JawaPos.com - Gelombang kecaman internasional mengalir setelah Rusia meluncurkan serangan besar-besaran ke Kyiv menggunakan rudal hipersonik Oreshnik, drone, dan rudal jelajah yang menewaskan sedikitnya empat orang serta melukai puluhan warga sipil.
Sejumlah pemimpin Eropa menilai langkah Moskow sebagai eskalasi berbahaya yang memperburuk peluang perdamaian dalam perang Rusia-Ukraina.
Uni Eropa, Jerman, hingga Prancis secara terbuka mengecam penggunaan rudal balistik hipersonik Oreshnik oleh Rusia.
Senjata tersebut sebelumnya diklaim Presiden Rusia Vladimir Putin hampir mustahil dicegat karena kecepatannya yang melebihi 10 kali kecepatan suara.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menuding Rusia sengaja meneror warga sipil setelah menghadapi kebuntuan di medan perang.
“Rusia menemui jalan buntu di medan perang, sehingga mereka meneror Ukraina dengan serangan sengaja ke pusat-pusat kota. Ini adalah tindakan teror yang menjijikkan dan dimaksudkan untuk membunuh sebanyak mungkin warga sipil,” tulis Kallas di platform X.
Ia juga memastikan para Menteri Luar Negeri Uni Eropa akan membahas peningkatan tekanan internasional terhadap Rusia dalam agenda pertemuan pekan depan.
Baca Juga: Crab Rangoon: Crispy di Luar, Creamy di Dalam
Jerman Sebut Rusia Lakukan Eskalasi Serampangan
Kanselir Jerman Friderich Merz juga mengecam keras serangan Rusia yang menghantam Kyiv dan wilayah sekitarnya pada Minggu dini hari. Menurutnya, penggunaan rudal hipersonik menunjukkan Rusia semakin agresif dalam memperluas eskalasi perang.
“Saya mengecam keras eskalasi sembrono ini,” kata Merz.
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul juga menyebut penggunaan rudal Oreshnik sebagai perkembangan yang mengkhawatirkan dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun itu.
“Serangan rudal Rusia sangat mengejutkan. Penggunaan Oreshnik menandai eskalasi lebih lanjut,” tulis Wadephul di X.
Prancis: Rusia Semakin Menjauh dari Perdamaian
Baca Juga: LAFC Akhiri Tren Buruk, Bungkam Seattle Sounders Lewat Gol Dramatis Timothy Tillman
Presiden Prancis Emmanuel Macron menilai penggunaan rudal hipersonik oleh Rusia menunjukkan kebuntuan strategi perang Moskow sekaligus memperkecil peluang penyelesaian damai.
“Prancis mengutuk serangan ini dan penggunaan rudal balistik Oreshnik, yang di atas segalanya menandakan bentuk eskalasi dan kebuntuan perang agresi Rusia,” ujar Macron.
Serangan Rusia kali ini juga memicu kekhawatiran baru terkait potensi penggunaan senjata berteknologi tinggi secara lebih masif di medan perang Ukraina.
Rusia Sebut Serangan sebagai Balasan
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim serangan tersebut merupakan respons atas serangan drone Ukraina di wilayah pendudukan Rusia di Ukraina timur yang menewaskan sedikitnya 18 orang.
Dalam pernyataannya, Moskow menyebut mereka meluncurkan kombinasi rudal Oreshnik, Iskander, Kinzhal, Tsirkon, dan ratusan drone ke sejumlah target di Ukraina.
Menurut Angkatan Udara Ukraina, Rusia menyerang menggunakan sekitar 600 drone dan 90 rudal dari udara, laut, serta darat. Sistem pertahanan udara Ukraina diklaim berhasil mencegat sebagian besar serangan, namun kerusakan tetap terjadi di puluhan titik di Kyiv.
Penggunaan Oreshnik Jadi Sorotan Dunia
Ini merupakan ketiga kalinya Rusia menggunakan rudal hipersonik Oreshnik sejak perang dimulai. Penggunaan senjata tersebut langsung menjadi perhatian dunia internasional karena dinilai memperlihatkan peningkatan intensitas dan kompleksitas serangan Rusia.
Koresponden Al Jazeera di Kyiv, Audrey MacAlpine, mengatakan penggunaan Oreshnik biasanya bukan sekadar operasi militer, tetapi juga pesan politik dari Kremlin.
“Setiap kali Rusia mengirimkan Oreshnik, biasanya mereka sedang mencoba menyampaikan pesan,” ujarnya.
MacAlpine menilai serangan terbaru ini menunjukkan kedua pihak kini bergerak menuju eskalasi lebih besar dibanding upaya perdamaian.