← Beranda
Energi Bersih Ambil Alih Pertumbuhan Listrik Dunia, Awal Kemunduran Era Fosil Mulai Terlihat
Mellyna Putri Diniar• Selasa, 21 April 2026 | 22.21 WIB
Panel surya berdiri di atas deretan tanaman teh di Shaoxing, Provinsi Zhejiang, Tiongkok. (The Guardian)

 

JawaPos.com — Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, seluruh kenaikan permintaan listrik global pada 2025 sepenuhnya dipenuhi oleh energi bersih, sementara pembangkitan dari bahan bakar fosil mulai kehilangan pijakan. 

Perkembangan ini menandai pergeseran mendasar dalam sistem energi dunia, dari dominasi fosil menuju ekspansi cepat energi terbarukan yang kini bukan lagi alternatif, melainkan penggerak utama.

Sepanjang tahun lalu, seluruh kenaikan permintaan listrik global sepenuhnya dipenuhi oleh sumber energi terbarukan. Sementara itu, pembangkitan listrik dari bahan bakar fosil tercatat stagnan, bahkan mulai menunjukkan tren penurunan tipis. Perkembangan ini menjadi sinyal kuat bahwa pergeseran struktural dalam sistem energi global tengah berlangsung.

Melansir The Guardian, Selasa (21/4/2026), laporan think tank (lembaga riset kebijakan) Ember mengungkap bahwa lonjakan terbesar berasal dari energi surya. Produksi listrik dari pembangkit tenaga surya meningkat hampir sepertiga sepanjang 2025, mencetak rekor baru sekaligus melanjutkan tren pertumbuhan pesat dalam satu dekade terakhir.

Dalam rentang 2015 hingga 2025, produksi energi surya meningkat sepuluh kali lipat, dengan pola pertumbuhan yang hampir dua kali lipat setiap tiga tahun. Lebih dari separuh peningkatan tersebut berasal dari Tiongkok, yang kini memimpin ekspansi energi terbarukan sekaligus menjadi eksportir terbesar komponen energi bersih di dunia.

Lebih lanjut, energi surya mampu memenuhi sekitar tiga perempat tambahan kebutuhan listrik global pada 2025, sementara sisanya sebagian besar dipenuhi oleh energi angin. Di sisi lain, pembangkitan listrik berbasis bahan bakar fosil justru turun sebesar 0,2 persen, memperkuat indikasi awal penurunan jangka panjang sektor tersebut.

Direktur Pelaksana Ember, Aditya Lolla, menegaskan perubahan fundamental tersebut. Dia menyatakan, “Kita telah memasuki era pertumbuhan bersih. Energi bersih kini cukup cepat untuk memenuhi kenaikan permintaan listrik global, sementara pembangkit listrik dari bahan bakar fosil mulai stagnan sebelum akhirnya menurun. Momentum ini kini menjadi realitas struktural.”

Selain Tiongkok, India juga menunjukkan perkembangan signifikan. Negara tersebut menambah kapasitas energi bersih dalam jumlah rekor, melampaui pertumbuhan permintaan listrik domestiknya. Dampaknya, produksi listrik dari pembangkit berbahan bakar fosil di India turun hingga 52 terawatt jam, mendekati penurunan yang terjadi di Tiongkok.

Secara global, energi terbarukan menyumbang 34 persen dari total produksi listrik pada 2025, melampaui batu bara yang berada di angka 33 persen. Pergeseran ini menegaskan perubahan komposisi energi dunia yang sebelumnya didominasi bahan bakar fosil.

Laporan tersebut juga menyoroti peran penting teknologi penyimpanan energi. Sekitar 14 persen tambahan listrik dari tenaga surya tahun lalu dapat dimanfaatkan di luar waktu produksi berkat peningkatan penggunaan baterai, yang harganya terus menurun tajam dalam satu dekade terakhir.

Namun demikian, tantangan ke depan tetap besar. Lolla menekankan pentingnya elektrifikasi sektor transportasi dan pemanas yang masih bergantung pada minyak dan gas. Dia mengatakan, “Energi bersih sudah membantu negara-negara mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil dan biaya, sekaligus memenuhi permintaan listrik yang terus meningkat. Langkah berikutnya adalah memodernisasi jaringan listrik dan kerangka regulasi agar sistem tenaga siap menghadapi realitas baru ini.”

Sebagai penutup, lebih dari 50 negara dijadwalkan bertemu di Kolombia bulan ini untuk membahas percepatan transisi global dari bahan bakar fosil. Pertemuan ini kian mendesak di tengah krisis minyak akibat konflik geopolitik terbaru, sekaligus menegaskan bahwa perubahan arah energi dunia bukan lagi wacana, melainkan kebutuhan yang tak terhindarkan.

****

EDITOR: Novia Tri Astuti