JawaPos.com - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, melontarkan pernyataan keras terhadap Amerika Serikat (AS) di tengah memanasnya situasi geopolitik kawasan Timur Tengah.
Dalam pesan resmi yang disiarkan televisi pemerintah pada Jumat (1/5), Khamenei menegaskan Iran akan mempertahankan kemampuan nuklir dan rudalnya, dua isu yang selama ini menjadi target tekanan Washington.
Dalam nada menantang, Khamenei bahkan menyebut keberadaan Amerika Serikat di Teluk Persia tidak diinginkan.
Baca Juga: Modus 'Umat Kiai' Terbongkar: Dugaan Pelecehan di Ponpes Pati Gunakan Doktrin Agama
“Orang asing yang datang dari ribuan kilometer dengan keserakahan dan niat jahat tidak punya tempat di sana, kecuali di dasar perairannya (Teluk Persia),” ujarnya.
Pernyataan itu muncul saat Iran memperingati 'Hari Teluk Persia', sekaligus menandai dua bulan sejak konflik besar dengan Amerika Serikat yang melibatkan pengerahan militer besar-besaran.
Dalam pesannya, Khamenei juga dengan berani menyebut bahwa upaya AS mengobok-obok kedamaian di Iran telah mengalami kekalahan yang memalukan.
Ia juga menyinggung babak baru dalam sejarah kawasan, termasuk di jalur vital Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia.
“Babak baru sedang terbuka untuk Teluk Persia dan Selat Hormuz,” kata Khamenei.
Iran menegaskan akan mempertahankan kontrol atas selat tersebut, yang selama ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global. Bahkan, Teheran disebut menerapkan aturan baru dan manajemen yang diklaim memberi 'kenyamanan dan kemajuan' bagi kawasan.
Namun, banyak negara, termasuk Uni Emirat Arab, menganggap langkah Iran tersebut sebagai bentuk pembatasan sepihak terhadap jalur internasional.
Tak ayal, sebagaimana dikutip dari France24, ketegangan ini berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak hingga USD 126 per barel, dipicu kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan tersebut.
Di sisi lain, kebijakan Presiden AS Donald Trump turut memperkeruh situasi. Pemerintahannya mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran sambil menggandeng sekutu untuk menekan Teheran agar membuka kembali jalur pelayaran energi.
Langkah ini bertujuan melemahkan ekonomi Iran dengan membatasi ekspor minyaknya, sekaligus mendorong negosiasi ulang terkait program nuklir.
Selain itu, dalam pesannya, Khamenei menegaskan bahwa program nuklir dan rudal balistik merupakan bagian dari aset nasional yang tidak akan dinegosiasikan.
“Sembilan puluh juta rakyat Iran menganggap seluruh kapasitas, dari nanoteknologi hingga nuklir dan rudal, sebagai aset nasional yang akan dilindungi,” tegasnya.
Iran selama ini bersikukuh bahwa program nuklirnya bersifat damai, meskipun telah memperkaya uranium hingga mendekati tingkat senjata.
Meskipun demikian, di tengah ketegangan, Pakistan menyatakan masih memfasilitasi pembicaraan tidak langsung antara Iran dan AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, menyebut komunikasi langsung bahkan bisa membantu meredakan kebuntuan.