JawaPos.com - Pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi dimulai di Islamabad, Sabtu (11/4) waktu setempat dengan Pakistan bertindak sebagai mediator. Pertemuan ini menjadi upaya terbaru untuk mengakhiri konflik yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah selama enam minggu terakhir.
Langkah diplomatik ini berlangsung di tengah situasi yang masih tegang, meski kedua negara tengah menjalani gencatan senjata yang dinilai rapuh.
Peran Pakistan dalam konflik ini kembali mencuat, mengingat negara tersebut sebelumnya juga pernah menjadi perantara dalam dinamika kawasan. Dalam beberapa pekan terakhir, Islamabad aktif melakukan diplomasi intensif hingga akhirnya dipercaya menjadi mediator oleh kedua pihak.
Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance yang tiba di Islamabad pada Sabtu pagi. Sementara itu, delegasi Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammed Bagher Qalibaf.
Sebelum pembicaraan dimulai, kedua delegasi diketahui telah melakukan pertemuan terpisah dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Namun, belum ada kepastian apakah delegasi AS dan Iran akan bertemu langsung dalam satu forum yang sama.
Proses negosiasi berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan akibat aksi militer Israel di Lebanon. Militer Israel melaporkan telah menyerang lebih dari 200 target dalam 24 jam terakhir yang dikaitkan dengan kelompok bersenjata Hezbollah yang didukung Iran.
Situasi ini memperlemah gencatan senjata yang sudah rapuh, sekaligus menjadi salah satu isu utama dalam perundingan.
Tuntutan Iran: Hormuz hingga Aset Beku
Dalam proposal negosiasi 10 poin, Iran mengajukan sejumlah tuntutan penting. Salah satu yang utama adalah penghentian serangan Israel terhadap Hezbollah sebagai syarat tercapainya kesepakatan permanen.
Selain itu, Iran juga menuntut pencairan aset beku senilai USD 6 miliar, jaminan terkait program nuklirnya dan hak untuk mengenakan biaya pada kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Isu Selat Hormuz menjadi krusial karena jalur ini merupakan salah satu rute perdagangan energi terpenting di dunia.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa tujuan utama Amerika Serikat dalam konflik ini adalah mencegah Iran memiliki kemampuan nuklir.
"Tidak ada senjata nuklir. Itu 99% persen dari itu," kata Trump kepada wartawan sebelum naik pesawat Air Force One di Maryland.
Dikutip via NPR, pernyataan ini menunjukkan pergeseran fokus Washington, dari tujuan awal seperti menghancurkan kemampuan militer Iran dan mendorong perubahan rezim, dua hal yang hingga kini belum tercapai.
Pertemuan ini menjadi puncak dari rangkaian diplomasi intensif Pakistan. Negara tersebut sebelumnya juga berperan dalam memediasi gencatan senjata selama dua minggu antara AS dan Iran.
Kini, Islamabad mendadak menjadi pusat perhatian global. Ibu kota Pakistan yang biasanya relatif tenang itu telah bersiap selama beberapa hari untuk menyambut delegasi tingkat tinggi dari kedua negara.