JawaPos.com - Sikap Iran semakin tegas di tengah upaya perpanjangan gencatan senjata oleh Amerika Serikat (AS). Alih-alih membuka ruang dialog, Teheran justru menolak terlibat dalam perundingan selama pendekatan Washington masih diwarnai tekanan dan ancaman.
Presiden Donald Trump sebelumnya memperpanjang gencatan senjata guna memberi waktu tambahan bagi negosiasi. Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda terobosan, sementara posisi Iran justru semakin mengeras.
Iran: Tak Akan Negosiasi di Bawah Tekanan
Penolakan Iran terlihat jelas dari belum adanya delegasi yang dikirim untuk mengikuti pembicaraan lanjutan di Islamabad, Pakistan. Pemerintah Iran menegaskan bahwa keputusan untuk tidak berpartisipasi dalam perundingan tersebut 'tidak berubah'.
Baca Juga: 11 Kepala Daerah Terjaring OTT, KPK Ungkap Tingginya Biaya Politik jadi Pemicu
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Teheran tidak akan bernegosiasi 'di bawah bayang-bayang ancaman'. Ia bahkan memperingatkan bahwa Iran dapat 'mengungkap kartu baru di medan perang' jika tekanan terus berlanjut.
Menurutnya, Washington berupaya mengubah meja perundingan menjadi ajang penyerahan atau dalih untuk kembali memicu konflik. Demikian mengutip The New Arab.
Sikap keras Iran tak lepas dari kebijakan terbaru AS yang dinilai provokatif. Ketegangan meningkat setelah Trump memerintahkan penyitaan kapal kargo Iran di Laut Oman.
Teheran menuntut pembebasan segera awak kapal yang dilaporkan ditahan. Langkah tersebut dikritik keras oleh Iran karena dianggap melanggar semangat gencatan senjata dan mencerminkan tekanan sepihak dari Washington.
Di sisi lain, AS juga tetap mempertahankan tekanan, termasuk kemungkinan melanjutkan blokade pelabuhan Iran di Selat Hormuz.
Meski menolak perundingan dalam kondisi saat ini, Iran belum sepenuhnya menutup pintu diplomasi. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi diketahui melakukan komunikasi dengan pejabat Pakistan.
Namun, ia menegaskan bahwa keputusan untuk melanjutkan pembicaraan akan sangat bergantung pada evaluasi terhadap langkah dan ancaman terbaru dari AS.
Sementara itu, Trump mengirim sinyal campuran. Di satu sisi, ia menyebut kecil kemungkinan gencatan senjata diperpanjang tanpa kesepakatan. Namun di sisi lain, ia mengaku tidak keberatan untuk bertemu langsung dengan pimpinan Iran.
Dengan posisi yang masih saling berseberangan, upaya diplomasi kini berada di titik krusial. Penolakan Iran terhadap negosiasi di bawah tekanan menambah ketidakpastian terhadap masa depan gencatan senjata yang rapuh ini.