

“Itamar Ben Gvir mengatakan kepada kami bahwa Palestina maupun Gaza tidak ada dan menyebut kami teroris,” kata González.

Ia juga mengaku mengalami pemukulan, teknik penahanan yang menyakitkan, hingga penghentian obat-obatan miliknya. Menurutnya, beberapa rekannya masih dirawat di rumah sakit dengan luka serius.

Tim kuasa hukum para aktivis menyebut sejumlah peserta flotilla mengalami dugaan patah tulang rusuk dan gangguan pernapasan setelah operasi penahanan berlangsung.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Aquarius Besok, Selasa 26 Mei 2026: Ide Cemerlang Membawa Keberuntungan, Asmara dan Karier yang Menjanjikan

Koalisi penyelenggara Global Sumud Flotilla kini mempertimbangkan langkah hukum terkait dugaan penahanan sewenang-wenang dan perlakuan tidak manusiawi selama proses penangkapan.

Meski demikian, berbeda dengan situasi di Bilbao, kedatangan sekitar 20 aktivis lainnya di Bandara Barcelona-El Prat berlangsung tanpa insiden.

Sekitar 200 pendukung menyambut mereka dengan bendera Palestina dan spanduk dukungan. Sejumlah politisi lokal dan pejabat publik juga hadir memberi dukungan terhadap misi kemanusiaan tersebut.

Para aktivis itu diketahui ditangkap lima hari sebelumnya di perairan internasional saat menuju Gaza membawa bantuan kemanusiaan.

Selain itu, kontroversi flotilla Gaza kini juga memicu dampak diplomatik yang lebih luas di Eropa.

Prancis resmi melarang Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir memasuki wilayahnya. Paris menilai tindakan Ben Gvir terhadap aktivis Eropa yang ditahan dalam operasi flotilla sebagai sesuatu yang 'tidak dapat diterima'.

Pemerintah Prancis menyoroti video yang memperlihatkan aktivis dalam posisi terikat dan berlutut, sementara Ben Gvir tampak berada di lokasi.

Baca Juga: Degradasi ke Championship Musim Depan, Jarrod Bowen Bertekad Bawa West Ham United Kembali ke Liga Inggris

Menteri Luar Negeri Prancis menegaskan negaranya memang tidak mendukung misi flotilla tersebut, namun tetap menolak segala bentuk intimidasi atau perlakuan kasar terhadap warga Eropa.

Prancis bersama Italia bahkan disebut akan mendorong pembahasan sanksi tingkat Uni Eropa terhadap pejabat Israel tersebut.

Ketegangan terbaru ini menambah daftar panjang kritik internasional terhadap penanganan Israel terhadap aktivis asing yang mencoba menembus blokade Gaza di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburuk.

EDITOR: Bintang Pradewo