JawaPos.com – Uang saku bulanan suami di Jepang naik signifikan di tengah tekanan inflasi. Rata-rata kini mendekati 37.000 yen (sekitar Rp4 juta) per bulan.
Seperti dilansir Kyodo, Senin (20/4), rata-rata “okozukai” mencapai 36.835 yen (sekitar Rp3,97 juta). Angka itu naik 3.764 yen (sekitar Rp406 ribu) dibanding tahun lalu.
Kenaikan ini menjadi yang tertinggi kedua sejak survei dimulai pada 2018. Angkanya hanya sedikit di bawah rekor 2019 sebesar 37.774 yen (sekitar Rp4,08 juta).
Survei dilakukan oleh Meiji Yasuda Life Insurance pada Maret. Respondennya sebanyak 1.620 pria dan wanita menikah usia 20 hingga 70 tahun.
Mayoritas responden menyebut kenaikan gaji sebagai faktor utama. Sebanyak 58,2 persen mengaitkannya dengan peningkatan pendapatan.
Selain itu, 29,9 persen menyebut dampak kenaikan harga sebagai alasan. Sementara 19,4 persen lainnya mengaitkannya dengan promosi kerja.
Kenaikan uang saku ini bahkan melampaui target kenaikan upah dalam negosiasi tahunan “shunto”. Saat itu, serikat pekerja menargetkan kenaikan minimal 5 persen.
Secara inflasi, kenaikan ini juga jauh di atas pertumbuhan harga konsumen. Data Februari menunjukkan inflasi hanya naik 1,6 persen secara tahunan.
Ekonom senior Meiji Yasuda menyebut kenaikan ini cukup mencolok. Ia menilai dampak kenaikan gaji kini mulai benar-benar terasa di tingkat rumah tangga.
Survei juga mencatat tabungan rumah tangga meningkat tajam. Rata-rata mencapai 18,5 juta yen (sekitar Rp2 miliar), naik 2,8 juta yen (sekitar Rp302 juta).
Dana tambahan itu banyak dialokasikan untuk kebutuhan hidup dan tabungan. Kekhawatiran biaya hidup serta situasi global turut memengaruhi keputusan keuangan.
Di Jepang, pengelolaan keuangan rumah tangga umumnya dipegang oleh istri. Survei 2022 menunjukkan 62,3 persen keputusan finansial diambil oleh pasangan perempuan.
Namun tren tersebut mulai berubah perlahan. Semakin banyak pasangan yang kini mengambil keputusan keuangan secara bersama.