← Beranda
Chaos Politik Filipina: Sekutu Duterte Buron ICC Ronald dela Rosa Berlindung di Senat saat Krisis Kekuasaan Memanas
Mellyna Putri DiniarRabu, 13 Mei 2026 | 01.20 WIB
Ronald dela Rosa terekam kamera keamanan saat berupaya menghindari penangkapan terkait kasus ICC / Foto: (The Guardian)

JawaPos.com — Situasi politik Filipina kembali memanas setelah mantan kepala kepolisian nasional Filipina, Ronald dela Rosa, memilih berlindung di kompleks senat untuk menghindari penangkapan terkait kasus dugaan kejahatan kemanusiaan di Mahkamah Pidana Internasional atau International Criminal Court (ICC). 

Langkah tersebut memicu kekacauan di Manila dan memperlihatkan semakin dalamnya konflik politik antara keluarga Duterte dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr..

Ronald dela Rosa diketahui merupakan sekutu dekat mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte dan pernah menjabat sebagai kepala kepolisian saat perang antinarkoba dilancarkan secara agresif di bawah pemerintahan Duterte. Dalam kasus ICC, dela Rosa disebut sebagai salah satu pihak yang turut bertanggung jawab atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait operasi antinarkoba yang menyebabkan ribuan orang tewas.

Dilansir dari The Guardian, Selasa (12/5/2026), situasi dramatis itu terekam kamera CCTV di dalam gedung senat Filipina. Dela Rosa terlihat berlari melewati lorong-lorong gedung parlemen hingga sempat tersandung di tangga ketika aparat pemerintah berusaha mendekatinya. 

Dalam siaran langsung Facebook, dela Rosa menyatakan dirinya terancam dibawa ke Den Haag untuk diserahkan kepada ICC. “Mereka ingin membawa saya secara paksa ke Den Haag untuk diserahkan ke sana,” ujarnya sambil meminta dukungan publik.

ICC pada Senin (11/5) malam mengonfirmasi telah menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap dela Rosa. Surat perintah tersebut sebenarnya telah dikeluarkan secara rahasia sejak November tahun lalu. Namun, laporan mengenai kemungkinan penangkapannya terus beredar dalam beberapa bulan terakhir sehingga dela Rosa dikabarkan menghindari aktivitas di senat dalam waktu cukup lama.

Meski demikian, ia memutuskan hadir dalam sidang senat pada Senin ketika Alan Peter Cayetano terpilih sebagai presiden senat baru. Cayetano, yang juga dikenal sebagai sekutu keluarga Duterte, kemudian menawarkan “perlindungan sementara” bagi dela Rosa di lingkungan senat. Ia bahkan menegaskan bahwa penangkapan hanya dapat dilakukan apabila terdapat keputusan dari pengadilan Filipina. Dela Rosa sendiri selama ini membantah seluruh tuduhan pelanggaran hukum yang diarahkan kepadanya.

Situasi di kompleks parlemen pun berubah semakin tegang pada malam hari. Aparat pengendali massa dikerahkan untuk menjaga area gedung senat, sementara kawat berduri dipasang di sekitar kompleks parlemen. Sementara itu, National Union of Journalists of the Philippines menyampaikan pernyataan resmi yang meminta semua pihak menahan diri setelah sejumlah pekerja media dilaporkan sempat dilarang keluar maupun masuk area kompleks parlemen.

Kekacauan tersebut terjadi bersamaan dengan keputusan DPR Filipina yang meloloskan pemakzulan terhadap Wakil Presiden Filipina Sara Duterte, putri mantan Presiden Rodrigo Duterte. Perkembangan ini semakin memperjelas memburuknya hubungan politik antara keluarga Duterte dan Presiden Ferdinand Marcos Jr..

Padahal, Marcos Jr. dan Sara Duterte sebelumnya merupakan pasangan politik yang memenangkan pemilu 2022 melalui koalisi besar. Namun hubungan keduanya memburuk dalam waktu singkat dan berkembang menjadi konflik terbuka, terutama setelah Rodrigo Duterte ditangkap di Manila tahun lalu sebelum diterbangkan ke Den Haag untuk menghadapi proses hukum ICC.

Kasus pemakzulan Sara Duterte kini akan dibawa ke senat untuk menjalani persidangan politik. Ia menghadapi tuduhan penyalahgunaan dana publik, akumulasi kekayaan yang tidak dapat dijelaskan secara transparan, serta ancaman terhadap keselamatan presiden dan ibu negara Filipina. Apabila dinyatakan bersalah, Sara Duterte dapat dilarang menduduki jabatan publik, sekaligus menghancurkan peluangnya maju dalam pemilihan presiden Filipina 2028.

Namun posisi keluarga Duterte di senat dinilai masih cukup kuat. Sara Duterte hanya membutuhkan dukungan sembilan senator untuk menghindari pemakzulan. Analis politik dari University of the Philippines Diliman, Jean Encinas-Franco, mengatakan dominasi politik keluarga Duterte di senat dapat memengaruhi jalannya persidangan. 

“Jika mereka memiliki mayoritas pendukung di senat, maka mereka bisa menentukan apakah sebagian bukti akan dimunculkan atau tidak dalam persidangan tersebut. Mereka juga bisa menentukan apakah saksi tertentu diizinkan hadir atau tidak,” ujarnya.

Di tengah tekanan hukum dan politik yang terus membesar, Sara Duterte masih memimpin sejumlah survei opini publik nasional. Baik Sara Duterte maupun Rodrigo Duterte sama-sama membantah melakukan pelanggaran hukum. Namun keluarga korban perang antinarkoba terus mendesak agar Ronald dela Rosa segera diserahkan kepada ICC. 

Salah satunya datang dari Llore Pasco, ibu yang kehilangan dua anak laki-lakinya dalam operasi antinarkoba. “Dia memainkan peran besar dalam menjalankan perang berdarah Duterte terhadap narkoba,” katanya. Menurut Pasco, seperti halnya Rodrigo Duterte, dela Rosa juga “layak dipenjara dan dimintai pertanggungjawaban.”

EDITOR: Setyo Adi Nugroho