JawaPos.com–Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan tidak puas dengan proposal gencatan senjata terbaru dari Iran. Sumber internal pemerintah AS menyebutkan, dokumen tersebut dianggap bermasalah karena tidak menyentuh isu krusial yaitu program nuklir Teheran.
Informasi yang dilaporkan The Wall Street Journal mengungkap, dalam pertemuan bersama para penasihat pada Senin (27/4), Trump tidak langsung menolak proposal tersebut. Namun, dia menilai Iran tidak menunjukkan itikad baik dalam negosiasi, terutama karena belum bersedia menghentikan pengayaan uranium atau berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Meski demikian, Gedung Putih disebut tengah menyiapkan proposal tandingan dalam beberapa hari ke depan sebagai respons atas tawaran Iran. Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales menegaskan, pemerintah AS tidak akan bernegosiasi melalui media.
Baca Juga: Ogah Tunduk dengan Barat, Iran Tegas Sebut Amerika Tak Lagi Bisa Mendikte Negara Lain
”Kami sudah jelas soal garis merah kami,” ujar Olivia Wales.
Senada, Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga menyebut proposal Iran tidak dapat diterima.
Sebelumnya, laporan Axios menyebut Iran menawarkan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik, namun menunda pembahasan program nuklir ke tahap berikutnya.
Tekanan Ekonomi dan Blokade Energi
Di tengah kebuntuan diplomasi, tekanan ekonomi terhadap Iran semakin meningkat. Blokade yang diberlakukan AS sejak 13 April berdampak signifikan terhadap ekspor minyak Iran. Setidaknya enam kapal tanker yang membawa minyak Iran dilaporkan terpaksa kembali ke negara asal akibat pembatasan tersebut.
Akibat terganggunya distribusi, Iran kini menghadapi lonjakan stok minyak. Data dari perusahaan analitik energi Kpler menunjukkan cadangan minyak Iran melonjak drastis dari 4,6 juta barel sebelum perang menjadi sekitar 49 juta barel. Angka ini mendekati kapasitas maksimum penyimpanan sebesar 95 juta barel.
Para analis memperingatkan, jika situasi ini terus berlanjut, Iran bisa kehabisan ruang penyimpanan dalam waktu kurang dari dua minggu.
Blokade ini berkaitan erat dengan konflik yang pecah sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan dengan tujuan melemahkan rezim Iran serta menghentikan program rudal balistik dan nuklir.
Sebagai balasan, Iran sempat memblokir Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan energi dunia.
Perpecahan Internal AS dan Ketidakpastian Negosiasi
Konflik ini tidak hanya berdampak global, tetapi juga memicu perpecahan di dalam negeri AS. Wakil Presiden JD Vance dilaporkan secara internal mengkhawatirkan bahwa perang menguras persediaan senjata AS dan meragukan optimisme Pentagon terkait situasi di Iran.
Baca Juga: Dari AI hingga EV: Terobosan Teknologi Perkuat Kemandirian Tiongkok di Tengah Tekanan AS
Upaya diplomasi pun tampak semakin menjauh. Trump bahkan membatalkan kunjungan utusannya, Steve Witkoff, dan menantunya Jared Kushner ke Pakistan yang sebelumnya berperan sebagai mediator.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tetap mendorong skema negosiasi bertahap. Proposal Iran mengusulkan penghentian perang sebagai langkah awal, diikuti pembahasan blokade laut dan kontrol atas Selat Hormuz, sebelum akhirnya masuk ke isu nuklir. Namun, Washington bersikeras bahwa isu nuklir harus dibahas sejak awal.
Sebelumnya, Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan menilai Iran sedang mempermalukan AS dalam dinamika negosiasi ini.
Baca Juga: Sejumlah Apotek di Iran Alami Kelangkaan Obat Akibat Serangan AS-Israel
Dengan perbedaan posisi yang masih tajam, masa depan perundingan damai antara kedua negara kini berada dalam ketidakpastian.