JawaPos.com – Warga Iran menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat akibat lonjakan inflasi pangan di tengah situasi perang yang masih berlangsung.
Dilansir dari laman Al-Jazeera pada Senin (11/5), Kenaikan harga kebutuhan pokok membuat banyak rumah tangga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut diperparah oleh pelemahan nilai mata uang nasional dan meningkatnya tekanan terhadap perekonomian domestik.
Data terbaru menunjukkan inflasi pangan di Iran mengalami peningkatan jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi umum nasional. Sejumlah bahan pokok tercatat mengalami kenaikan harga secara drastis sehingga semakin membebani masyarakat berpenghasilan rendah.
Baca Juga: Timnas Iran Akan Main di Piala Dunia 2026 jika FIFA Penuhi 10 Poin Ultimatum Ini
Situasi ini membuat sebagian besar warga harus mengalokasikan penghasilan mereka untuk kebutuhan makanan dasar.
Beberapa komoditas utama bahkan mengalami lonjakan harga hingga berkali-kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Harga minyak goreng, beras, serta daging unggas menjadi salah satu kebutuhan yang mengalami peningkatan paling tajam. Kenaikan tersebut menyebabkan masyarakat semakin sulit mempertahankan pola konsumsi seperti sebelumnya.
Sejumlah warga di Teheran mengaku mulai mengurangi pembelian barang kebutuhan karena harga yang terus meningkat. Mereka menilai kemampuan membeli kebutuhan pokok semakin menurun dibandingkan beberapa bulan lalu.
Kondisi tersebut tidak hanya dirasakan kelompok tertentu, tetapi juga menyebar ke berbagai lapisan masyarakat.
Pemerintah Iran menyatakan telah menyiapkan langkah bantuan melalui subsidi tunai dan kupon elektronik untuk pembelian kebutuhan pokok. Akan tetapi, nilai bantuan yang diberikan dinilai masih terbatas jika dibandingkan dengan tingginya kenaikan harga pangan.
Di sisi lain, pemerintah juga berupaya menindak dugaan penimbunan barang dan praktik penetapan harga yang dianggap tidak wajar.
Situasi ekonomi Iran semakin tertekan akibat dampak perang, blokade, serta pelemahan nilai tukar mata uang rial terhadap dolar Amerika Serikat.
Penurunan nilai mata uang membuat biaya impor meningkat sehingga berdampak langsung terhadap harga kebutuhan pokok di dalam negeri. Kondisi ini turut memperbesar tekanan terhadap rumah tangga yang sudah terdampak inflasi tinggi.
Di tengah memburuknya situasi ekonomi, pemerintah Iran terus mendorong masyarakat untuk menjaga persatuan selama masa konflik berlangsung.
Namun, kombinasi antara perang, inflasi pangan, dan ketidakstabilan ekonomi disebut semakin memperbesar kekhawatiran warga terhadap masa depan kesejahteraan mereka. Sejumlah pelaku usaha juga mengaku mengalami tekanan berat akibat situasi ekonomi yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.