JawaPos.com - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) belum ada obat peredanya, di tengah kebuntuan diplomasi dan konflik militer yang belum sepenuhnya mereda. Paling baru, pemerintah Teheran secara terbuka menuding Washington tengah mencari cara 'menyelamatkan muka' untuk keluar dari konflik yang dinilai sudah merugikan mereka.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru membuka peluang komunikasi langsung dengan Iran, meski dengan nada yang tegas dan cenderung menekan.
Dalam pernyataannya kepada media, Trump mengatakan bahwa negosiator Iran bebas menghubungi Washington kapan pun mereka siap untuk berdialog.
"Mereka bisa menelepon kami kapan saja mereka mau. Kita punya semua kartu. Mereka bisa menelepon kapan saja, tapi tidak akan ada lagi penerbangan 18 jam hanya untuk pembicaraan tanpa hasil," kata Trump.
Dikutip via The News Pakistan, Minggu (26/4), pernyataan ini muncul setelah dibatalkannya rencana kunjungan utusan AS ke Pakistan untuk pembicaraan damai. Trump menegaskan bahwa pembatalan tersebut tidak berarti perang dengan Iran akan langsung berlanjut.
Namun, ia juga mengklaim situasi internal Iran sedang tidak stabil. “Ada konflik internal besar dan kebingungan dalam kepemimpinan mereka. Bahkan mereka sendiri tidak tahu siapa yang memimpin,” tulisnya di platform Truth Social.
Iran: AS Terjebak, Cari Jalan Keluar Terhormat
Pernyataan Trump langsung direspons keras oleh Teheran. Kementerian Pertahanan Iran menyebut AS kini berada dalam posisi terjepit dan tengah mencari cara untuk keluar dari konflik tanpa kehilangan reputasi.
“Kekuatan militer kami kini dominan, dan musuh sedang mencari cara untuk menyelamatkan muka dari perang yang telah menjadi jebakan bagi mereka,” kata juru bicara kementerian, dikutip media ISNA.
Sikap tegas juga disampaikan oleh Komando Pusat Militer Iran, Khatam al-Anbiya, yang memperingatkan bahwa blokade AS terhadap pelabuhan Iran akan dibalas.
“Jika militer AS terus melakukan blokade dan aksi perompakan di kawasan, mereka pasti akan menghadapi respons dari angkatan bersenjata Iran," ucapnya.
Salah satu titik paling krusial dalam konflik ini adalah Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dan gas dunia. Iran menegaskan bahwa penguasaan selat tersebut adalah strategi utama mereka dalam menghadapi Amerika Serikat.
“Mengontrol Selat Hormuz dan menjaga efek gentar terhadap Amerika adalah strategi definitif Iran,” kata Garda Revolusi dalam pernyataan resminya.
Penutupan jalur ini telah mengguncang pasar energi global dan meningkatkan tekanan internasional agar segera dibuka kembali. Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa, mendesak agar Selat Hormuz dibuka tanpa syarat.
“Ini vital bagi seluruh dunia,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui juga, upaya untuk mempertemukan kembali Iran dan AS di meja perundingan masih menemui jalan buntu. Iran menolak bernegosiasi selama blokade angkatan laut AS masih berlangsung.
Meski Pakistan sempat menjadi mediator, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan tidak memiliki rencana untuk bertemu pihak Amerika dalam waktu dekat. Di sisi lain, presiden Iran Masoud Pezeshkian juga angkat bicara, meminta rakyatnya menghemat energi di tengah situasi konflik.
“Kami tidak meminta pengorbanan besar saat ini, tapi kita perlu mengontrol konsumsi. Dari 10 lampu, cukup nyalakan dua,” ujarnya di televisi nasional. Ia menuduh AS dan Israel berupaya menyerang infrastruktur Iran untuk memicu ketidakpuasan publik.