JawaPos.com - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) belum bisa diredakan. Paling baru, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa Teheran siap menempuh dua jalur sekaligus: melanjutkan diplomasi atau lanjut perang lagi, tergantung pada keputusan Washington.
Melansir Al Arabiya, Gharibabadi menyampaikan bahwa Iran tidak hanya membuka pintu dialog, tetapi juga bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Pernyataan ini disampaikan di tengah mandeknya upaya mencapai kesepakatan damai antara kedua negara.
Iran bahkan telah mengajukan proposal penyelesaian konflik kepada Pakistan, yang kini berperan sebagai mediator antara Teheran dan Washington.
Baca Juga: Resep Japanese Mochi Donuts Matcha: Kenyal, Manis, dan Estetik ala Jepang
“Sekarang bola ada di tangan Amerika Serikat untuk memilih jalan diplomasi atau melanjutkan pendekatan konfrontatif,” ujar Gharibabadi dalam pertemuan dengan para diplomat di Teheran, seperti dikutip penyiar nasional Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB).
Ia menegaskan bahwa Iran siap menghadapi kedua kemungkinan tersebut demi menjaga kepentingan nasional dan keamanan negaranya.
“Iran siap untuk kedua jalur demi memastikan kepentingan dan keamanan nasionalnya. Namun, kami akan tetap mempertahankan sikap pesimistis dan ketidakpercayaan terhadap Amerika dalam jalur diplomasi,” tegasnya.
Sementara itu, mengutip TRT World, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal gencatan senjata terbaru yang diajukan Iran.
“Saat ini saya tidak puas. Mereka meminta hal-hal yang tidak bisa saya setujui,” ujar Trump kepada wartawan sebelum meninggalkan Gedung Putih.
Trump juga mengungkapkan bahwa meski semua pihak menginginkan kesepakatan, proses negosiasi masih jauh dari kata selesai.
“Mereka semua ingin membuat kesepakatan, tapi situasinya masih kacau,” tambahnya.
Meski demikian, Trump mengakui bahwa jalur diplomasi masih berjalan dengan keterlibatan Pakistan, dan memuji peran Islamabad dalam memfasilitasi komunikasi antara kedua negara.
Namun, ia mengingatkan bahwa proses menuju kesepakatan damai akan panjang dan tidak mudah.
Trump juga tidak menutup kemungkinan opsi militer jika diplomasi gagal, meski secara pribadi ia mengaku enggan kembali ke aksi militer besar-besaran.
“Secara kemanusiaan, saya lebih memilih tidak (melanjutkan serangan). Tapi opsinya tetap ada: apakah kita akan bertindak keras atau mencari jalan lain?” ujarnya.
Pernyataan dari kedua pihak ini menegaskan bahwa situasi masih berada di persimpangan krusial. Iran telah menyatakan kesiapan penuh untuk segala skenario, sementara Amerika Serikat masih menimbang langkah selanjutnya.
Dengan negosiasi yang belum menunjukkan titik terang, dunia kini menunggu keputusan Washington, apakah memilih jalur damai atau kembali memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.