← Beranda
Trump Berubah Lagi! Sempat Bicara Damai, Kini Ancam Hancurkan Iran ke 'Zaman Batu' dalam 2 Minggu
Rian AlfiantoKamis, 2 April 2026 | 22.56 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: (Gulf News)

JawaPos.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dinilai inkonsisten terkait arah perang melawan Iran.

Setelah sebelumnya memberi sinyal akan meredakan konflik, Trump kini justru melontarkan ancaman baru yang lebih keras, termasuk rencana menghancurkan infrastruktur energi Iran dalam waktu dekat.

Dalam pidato primetime pada Rabu (1/4) malam, Trump menegaskan bahwa operasi militer AS masih berjalan dan bahkan akan ditingkatkan dalam beberapa minggu ke depan.

Baca Juga: Pemerintah Bakal Siapkan Inpres Terkait Operasional Koperasi Merah Putih

“Kami akan menghantam mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan; kami akan membawa mereka kembali ke zaman batu,” ujar Trump.

Pernyataan ini langsung menuai sorotan karena bertolak belakang dengan narasi sebelumnya yang menyebut konflik akan segera berakhir dan tidak bertujuan mengganti rezim di Iran.

Ancaman Baru: Target Infrastruktur Energi Iran

Trump secara eksplisit menyebut bahwa fasilitas pembangkit listrik Iran menjadi target berikutnya jika tidak tercapai kesepakatan damai dalam waktu dekat.

“Jika tidak ada kesepakatan, kami akan menyerang setiap pembangkit listrik mereka secara bersamaan,” katanya.

Ancaman ini dinilai sejumlah pakar hukum internasional berpotensi melanggar hukum perang, karena menyasar infrastruktur sipil vital yang berdampak langsung pada masyarakat.

Di sisi lain, Trump tetap bersikeras bahwa tujuan utama AS bukanlah perubahan rezim. Namun, ia mengklaim perubahan itu 'secara efektif sudah terjadi' setelah tewasnya sejumlah pejabat tinggi Iran.

Meski Trump menyebut negosiasi masih berlangsung, Iran justru membantah adanya pembicaraan aktif dengan AS. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, bahkan memperingatkan konsekuensi serius dari ancaman serangan tersebut.

Dalam surat terbuka kepada rakyat Amerika, ia menegaskan:

“Menyerang infrastruktur vital Iran berarti menyerang rakyatnya. Ini bukan hanya kejahatan perang, tapi juga akan memperluas instabilitas global.”

Konflik yang telah berlangsung lebih dari sebulan ini juga memasuki fase krusial setelah Iran menutup Selat Hormuz—jalur penting yang mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan energi dunia.

Sebagaimana diketahui, perang yang berlarut mulai berdampak pada ekonomi global, terutama di Amerika Serikat. Harga bahan bakar kini menembus di atas USD 4 per galon,evel tertinggi sejak 2022, dan diperkirakan masih akan naik.

Meski demikian, Trump tetap optimistis kondisi akan segera pulih.

“Begitu konflik selesai, Selat Hormuz akan terbuka secara alami. Harga gas akan turun, dan pasar saham akan kembali naik,” ujarnya.

Namun, pernyataan ini dinilai terlalu optimistis di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi.

Trump juga tidak menyinggung kemungkinan pengerahan pasukan darat, termasuk rencana merebut Pulau Kharg, terminal minyak utama Iran, atau mengamankan material nuklir yang diduga tersembunyi di bawah tanah.

Namun, laporan menyebut opsi ini masih ada dalam perhitungan militer AS.

Di akhir pidatonya, Trump menyatakan dunia sedang menyaksikan langkah besar Amerika.

“Kami berada di ambang mengakhiri ancaman Iran terhadap dunia,” katanya.

Namun, perubahan sikap yang cepat, dari membuka peluang damai hingga kembali mengancam serangan besar, menambah ketidakpastian dalam konflik ini. Bagi banyak pengamat, inkonsistensi ini justru berpotensi memperpanjang perang dan memperbesar dampaknya secara global.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah