JawaPos.com - Di tengah ketidakpastian jalur damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS), perkembangan baru muncul dari Israel. Pemerintah Israel dilaporkan baru saja menerima kiriman besar amunisi dan perlengkapan militer dari Amerika Serikat, memicu spekulasi bahwa konflik di kawasan bisa kembali memanas.
Menurut laporan Anadolu, dilansir via Middle East Monitor, Israel mengkonfirmasi telah menerima sekitar 6.500 ton paket amunisi dan peralatan militer hanya dalam waktu 24 jam.
Pengiriman tersebut mencakup ribuan amunisi udara dan darat, truk militer, hingga kendaraan tempur ringan Joint Light Tactical Vehicles (JLTVs).
Baca Juga: Kabar Baik untuk Jakmania! Panpel Optimistis "El Clasico" Persija vs Persib Digelar di Jakarta
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Pertahanan Israel menyebutkan bahwa dua kapal kargo yang membawa perlengkapan tersebut telah dibongkar di pelabuhan Ashdod dan Haifa.
Disebutkan bahwa pengiriman ini sebagai bagian dari 'upaya sentral untuk meningkatkan kesiapan Israel menghadapi berbagai kemungkinan dalam perang'.
Sejak konflik dengan Iran meningkat pada Februari lalu, Israel disebut telah menerima lebih dari 115.600 unit peralatan militer melalui 403 penerbangan dan 10 pengiriman laut.
Langkah ini memperkuat dugaan bahwa Israel tengah mempersiapkan diri menghadapi eskalasi lebih lanjut, terutama di tengah ketegangan regional yang belum mereda.
Baca Juga: Orang yang Menekan Pasta Gigi dari Bawah Biasanya Menunjukkan 6 Ciri Ini Menurut Psikologi
Sementara itu, dari Teheran, sebelumnya diberitakan, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi kembali menegaskan posisi negaranya yang siap menghadapi dua skenario sekaligus: damai atau perang.
“Iran siap untuk kedua jalur demi memastikan kepentingan dan keamanan nasionalnya,” ujar Gharibabadi, seperti dikutip penyiar nasional Islamic Republic of Iran Broadcasting.
Ia juga menegaskan bahwa keputusan kini berada di tangan Amerika Serikat: memilih jalur diplomasi atau melanjutkan pendekatan konfrontatif.
Iran bahkan telah mengajukan proposal penyelesaian konflik melalui Pakistan, yang berperan sebagai mediator antara Teheran dan Washington.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengaku belum puas dengan proposal terbaru dari Iran.
“Saat ini saya tidak puas. Mereka meminta hal-hal yang tidak bisa saya setujui,” kata Trump.
Baca Juga: Kabar Baik untuk Jakmania! Panpel Optimistis "El Clasico" Persija vs Persib Digelar di Jakarta
Meski mengakui bahwa negosiasi masih berlangsung dengan bantuan Pakistan, Trump mengingatkan bahwa jalan menuju kesepakatan damai masih panjang.
Ia juga membuka kemungkinan opsi militer, meskipun secara pribadi lebih memilih menghindari eskalasi konflik.
Masuknya ribuan ton amunisi ke Israel di tengah negosiasi yang stagnan memunculkan pertanyaan besar: apakah ini pertanda perang akan berlanjut, atau justru strategi tekanan untuk memaksa Iran berkompromi?
Di satu sisi, Iran menyatakan kesiapan penuh untuk segala kemungkinan. Di sisi lain, Amerika Serikat dan sekutunya memperkuat posisi militer di kawasan.
Baca Juga: Bantah Tudingan Amien Rais, Bakom RI: Prihatin sebagai Profesor Doktor jadi Korban Hoaks
Dengan situasi yang terus berkembang, keputusan Washington dalam waktu dekat akan menjadi penentu arah: menuju perdamaian atau konflik yang lebih luas di Timur Tengah.