← Beranda
Kapal Perang Prancis Bergerak Menuju Selat Hormuz untuk Persiapan Misi Pertahanan
Risma Azzah FatinJumat, 8 Mei 2026 | 04.09 WIB
Kapal induk Prancis Charles de Gaulle di lepas pantai pulau Kreta, Yunani (al-Jazeera)

 

JawaPos.com – Pemerintah Prancis mengerahkan kapal perang menuju Selat Hormuz sebagai persiapan kemungkinan misi pertahanan multinasional.

Dilansir dari laman Al-Jazeera pada Kamis (7/5), Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Selat Hormuz diketahui menjadi salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan minyak dunia.

Kapal induk bertenaga nuklir Charles de Gaulle dilaporkan bergerak menuju selatan Terusan Suez dan Laut Merah. Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis menyebut pengerahan itu bertujuan mendukung upaya pemulihan keamanan navigasi internasional.

Sebelum konflik memanas, sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melintasi Selat Hormuz setiap harinya.

Presiden Emmanuel Macron bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer disebut memimpin inisiatif multinasional tersebut. Kedua pemimpin Eropa itu menegaskan bahwa misi yang dirancang bersifat defensif dan bukan bagian dari pihak yang berperang. Operasi tersebut juga direncanakan baru akan dijalankan setelah konflik berakhir.

Macron menyatakan pemulihan keamanan di Selat Hormuz dapat membantu mengembalikan kepercayaan pemilik kapal dan perusahaan asuransi internasional.

Macron juga menegaskan bahwa misi tersebut berbeda dari operasi militer negara-negara yang sedang terlibat perang. Menurut Macron, kebebasan navigasi menjadi faktor penting bagi stabilitas perdagangan global.

Selain itu, Macron diketahui melakukan pembicaraan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengenai kondisi kawasan. Ia juga berencana membahas persoalan tersebut dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Macron menilai ketenangan di Selat Hormuz dapat membuka jalan bagi kemajuan negosiasi nuklir dan keamanan regional.

Prancis kemudian menawarkan skema yang disebut dapat menguntungkan Iran maupun Amerika Serikat.

Dalam usulan tersebut, Iran akan diberikan akses pelayaran di Selat Hormuz dengan syarat bersedia melanjutkan negosiasi mengenai program nuklir dan rudal balistik. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat diminta mencabut blokade di kawasan tersebut.

Di sisi lain, Iran menyatakan masih meninjau proposal yang diajukan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik.

Donald Trump sebelumnya mengisyaratkan adanya perkembangan positif dalam proses negosiasi tersebut. Namun, ia juga memperingatkan kemungkinan melanjutkan serangan apabila Iran menolak proposal yang diajukan Washington.

Laporan sejumlah media internasional menyebut kedua pihak hampir mencapai kesepakatan terkait memorandum perdamaian. Dalam rancangan kesepakatan itu, Iran disebut akan menghentikan pengembangan senjata nuklir dan membatasi pengayaan uranium selama beberapa tahun.

Sebagai balasannya, Amerika Serikat dikabarkan akan mencabut sanksi serta membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.

EDITOR: Novia Tri Astuti