← Beranda
Gencatan Senjata AS dan Iran, Rusia: Siapa yang Menang? Akal Sehat
Nanda PrayogaKamis, 9 April 2026 | 15.05 WIB
Di tengah konflik Iran vs AS - Israel, sebanyak 7 ribu PMI asal Jawa Timur tercatat berada di kawasan Timur Tengah selama lima tahun terakhir. (Ilustrasi ChatGPT)

JawaPos.com - Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menyatakan bahwa akal sehat akhirnya menjadi faktor utama di balik meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam pernyataannya, Medvedev menilai konflik saat ini pada dasarnya hanya tertunda, dengan masing-masing pihak mengklaim keberhasilan.

"Jadi siapa yang menang? Pertama dan yang terpenting adalah akal sehat, yang sangat dirusak oleh pernyataan Gedung Putih tentang menghancurkan peradaban Iran dalam satu hari," kata Medvedev seperti dikutip dari Antara, Kamis (9/4).

Baca Juga: Liga Arab Desak AS Paksa Israel Hentikan Serangan Besar ke Lebanon

Ia juga menyebut kesiapan AS untuk mempertimbangkan usulan rencana 10 poin sebagai capaian bagi Iran, meskipun masih belum pasti apakah Washington akan menyetujui seluruh isi proposal tersebut.

Medvedev mengingatkan bahwa pemerintah AS harus berhati-hati menjaga gencatan senjata yang masih rentan dengan Teheran, karena langkah lanjutan berpotensi memperkeruh keadaan.

Secara terpisah, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, turut menanggapi situasi tersebut. Ia menilai pendekatan serangan agresif tanpa dasar yang jelas pada akhirnya tidak berhasil.

Baca Juga: Membabi Buta! Israel Serbu Lebanon Besar-besaran, 254 Orang Tewas

Zakharova menggambarkan kondisi di Timur Tengah sebagai bukti bahwa strategi berbasis eskalasi dan kekerasan tidak efektif maupun berkelanjutan.

Menurutnya, sejak awal Rusia telah menyerukan penghentian tindakan agresif secepatnya, sambil menegaskan pentingnya solusi politik dan diplomatik melalui perundingan yang berlandaskan hukum internasional serta saling menghormati kepentingan semua pihak.

Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan, yang dicapai kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS, Donald Trump. Kedua negara dijadwalkan memulai perundingan di Pakistan pada Jumat (10/4).

EDITOR: Banu Adikara