JawaPos.com–Ketegangan di Timur Tengah kian terasa. Negara-negara Teluk memperingatkan bahwa mereka bisa mengambil tindakan langsung terhadap Iran jika konflik yang sedang berlangsung terus bereskalasi dan mengancam stabilitas kawasan.
Peringatan keras ini disampaikan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan usai melakukan kunjungan diplomatik ke sejumlah negara Teluk. Termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Berbicara di Ankara pada Sabtu (21/3), Fidan mengungkapkan, para pejabat kawasan yang ditemui menilai konflik berpotensi berlangsung setidaknya dua hingga tiga minggu ke depan, dengan tingkat risiko yang terus meningkat.
Baca Juga: Veda Ega Akui Percaya Diri dengan Motor dan Performa di Moto3 Brasil
”Negara-negara Teluk sejak awal menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udara atau pangkalan mereka digunakan untuk menyerang Iran, dan tidak ingin menjadi pihak dalam perang ini,” ujar Fidan.
Namun di sisi lain, mereka juga menuding Iran telah menargetkan bukan hanya instalasi militer, tetapi juga infrastruktur sipil dan aset ekonomi, sebuah langkah yang dinilai dapat memicu respons lebih keras dari kawasan.
Risiko Perang Meluas
Fidan memperingatkan bahwa arah konflik bisa semakin berbahaya. Terutama dengan munculnya perbedaan sikap antara Amerika Serikat dan Israel.
Baca Juga: Ridwan Kamil Sampaikan Permohonan Maaf di Momen Idul Fitri 1447 H
”Israel akan mencoba memengaruhi AS dan berupaya mencegah gencatan senjata atau perdamaian dalam waktu dekat,” kata Hakan Fidan.
”Ada penilaian yang berkembang bahwa posisi awal AS dan Israel mulai berbeda. Ini bisa membuat perang berlangsung lebih lama,” imbuh dia.
Menurut Hakan Fidan, peluang negosiasi saat pertempuran masih berlangsung sangat kecil. Namun, dia membuka kemungkinan adanya gencatan senjata jangka pendek sebagai jalan masuk menuju perundingan, meski tetap berisiko kembali pecahnya konflik.
Mengutip TRT World, Fidan juga menilai Israel berpotensi memperpanjang perang demi memberikan tekanan lebih besar kepada Iran. Dia menegaskan, hambatan utama bukan ketiadaan rencana damai, melainkan minimnya kemauan politik untuk mencapainya.
Sementara dalam upaya meredam krisis, pertemuan regional digelar di Riyadh pada 19 Maret, mempertemukan negara-negara yang terdampak langsung maupun tidak langsung oleh konflik.
”Pertemuan ini bertujuan menyatukan penilaian negara-negara kawasan dan mencari titik temu,” jelas Fidan.
Baca Juga: Tinjau Pelabuhan Tanjung Perak, Kepala Basarnas Pastikan Petugas Siaga 24 Jam saat Lebaran
Dia menambahkan, meski fokus utama pembahasan adalah tindakan Iran, Turkiye juga memastikan kekhawatiran terhadap peran Israel turut dimasukkan dalam pernyataan bersama, khususnya terkait kebijakan yang dianggap ekspansionis.
Ke depan, konflik ini diperkirakan akan mengubah peta geopolitik kawasan. Negara-negara Teluk disebut dapat meninjau ulang strategi pertahanan mereka serta menetapkan ekspektasi baru terhadap Iran.
Fidan juga menyinggung kemungkinan bergesernya fokus ke kerja sama ekonomi pascaperang, sekaligus potensi tuntutan Iran terkait kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Baca Juga: Antisipasi Kepadatan Arus Balik, Korlantas Polri Terapkan One Way Nasional pada 24 Maret
Selain tengah situasi yang kian kompleks, Turki menegaskan posisinya sebagai pihak yang konsisten mendorong penyelesaian damai.
”Sejak awal, kami tidak mengambil sikap ambigu. Semua pihak tahu kami menyampaikan dengan jelas apa yang salah,” tegas Fidan.
Dia menutup dengan menekankan bahwa Ankara menolak baik aksi militer Israel maupun upaya Iran memperluas konflik, serta akan terus menggunakan jalur diplomasi untuk mencegah perang berubah menjadi konflik regional berkepanjangan.
Baca Juga: Hindari Potensi Kepadatan Arus Balik, Korlantas Polri Sarankan Pemudik Manfaatkan WFA