← Beranda
Perang Timur Tengah Guncang Pasar Mewah Global, LVMH dan Hermès Alihkan Fokus saat Penjualan Teluk Anjlok
Mellyna Putri DiniarSenin, 20 April 2026 | 22.53 WIB
Pusat perbelanjaan LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton di Eropa menjadi tujuan utama belanja barang mewah saat permintaan di Timur Tengah melemah akibat konflik. Foto: (The New York Times)

JawaPos.com — Guncangan geopolitik di Timur Tengah memicu pergeseran signifikan dalam arah pertumbuhan industri barang mewah global. Konflik yang telah berlangsung hampir dua bulan tersebut melemahkan pasar strategis bernilai miliaran dolar AS, yang selama ini menjadi salah satu pendorong utama permintaan bagi merek-merek premium dunia.

Dalam dinamika tersebut, pelaku utama seperti LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton, Hermès, dan Zegna Group mulai mengalihkan fokus ke kawasan yang lebih stabil. Pergeseran ini dinilai mencerminkan penataan ulang strategi distribusi dan pengelolaan stok secara global guna menjaga permintaan di tengah tekanan geopolitik.

Dilansir dari The New York Times, Senin (20/4/2026), penurunan permintaan terjadi secara tajam di kawasan Teluk Persia, seiring merosotnya arus wisatawan. Padahal, wilayah ini sebelumnya menyumbang pertumbuhan signifikan ketika pasar Eropa dan Asia mengalami perlambatan dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Israel Makin Agresif, Situasi di Timur Tengah Semakin Memburuk

Sebagai respons, Zegna memindahkan persediaan dari kawasan terdampak ke pusat konsumsi lain seperti London dan Paris. Ketua eksekutif Ermenegildo Zegna menegaskan, “Barang dagangan itu harus dialihkan ke tempat lain.” Dia menambahkan, “Yang kami harapkan adalah dapat menjangkau klien penting itu, jika bukan di sana, maka di belahan dunia lainnya.”

 

Tekanan serupa juga dialami LVMH. Perusahaan tersebut mencatat penurunan permintaan hingga 70 persen pada Maret, seiring eskalasi konflik. Kepala keuangan LVMH Cécile Cabanis menyatakan, “Yang kami lihat saat ini adalah permintaan yang masih sangat menurun,” seraya menegaskan, “Namun, yang kami tahu, kekayaan itu tidak menghilang.”

 

Sementara itu, Kering, grup barang mewah asal Prancis yang membawahi merek seperti Gucci dan Saint Laurent, mengaktifkan unit krisis untuk menjaga operasional di kawasan. Meskipun jaringan ritel telah kembali beroperasi, pendapatan turun 11 persen pada kuartal terakhir. Kepala keuangan Armelle Poulou mengatakan, “Di Timur Tengah, arus wisatawan yang paling terdampak dibandingkan penduduk lokal.”

 

Dampak tidak berhenti di kawasan konflik. Di Eropa, Hermès mencatat penurunan jumlah wisatawan dari negara-negara Teluk, khususnya di Paris. Kepala keuangan Eric du Halgouët menyebut, “Kami melihat penurunan jumlah wisatawan dari Timur Tengah di Eropa.” Penurunan ini juga tercatat di Swiss, Inggris, dan Italia.

 

Selain itu, gangguan rantai pasok turut memperburuk tekanan. Hermès menunda pengiriman ke sejumlah toko di Qatar, Bahrain, dan Kuwait, serta menghadapi kendala distribusi melalui jalur logistik yang bergantung pada Dubai, yang terdampak konflik.

 

Padahal sebelumnya, kawasan Timur Tengah menjadi salah satu fokus ekspansi agresif industri barang mewah global. Merek seperti Dior, Salvatore Ferragamo, dan Moncler memperluas jaringan ritel di kota-kota utama seperti Dubai, Abu Dhabi, dan Doha, sekaligus meningkatkan investasi pemasaran, termasuk peluncuran koleksi khusus Ramadan dan Idulfitri.

 

Namun, eskalasi konflik mengganggu momentum tersebut dan menekan kinerja jangka pendek di kawasan itu. Meski demikian, pelaku industri belum sepenuhnya meninggalkan prospek jangka panjang Timur Tengah sebagai pusat pertumbuhan, terutama jika stabilitas dan arus wisata kembali pulih. Pendiri Brunello Cucinelli, Brunello Cucinelli, mengatakan, “Sulit untuk menerimanya di zaman modern kita. Namun, bagi saya, sebagai pencinta sejarah, kita tahu bahwa perang selalu menjadi bagian dari perjalanan manusia.”

 

Akhirnya, pergeseran strategi yang terjadi ini mencerminkan penyesuaian cepat industri barang mewah terhadap tekanan geopolitik, di mana ekspansi yang sebelumnya terpusat kini mulai dialihkan ke pasar yang lebih stabil, tanpa sepenuhnya meninggalkan potensi kawasan yang terdampak.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho