← Beranda
Institut AI Unggulan Inggris Didesak Reformasi Strategis Usai Dinilai Kurang Efektif dan Kurang Memberikan Nilai Publik
Mellyna Putri DiniarSelasa, 7 April 2026 | 21.47 WIB
UKRI menilai Institut Alan Turing masih perlu perbaikan meski telah menerima pendanaan 100 juta poundsterling selama lima tahun. Foto: (The Guardian)

JawaPos.com — Institut riset kecerdasan buatan paling terkemuka di Inggris, Institut Alan Turing (ATI), diperintahkan melakukan reformasi strategis besar-besaran oleh badan pendanaan utama pemerintah setelah evaluasi menunjukkan lembaga tersebut belum efektif dalam menyusun strategi dan belum memberikan nilai yang sepadan dengan dana publik yang diterima.

ATI didirikan pada 2015 dan didukung sejumlah universitas papan atas seperti Universitas Cambridge, Universitas Oxford, dan University College London. Lembaga ini memiliki mandat memimpin inovasi AI untuk berbagai sektor, termasuk kesehatan, lingkungan, dan keamanan nasional.

Dilansir dari The Guardian, Selasa (7/4/2026), UK Research and Innovation (UKRI), badan pendanaan ATI, menyatakan bahwa tinjauan mereka menemukan keselarasan strategi dan efektivitas penggunaan dana publik “belum memadai”. Evaluasi ini dilakukan setelah adanya pengaduan dari seorang whistleblower—pegawai atau pihak internal yang melaporkan dugaan pelanggaran—kepada Charity Commission, yang kemudian mengingatkan dewan ATI tentang kewajiban hukum mereka.

Baca Juga: PSG vs Liverpool FC di Liga Champions 2025/2026: Prediksi Skor, Pemain Kunci, dan Duel Sengit di Parc des Princes!

Sekitar pertengahan tahun lau, pemerintah menekankan perlunya perombakan strategis di ATI. Ancaman peninjauan kembali pendanaan pun sempat disampaikan jika perubahan tidak terjadi. Tekanan ini memicu mundurnya sejumlah pimpinan, termasuk CEO Jean Innes pada September 2025 dan Chair Doug Gurr pekan ini setelah menerima jabatan baru sebagai ketua tetap Competition and Markets Authority.

 

Prof. Charlotte Deane, pemimpin program AI di UKRI, menegaskan ATI harus fokus, efektif, dan selaras dengan kebutuhan nasional. “Tinjauan ini mengakui nilai dan potensi Institut Alan Turing, tetapi juga menunjukkan bahwa perubahan signifikan diperlukan di beberapa bidang,” ujarnya.

 

Reformasi yang diminta meliputi penyusunan strategi lebih jelas, penguatan tata kelola, dan fokus riset pada prioritas nasional seperti pertahanan dan keamanan. Di sisi lain, beberapa fokus sebelumnya seperti kesehatan dan lingkungan diturunkan prioritasnya.

 

George Williamson, yang sebelumnya bekerja di pemerintah dengan fokus keamanan nasional, ditunjuk sebagai CEO baru ATI. Oleh karena itu, UKRI kini bekerja sama dengan pimpinan baru ini untuk menerapkan rekomendasi tinjauan dan memperkuat arah strategis lembaga.

 

Juru bicara ATI menyatakan institusi telah memperkuat fokus dan tata kelola, namun perlu “percepatan dan kemajuan lebih besar.” Lebih lanjut, dia menambahkan, “Bekerja bersama lembaga pendanaan dan mitra, kami akan lebih ambisius dalam peran yang dapat kami mainkan bagi Inggris, dan kami menyambut penegasan misi tunggal kami dengan ketahanan nasional, keamanan, dan pertahanan sebagai inti.”

 

Selain itu, perubahan yang dipicu evaluasi UKRI mencerminkan dinamika global dalam riset AI. Negara-negara besar berlomba memfokuskan sumber daya untuk kepentingan strategis, melindungi kedaulatan teknologi, dan bersaing dengan kekuatan seperti Amerika Serikat dan Tiongkok.

 

Dalam konteks ini, ATI harus menegaskan kembali perannya di lanskap AI global yang kompetitif, sekaligus mempertahankan relevansi bagi komunitas ilmiah dan pembuat kebijakan di Inggris. 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho