JawaPos.com - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa proses negosiasi dengan Washington tidak lagi masuk akal setelah sejumlah pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata terjadi, bahkan sebelum pembicaraan resmi dimulai.
Dalam pernyataannya di platform X, Qalibaf menyebut Amerika Serikat kembali mengulang pola lama dengan melanggar komitmen yang telah disepakati.
“Sejak awal kami mengikuti proses ini dengan ketidakpercayaan, dan seperti yang diperkirakan, Amerika Serikat kembali melanggar komitmennya bahkan sebelum negosiasi dimulai,” ujarnya.
Tiga Pelanggaran yang Disorot Iran
Qalibaf mengungkap tiga poin utama dalam proposal damai Iran yang dinilai telah dilanggar.
Pertama, gencatan senjata di Lebanon tidak dijalankan. Ia menegaskan bahwa penghentian konflik di semua front, termasuk Lebanon, merupakan bagian dari kesepakatan. Hal ini juga sebelumnya disampaikan oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif.
Kedua adalah pelanggaran wilayah udara Iran. Sebuah drone dilaporkan memasuki wilayah Iran dan berhasil ditembak jatuh di kota Lar, Provinsi Fars.
Terakhir, penolakan hak pengayaan uranium. Amerika Serikat dinilai tidak mengakui hak Iran untuk memperkaya uranium, yang merupakan salah satu poin penting dalam proposal.
“Tiga klausul utama telah dilanggar secara terang-terangan bahkan sebelum pembicaraan dimulai,” tegas Qalibaf.
Serangan Israel Jadi Pemicu Utama
Pernyataan ini muncul di tengah laporan serangan besar-besaran Israel ke Lebanon yang menewaskan ratusan warga sipil.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya telah menegaskan bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran tidak mencakup Lebanon, sikap yang bertentangan dengan klaim sebagian pihak bahwa kesepakatan berlaku di semua front.
Langkah Israel ini dinilai Iran sebagai pelanggaran langsung terhadap kerangka kesepakatan.
Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyatakan bahwa proposal 10 poin Iran menjadi dasar yang 'bisa dikerjakan' untuk negosiasi. Namun, perbedaan tafsir, terutama terkait Lebanon dan program nuklir Iran, membuat implementasi di lapangan tidak sejalan.
Baca Juga: Situasi Masih Memanas, Inggris dan Arab Saudi Bahas Situasi Sekitar Iran
Pernyataan keras dari Qalibaf mempertegas bahwa jalur diplomasi kini berada dalam kondisi rapuh. Jika Iran benar-benar menarik diri dari proses negosiasi, maka peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat akan semakin kecil.