← Beranda
Hutan Hujan Tropis Dunia di Titik Kritis: Permintaan Mineral, Biofuel, dan Industri Konsumsi Global Picu Gelombang Deforestasi Baru
Mellyna Putri DiniarKamis, 21 Mei 2026 | 00.54 WIB
Tampilan drone menunjukkan tambang bijih besi terbesar di dunia di tengah kawasan hutan hujan Carajás, Taman Nasional Carajás, negara bagian Pará, Brasil, di jantung Amazon (The Guardian)

JawaPos.com - Hutan hujan tropis dunia kian menghadapi tekanan multidimensional seiring lonjakan kebutuhan global terhadap mineral kritis, biofuel, pulp kayu, hingga bahan baku industri teknologi dan e-commerce.

Di tengah percepatan transisi energi bersih dan ekspansi ekonomi digital yang digerakkan korporasi teknologi global, laporan terbaru memperingatkan bahwa hutan Amazon, Cekungan Kongo, dan Asia Tenggara kini mendekati ambang keruntuhan ekologis yang dapat mengganggu stabilitas iklim dunia.

Tekanan tersebut tidak lagi hanya datang dari pembukaan lahan peternakan sapi, pertambangan emas, pembalakan liar, dan perkebunan monokultur. Kini, kebutuhan baru untuk baterai kendaraan listrik, kemasan industri daring, viscose untuk fast fashion, hingga biofuel penerbangan ikut mempercepat degradasi hutan tropis yang selama ini berfungsi sebagai penyerap karbon, pengatur suhu global, dan rumah bagi keanekaragaman hayati dunia.

Dilansir dari The Guardian, Rabu (20/5/2026), laporan yang disusun organisasi riset Belanda Profundo dan dipesan Rainforest Foundation Norway menyebut ekstraksi sumber daya hutan hujan telah "mendorong Amazon dan bioma serupa menuju titik kehancuran." Laporan itu menegaskan bahwa kebutuhan baru terhadap mineral kritis, biofuel, dan pulp memperparah tekanan lama dari peternakan sapi, pertanian monokultur, minyak, serta penebangan hutan.

Baca Juga: Filantropi Global Jeff Bezos Dorong Perlindungan Laut Pasifik Tropis Timur, Dana Rp407 Miliar Digelontorkan

"Inilah tekanan yang tidak mampu lagi ditahan hutan hujan dunia," kata Ingrid Turgen dari Rainforest Foundation Norway. "Pesan utama kami adalah akumulasi tekanan ini—yang datang bertumpuk satu sama lain—kini memengaruhi seluruh kawasan hutan hujan utama dunia, yakni Amazon, Kongo, dan Asia Tenggara. Jika pemerintah tidak bertindak, maka kawasan seperti Amazon menghadapi skenario yang sangat suram," tambahnya.

Laporan tersebut menunjukkan ancaman terbesar masih berasal dari peternakan sapi, pertanian industri, dan pertambangan emas. Pemerintah Brasil diperkirakan akan meningkatkan produksi daging sapi sebesar 10,2 persen hingga 2034, yang diproyeksikan memicu deforestasi sedikitnya 57.000 kilometer persegi di Amazon. Secara global, produksi daging dunia juga diperkirakan naik 13 persen seiring pertumbuhan populasi dan konsumsi.

Selain itu, pertambangan emas terbuka kini telah mencakup sekitar 1,9 juta hektare kawasan Amazon. Permintaan emas untuk perhiasan yang menyumbang 43 persen konsumsi global, sektor teknologi sebesar 7 persen, serta cadangan investor dan bank sentral disebut menjadi faktor utama. Laporan itu juga menemukan korelasi kuat antara kenaikan harga emas dan laju deforestasi di Amazon Brasil.

Di sisi lain, eksplorasi minyak, gas, dan batu bara juga terus memperluas kerusakan hutan tropis. Amazon kini menjadi salah satu frontier bahan bakar fosil dengan pertumbuhan tercepat melalui aktivitas eksplorasi di Brasil, Suriname, Ekuador, Kolombia, dan Peru. Hampir seperlima cadangan minyak dan gas alam dunia yang ditemukan sepanjang 2022 hingga 2024 berada di kawasan hutan hujan Amerika Selatan dan wilayah lepas pantainya.

Tekanan baru juga datang dari kebutuhan mineral kritis seperti litium, nikel, dan kobalt untuk baterai kendaraan listrik serta teknologi energi bersih. Laporan memperkirakan deforestasi kumulatif yang terkait rantai pasok kendaraan listrik global dapat mencapai 1.500 hingga 4.700 kilometer persegi pada 2050. Meski secara persentase masih di bawah 1 persen dari total deforestasi global, dampak sekundernya dinilai jauh lebih besar karena tambang memicu pencemaran air, pembangunan jalan, dan ekspansi permukiman hingga radius 50 kilometer.

"Dampak kumulatif pertambangan terhadap kawasan hutan kemungkinan besar telah diremehkan selama bertahun-tahun," ujar Veera Mo dari Rainforest Foundation Norway.

Sementara itu, penulis utama laporan, Barbara Kuepper, menegaskan bahwa pengurangan konsumsi sumber daya tidak dapat dihindari. "Tidak diragukan lagi bahwa daur ulang dibutuhkan, tetapi itu tidak akan cukup membantu. Penggunaan sumber daya global sudah terlalu besar," katanya.

Laporan tersebut juga menyoroti ironi ekonomi hijau global. Biofuel yang dipromosikan sebagai alternatif ramah lingkungan untuk penerbangan dan pelayaran justru berpotensi mempercepat pembukaan hutan untuk kedelai, sawit, lemak hewani, dan etanol. 

Pada saat yang sama, meningkatnya popularitas viscose dalam industri fast fashion dan lonjakan kebutuhan kemasan kertas untuk e-commerce memperbesar tekanan terhadap hutan Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Dalam konteks ini, transisi menuju ekonomi hijau dinilai belum sepenuhnya mengurangi eksploitasi alam, melainkan hanya mengubah bentuk permintaannya.

Baca Juga: Kulit Tropis Lebih Rentan Flek? Ini Penjelasan Dokter soal Hiperpigmentasi dan Cara Menanganinya

EDITOR: Candra Mega Sari