JawaPos.com — Amerika Serikat (AS) dan Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan sejumlah serangan yang mereka atribusikan kepada Iran di kawasan Teluk. Perkembangan ini terjadi bersamaan dengan operasi militer Amerika Serikat yang bergerak untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu rute paling strategis dalam perdagangan energi global.
Militer AS menyatakan telah menembaki pasukan Iran dan menenggelamkan enam kapal kecil yang disebut menyerang kapal sipil. Aksi itu dilakukan saat upaya pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz berlangsung pada hari Senin.
Melansir France24, Selasa (5/5), militer AS juga mengonfirmasi bahwa dua kapal dagang berbendera AS berhasil melintasi Selat Hormuz pada hari yang sama sebagai bagian dari inisiatif pelayaran baru yang dikawal ketat oleh militer.
Di sisi lain, Uni Emirat Arab melaporkan bahwa, untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata yang diberlakukan pada awal April, wilayahnya kembali menjadi sasaran serangan yang dikaitkan dengan Iran. Kementerian Pertahanan UEA menyebut sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 15 rudal dan empat drone yang diluncurkan ke wilayahnya.
Lebih lanjut, Otoritas di Emirat Fujairah, Uni Emirat Arab, menyebut satu drone memicu kebakaran di fasilitas minyak strategis yang mengakibatkan tiga warga negara India terluka. Tak hanya itu, militer Inggris melaporkan dua kapal kargo terbakar di perairan sekitar UEA, menambah daftar insiden yang terjadi di kawasan tersebut.
Sementara itu, pihak Iran tidak memberikan konfirmasi langsung terkait serangan yang dituduhkan. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan melalui platform X bahwa Amerika Serikat dan UEA “harus berhati-hati agar tidak terseret kembali ke dalam situasi yang lebih rumit,” tanpa merinci lebih lanjut insiden yang dimaksud.
Selain itu, media pemerintah Iran juga mengutip pejabat militer anonim yang menyatakan bahwa Teheran tidak memiliki rencana untuk menargetkan UEA atau fasilitas minyaknya. Dalam penjelasan tersebut, pihaknya justru menuding bahwa insiden yang terjadi merupakan dampak dari “manuver militer Amerika Serikat” dalam upaya membuka jalur yang dianggap tidak sah di Selat Hormuz.
Di sisi lain, Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Oleh karena itu, wilayah ini menjadi rute utama ekspor minyak dari negara-negara produsen di Timur Tengah, sehingga gangguan di kawasan tersebut berdampak langsung pada harga energi global serta stabilitas pasar internasional.
Sejalan dengan perkembangan itu, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) melalui Laksamana Brad Cooper menyatakan bahwa pasukan AS berhasil membuka jalur aman yang bebas dari ranjau laut. Ia menegaskan bahwa seluruh ancaman terhadap kapal sipil telah ditangani, termasuk serangan rudal, drone, dan kapal kecil yang diluncurkan ke arah kapal dagang.
Lebih lanjut, Cooper menambahkan bahwa pasukan di lapangan memiliki kewenangan penuh untuk melindungi kapal dagang sipil. Ia juga menegaskan bahwa seluruh ancaman yang terdeteksi dalam operasi tersebut berhasil digagalkan oleh kekuatan militer yang dikerahkan di kawasan.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut operasi tersebut sebagai bagian dari inisiatif “Project Freedom” yang bertujuan membuka kembali jalur pelayaran dan membantu kapal-kapal yang terjebak di kawasan Teluk. Ia juga memperingatkan bahwa setiap upaya mengganggu jalur tersebut akan direspons dengan tindakan militer.
Di sisi regional, UEA mengecam keras serangan yang mereka sebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara dan mendesak penghentian segera seluruh aksi yang terjadi. Sebagai dampaknya, peringatan keamanan udara juga sempat dikeluarkan, yang menyebabkan sejumlah penerbangan komersial dialihkan atau kembali ke bandara asal.
Selain itu, di Oman, laporan media pemerintah menyebutkan adanya serangan di dekat Selat Hormuz yang menyebabkan dua pekerja asing terluka serta sejumlah fasilitas mengalami kerusakan. Sementara itu, Korea Selatan melaporkan ledakan di sebuah kapal dagang yang sedang berlabuh di wilayah UEA, meski hingga kini belum dipastikan keterkaitannya dengan rangkaian insiden di kawasan tersebut.
***