← Beranda
Jepang Dorong Gaya Hidup Minim Sampah, Kompos Rumahan Jadi Tren Baru
Dhimas GinanjarMinggu, 24 Mei 2026 | 17.43 WIB
Penghuni apartemen di Tokyo menunjukkan kontainer untuk membuat kompos. Ini menjadi tren baru di Jepang. (Kyodo)

 
JawaPos.com – Sampah dapur di Jepang mulai dipandang bukan sebagai limbah, melainkan sumber daya. Tren kompos rumahan kini tumbuh, termasuk di apartemen kota yang sempit.

Seperti dilansir Kyodo, Minggu (24/5), sistem kompos berukuran kecil makin diminati warga Jepang. Pendorongnya adalah gaya hidup berkelanjutan dan kesadaran untuk mengurangi sampah rumah tangga.

Dulu, membuat kompos identik dengan halaman luas dan proses yang merepotkan. Kini, modelnya jauh lebih praktis.

Ada sistem berbentuk kotak kecil hingga tas kompos yang bisa dipakai di ruang terbatas. Bahkan penghuni apartemen di Tokyo mengaku hanya membuang sampah bakar sekali setiap dua minggu setelah memakai sistem ini.

Seorang warga di Distrik Suginami mengatakan sisa minyak goreng dan kuah ramen pun bisa masuk ke kompos. Menurutnya, melihat sampah makanan “menghilang” justru memberi kepuasan tersendiri.

Salah satu sistem yang populer bernama Kiero. Teknologi ini memanfaatkan mikroorganisme dalam tanah untuk mengurai limbah makanan hampir sepenuhnya.

Berbeda dari metode kompos biasa, tanahnya nyaris tidak perlu diganti. Selama proses penguraian berjalan baik, volumenya tetap stabil.

Namun ada tantangan. Saat musim dingin, proses penguraian melambat karena aktivitas mikroorganisme menurun.

Tren ini juga menciptakan pasar baru. Toko khusus kompos bahkan mulai bermunculan di Tokyo.

Salah satu produk Kiero untuk rumah tangga kecil dijual 16.500 yen atau sekitar Rp 1,83 juta (1 yen sekitar Rp 111). Ada juga model berbentuk tas seharga 6.600 yen atau sekitar Rp 732 ribu (1 yen sekitar Rp 111).

Pemerintah daerah ikut mendorong tren ini. Sejumlah kota di Jepang mulai mempromosikan pengolahan sampah makanan untuk menekan volume sampah rumah tangga.

Namun, masih ada kritik. Sebagian subsidi pemerintah hanya berlaku untuk mesin pengolah sampah listrik, bukan sistem kompos manual yang justru dianggap lebih ramah lingkungan.

Penulis buku Easy Compost Life, Yuichiro Hattori, menilai kebiasaan ini mengubah cara orang memandang sampah. Menurutnya, ketika orang mengelola limbahnya sendiri, pola hidup mereka ikut berubah.

EDITOR: Dhimas Ginanjar