← Beranda
Dampak Perang Iran Tak Terbendung: Spirit Airlines Bangkrut, Bukti Tekanan Ekonomi AS yang Sulit Ditutupi Trump
Rian AlfiantoSelasa, 5 Mei 2026 | 17.22 WIB
Ilustrasi Spirit Airlines. (Marco Bello/Reuters)

JawaPos.com - Krisis ekonomi akibat konflik geopolitik kian terasa di Amerika Serikat (AS). Di tengah meningkatnya ketegangan dalam perang Iran yang melibatkan sekutu Washington, dampaknya kini merambat ke sektor riil.

Salah satu contoh paling mencolok adalah tumbangnya maskapai berbiaya rendah Spirit Airlines, yang resmi menghentikan operasinya setelah gagal mendapatkan dana talangan dari pemerintahan Donald Trump.

Maskapai yang selama puluhan tahun dikenal sebagai pelopor model ultra low-cost carrier di AS itu kini harus menutup seluruh penerbangan, meninggalkan sekitar 17.000 karyawan kehilangan pekerjaan dan ribuan penumpang terlantar.

Baca Juga: Harga Emas Antam Selasa, 5 Mei 2026: Turun Rp 35.000 Jadi Rp 2.760.000 Per Gram

Gagal Diselamatkan, Operasi Dihentikan Total

Dalam pernyataan resminya, induk perusahaan Spirit Aviation Holdings mengumumkan penghentian operasional secara bertahap yang berlaku segera.

"Spirit Aviation Holdings, Inc ... hari ini dengan menyesal mengumumkan bahwa Perusahaan telah memulai penghentian operasi secara tertib, efektif segera. Semua penerbangan Spirit telah dibatalkan, dan Tamu Spirit tidak boleh pergi ke bandara," demikian bunyi pernyataan tersebut.

Perusahaan juga mengakui tekanan berat yang dihadapi, terutama lonjakan harga energi. "Kenaikan harga minyak secara material baru-baru ini dan tekanan lainnya pada bisnis telah berdampak signifikan pada prospek keuangan Spirit."

Padahal, berdasarkan data Cirium, maskapai ini masih menjadwalkan lebih dari 4.000 penerbangan domestik dengan lebih dari 800 ribu kursi pada awal Mei.

Harga BBM Melonjak, Jadi Pukulan Terakhir

Meski sudah lama berada dalam tekanan finansial, bahkan sempat dua kali mengajukan kebangkrutan pada 2024 dan 2025, kenaikan tajam harga bahan bakar akibat konflik Iran disebut menjadi faktor penentu kejatuhan Spirit.

Harga bahan bakar avtur (ATF) yang sebelumnya diproyeksikan sekitar USD 2,24 per galon untuk 2026, melonjak drastis hingga sekitar USD 4,51 per galon pada akhir April. Lonjakan ini terjadi seiring naiknya harga minyak mentah global yang menembus USD 111 per barel.

Kondisi tersebut membuat rencana restrukturisasi Spirit runtuh. Tanpa suntikan dana baru, maskapai ini tak mampu bertahan.

Sementara itu, mengutip Al-Jazeera, pemerintahan Donald Trump disebut telah berupaya menyelamatkan Spirit melalui paket pendanaan sebesar USD 500 juta. Namun negosiasi tidak membuahkan hasil.

Trump sendiri mengakui upaya tersebut memiliki batas. "Jika kami bisa membantu mereka, kami akan melakukannya, tetapi kami harus datang lebih dulu," ujarnya kepada wartawan. "Jika kita bisa melakukannya, kita akan melakukannya, tetapi hanya jika itu kesepakatan yang bagus," kata Trump.

Sementara itu, Menteri Transportasi AS, Sean Duffy, mengungkapkan bahwa pemerintah sempat mencoba mencari pembeli bagi Spirit, namun tidak ada pihak yang tertarik.

Seorang kreditur bahkan menyebut upaya penyelamatan tersebut sia-sia. "Kamu tidak bisa menghirup kehidupan ke dalam mayat," ujarnya, menggambarkan kondisi perusahaan yang sudah terlalu rapuh.

Efek domino dari konflik Iran tidak hanya dirasakan Spirit. Maskapai global lainnya juga mulai mengambil langkah darurat. Maskapai Jerman, Lufthansa, dilaporkan membatalkan hingga 20.000 penerbangan untuk menekan biaya operasional.

Sementara Air India menaikkan biaya tambahan bahan bakar dan memangkas sekitar 100 penerbangan per hari.

Pakar industri penerbangan, Anita Mendiratta dari UN Tourism, menilai bahwa perang memang bukan satu-satunya penyebab kejatuhan Spirit, namun menjadi pukulan terakhir.

"Biaya bahan bakar yang melonjak mengekspos kerentanan maskapai yang beroperasi dengan margin tipis dengan sedikit ruang untuk penyerapan guncangan," jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi global saat ini membuat volatilitas menjadi norma baru dalam industri penerbangan.

Kebangkrutan Spirit Airlines menjadi sinyal kuat bahwa dampak ekonomi dari konflik Iran tidak lagi bisa diabaikan. Kenaikan harga energi telah menekan sektor transportasi, memicu PHK massal, dan berpotensi memperlambat pemulihan ekonomi.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah