← Beranda
OpenAI Akhiri Kemitraan Eksklusivitas dengan Microsoft, Siap Buka Akses ke Amazon dan Google
Mellyna Putri DiniarSelasa, 28 April 2026 | 21.16 WIB
Sam Altman dan Kevin Scott dalam konferensi Microsoft Build 2024 di Seattle. Foto: (Bloomberg)

JawaPos.com — OpenAI dan Microsoft menyepakati perombakan struktur kemitraan strategis yang selama ini memberi hak eksklusif kepada Microsoft atas distribusi model kecerdasan buatan OpenAI. 

Perubahan ini memungkinkan OpenAI menjalin kerja sama langsung dengan penyedia komputasi awan lain seperti Amazon dan Alphabet, sekaligus menandai pergeseran arah persaingan global di industri kecerdasan buatan dan layanan komputasi awan.

Selama beberapa tahun terakhir, aliansi kedua perusahaan menjadi salah satu pilar utama dalam perkembangan industri AI. Investasi Microsoft sebesar USD 13 miliar—sekitar Rp 223,8 triliun dengan kurs Rp 17.220 per dolar AS—sejak 2019 mendorong OpenAI menjadi pelopor teknologi AI sekaligus memperkuat layanan komputasi awan Azure.

Baca Juga: Jika Anda Lebih Suka Mengemudi di Rute yang Sama Setiap Hari daripada Mencoba Rute di Google Maps, Menurut Psikologi Anda Memiliki 7 Ciri Kepribadian Ini

Mengutip Reuters, Selasa (28/4/2026), kedua pihak sedang “merundingkan ulang perjanjian yang memungkinkan Microsoft secara eksklusif menjual model kecerdasan buatan milik OpenAI, sehingga membuka jalan bagi startup tersebut untuk menjalin kesepakatan baru dengan para pesaing.” Perubahan ini secara langsung menghapus pembatasan distribusi yang selama ini mengunci akses teknologi OpenAI di bawah ekosistem Microsoft.

 

Respons pasar menunjukkan sensitivitas terhadap perubahan tersebut. Saham Microsoft sempat turun 1,3 persen sebelum ditutup relatif stabil, sementara Alphabet menguat 1,81 persen dan Amazon terkoreksi 1,1 persen. Pergerakan ini mencerminkan ekspektasi baru investor terhadap peta kompetisi AI global.

 

Secara strategis, OpenAI kini memperoleh fleksibilitas untuk memperluas akses komputasi dan mempercepat penetrasi pasar korporasi. Di sisi lain, Microsoft tetap mempertahankan posisi sebagai mitra utama komputasi awan hingga 2032 serta memperoleh “kepastian lebih besar atas pendapatan dari OpenAI,” termasuk porsi 20 persen hingga 2030, dengan total bagi hasil yang kini dibatasi pada tingkat tertentu yang tidak diungkapkan.

 

Perubahan penting lainnya adalah penghapusan klausul yang sebelumnya memungkinkan OpenAI menghentikan pembayaran kepada Microsoft jika mencapai artificial general intelligence (AGI) atau kecerdasan buatan setara manusia. Dengan demikian, langkah ini memperkuat kepastian bisnis Microsoft di tengah ketidakpastian perkembangan teknologi AI tingkat lanjut.

 

Di sisi lain, dalam memo internal yang dilaporkan CNBC, OpenAI menyebut kemitraan dengan Microsoft “telah menjadi fondasi penting, tetapi juga membatasi jangkauan perusahaan di pasar korporasi.” Memo tersebut juga mencatat lonjakan permintaan sejak OpenAI mulai memanfaatkan infrastruktur komputasi awan Amazon.

 

Sejalan dengan itu, analis D.A. Davidson, Gil Luria, menilai perubahan ini krusial. Dia mengatakan, “Penyesuaian kemitraan dengan Microsoft sangat penting agar OpenAI berhasil menembus pasar korporasi,” serta menambahkan bahwa pelanggan AWS dan Google Cloud kini “akan lebih mungkin mempertimbangkan OpenAI bersama Anthropic.”

 

Dari sisi pesaing, CEO Amazon Andy Jassy menyatakan, “Model OpenAI akan tersedia langsung bagi para pengembang di Amazon Web Services dalam beberapa minggu ke depan,” dan menegaskan bahwa “para pengembang akan memiliki lebih banyak pilihan untuk memilih model yang tepat sesuai kebutuhan.”

 

Ekspansi OpenAI tidak berhenti di situ. Perusahaan ini juga menjalin kerja sama dengan Oracle, Alphabet, Nvidia, serta pemasok Apple, Luxshare. Rangkaian kemitraan tersebut memperluas pijakan OpenAI di sepanjang rantai nilai industri kecerdasan buatan, mulai dari infrastruktur hingga pengembangan perangkat konsumen.

 

Di saat yang sama, Microsoft mulai mengurangi ketergantungan pada OpenAI dengan mengembangkan model AI internal dan mengintegrasikan teknologi dari Anthropic ke dalam produk seperti Microsoft 365 Copilot. Analis Barclays menyebut langkah ini positif karena “Microsoft tidak perlu lagi membangun seluruh kebutuhan pusat data untuk OpenAI, sehingga membebaskan modal.”

 

Pada akhirnya, berakhirnya eksklusivitas ini bukan sekadar mengubah hubungan dua perusahaan, tetapi menandai pergeseran struktural dalam persaingan AI global. Selain membuka akses yang lebih luas bagi OpenAI, langkah ini juga berpotensi meredakan tekanan regulasi antimonopoli di Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa terhadap dominasi Microsoft di pasar komputasi awan dan AI korporasi.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho