← Beranda
Ancaman Baru AS ke Iran: Siap Gempur lagi jika Negosiasi Gagal, Jawaban Teheran Nggak Kalah Ngeri
Rian Alfianto• Jumat, 17 April 2026 | 07.03 WIB
A police officer walks past a billboard regarding the United States and Iran negotiations, outside a media facilitation center in Islamabad, Pakistan, Saturday, April 11, 2026. (AP Photo/Anjum Naveed)

JawaPos.com - Amerika Serikat (AS) kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran di tengah upaya diplomatik yang masih berlangsung. Washington menegaskan siap kembali melancarkan operasi militer jika Teheran memutuskan keluar dari meja perundingan.

Mengutip News18, Kamis (16/4), Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyampaikan ultimatum tersebut sembari menekankan bahwa militer Amerika tetap dalam kondisi siaga penuh, meski saat ini tengah berlangsung gencatan senjata.

“Kami mengawasi Anda,” ujar Hegseth, seraya mengklaim intelijen AS memantau setiap pergerakan aset militer Iran.

Pernyataan itu menjadi sinyal kuat bahwa ketegangan belum benar-benar mereda, dan eskalasi bisa terjadi sewaktu-waktu.

Di sisi lain, jalur diplomasi masih dibuka. Delegasi tingkat tinggi Pakistan yang dipimpin oleh Asim Munir telah melakukan pembicaraan dengan pejabat Iran guna menjajaki kemungkinan dimulainya kembali negosiasi antara Teheran dan Washington.

Pemerintah AS menyambut positif langkah tersebut. Gedung Putih bahkan mengindikasikan bahwa putaran perundingan berikutnya berpeluang digelar di Islamabad, menandakan peran penting Pakistan sebagai mediator.

Dalam pernyataan lanjutan, Hegseth menegaskan bahwa diplomasi memiliki batas waktu. Ia memperingatkan bahwa pasukan AS siap kembali berperang kapan saja jika pembicaraan tidak menghasilkan kesepakatan.

“AS kini mempersenjatai diri dengan kekuatan lebih besar dari sebelumnya. Industri energi belum hancur sepenuhnya. Blokade AS menghentikan ekspor. Saya harap Anda memilih kesepakatan yang ada di depan mata,” kata Hegseth.

Ia juga menegaskan bahwa blokade laut terhadap pelabuhan Iran akan terus berlangsung 'selama diperlukan'. Bahkan, AS mengklaim telah menguasai sepenuhnya lalu lintas di Selat Hormuz, serta menyebut Iran 'tidak lagi memiliki angkatan laut' setelah serangan besar-besaran oleh AS dan Israel.

Teheran Balas Ancaman, Risiko Global Meningkat

Iran tidak tinggal diam menghadapi tekanan tersebut. Militer Teheran memperingatkan bahwa mereka bisa memperluas konflik dengan mengganggu jalur perdagangan internasional di luar Selat Hormuz.

Iran mengancam akan memblokir jalur perdagangan di Laut Merah, Teluk, hingga Laut Oman jika blokade AS terus berlanjut—langkah yang berpotensi mengguncang pasar energi dan rantai pasok global.

Situasi ini menempatkan dunia dalam posisi waspada, di mana keberhasilan atau kegagalan diplomasi dapat menentukan arah stabilitas kawasan dan ekonomi global dalam waktu dekat.

EDITOR: Estu Suryowati