JawaPos.com - Laporan investigasi terbaru dari CNN mengungkap fakta mencengangkan terkait konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Dalam perang yang dimulai pada 28 Februari, Iran bersama sekutunya disebut berhasil merusak sedikitnya 16 fasilitas militer AS yang tersebar di delapan negara Timur Tengah.
Kerusakan tersebut bahkan disebut-sebut mencakup sebagian besar instalasi militer AS di kawasan tersebut. Informasi ini diperoleh dari seorang staf Kongres yang mengetahui langsung hasil penilaian dampak serangan.
“Ada spektrum penilaian,” ujar sumber tersebut. “Mulai dari fasilitas yang hancur total dan harus ditutup, hingga pihak yang menilai kerusakan masih bisa diperbaiki karena nilai strategisnya bagi AS.”
Baca Juga: Mengungkap Misteri Surat Wasiat dari Insiden Wanita Jatuh dari Lantai 36
Target Vital: Radar hingga Sistem Komunikasi
Dalam laporan itu, dilansir via Gulf News, citra satelit menunjukkan bahwa Iran secara sistematis menyasar fasilitas-fasilitas penting milik AS. Target utama mencakup sistem radar canggih, jaringan komunikasi militer, serta pesawat yang ditempatkan di berbagai pangkalan di Timur Tengah.
Aset-aset tersebut dikenal mahal dan sulit digantikan dalam waktu singkat. Hal ini dinilai sebagai strategi efektif dari Teheran untuk melemahkan kemampuan militer AS di kawasan Timur Tengah.
“Yang menarik, mereka benar-benar mengidentifikasi target paling efisien dari sisi biaya untuk diserang. Sistem radar kita adalah yang paling mahal dan paling terbatas jumlahnya di wilayah itu," kata staf Kongres tersebut.
Biaya Perang Membengkak
Dampak konflik ini juga terasa dari sisi anggaran. Pejabat sementara pengawas keuangan Pentagon, Jules Hurst III, mengungkapkan kepada anggota parlemen bahwa perang melawan Iran telah menelan biaya hingga USD 25 miliar bagi pembayar pajak Amerika.
Selain itu, perbaikan markas Armada Kelima Angkatan Laut AS saja diperkirakan mencapai 200 juta dolar AS, menurut laporan yang dikutip dari The New York Times.
Pangkalan-Pangkalan yang Diserang
Analisis terpisah dari American Enterprise Institute (AEI) juga memperkuat temuan tersebut. Iran dilaporkan menyerang sejumlah lokasi strategis, termasuk pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait dan Landasan pacu di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar.
Fasilitas penyimpanan amunisi di pangkalan militer di Irak utara juga dilaporkan turut rusak menurut laporan NBC.
Meski dampak serangan disebut signifikan, laporan ini menyoroti bahwa pemerintah AS tidak secara terbuka mengakui skala kerusakan tersebut. Hal ini memicu spekulasi bahwa Washington malu mengakui kekalahan dan berusaha meredam dampak politik dan militer dari keberhasilan Iran.
Dengan meningkatnya eskalasi dan biaya perang yang terus membengkak, temuan ini menjadi sorotan tajam terhadap efektivitas strategi militer AS di Timur Tengah serta kemampuan Iran dalam melancarkan serangan presisi tinggi terhadap target bernilai strategis.