← Beranda
Iran Tolak Tuntutan ‘Menyerah Tanpa Syarat’ Trump, Presiden Masoud Pezeshkian Sebut Itu Sekadar “Mimpi”
Mellyna Putri DiniarMinggu, 8 Maret 2026 | 18.07 WIB
Asap membubung dari Bandara Mehrabad di Teheran setelah serangan udara Israel menggunakan puluhan jet tempur. Foto: (The Guardian)

JawaPos.com — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin meningkat setelah Iran secara terbuka menolak tuntutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar Teheran menyerah tanpa syarat dalam perang yang kini memasuki hari kedelapan. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa tuntutan tersebut tidak realistis dan menyebutnya sebagai “mimpi”.

Konflik yang melibatkan Iran, Israel, serta Amerika Serikat itu kini meluas ke berbagai negara di kawasan Teluk. Serangan rudal dan drone dilaporkan terjadi di sejumlah negara Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas regional serta dampaknya terhadap pasokan energi global dan jalur penerbangan internasional.

Melansir The Guardian, Minggu (8/3/2026), dalam pidato yang direkam sebelumnya dan disiarkan melalui televisi pemerintah Iran, Presiden Masoud Pezeshkian menolak keras tuntutan Washington yang meminta Iran menyerah tanpa syarat sebagai jalan mengakhiri perang.

Baca Juga: Israel Bom Kilang Minyak Teheran, Ledakan dan Kobaran Api Raksasa Membubung di Langit Ibu Kota Iran

Dalam pidato tersebut, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan eksternal. Ia menyatakan dengan tegas bahwa tuntutan tersebut tidak akan pernah dipenuhi oleh rakyat Iran.

“Musuh-musuh Iran harus membawa mimpi tentang penyerahan tanpa syarat rakyat Iran itu ke dalam kubur mereka,” kata Pezeshkian dalam pidatonya.  

Permintaan Maaf Iran kepada Negara Teluk

Dalam pidato yang sama, Pezeshkian juga menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga di kawasan Teluk yang terdampak serangan Iran selama konflik berlangsung. Pernyataan tersebut dinilai sebagai langkah yang jarang dilakukan oleh pemimpin Iran dalam situasi konflik militer.

“Saya secara pribadi meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang terdampak oleh tindakan Iran,” ujar Pezeshkian.  

Pernyataan tersebut muncul setelah sejumlah negara Arab Teluk melaporkan serangan rudal dan drone dalam sepekan terakhir, termasuk Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, serta Uni Emirat Arab. Banyak dari negara tersebut diketahui menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.  

Pezeshkian juga mengatakan bahwa dewan kepemimpinan sementara Iran telah memutuskan untuk menangguhkan serangan terhadap negara-negara tetangga, kecuali jika serangan terhadap Iran berasal dari wilayah negara tersebut.  

Respons Keras dari Donald Trump

Pernyataan Pezeshkian segera mendapat respons keras dari Presiden Donald Trump. Melalui platform media sosialnya, Truth Social, Trump memperingatkan bahwa Iran dapat menghadapi kehancuran total jika tidak memenuhi tuntutan Amerika Serikat.

Trump menegaskan bahwa perang hanya dapat dihentikan jika Iran memenuhi tuntutan Washington untuk menyerah tanpa syarat. Ia juga memperingatkan bahwa penolakan Teheran akan memicu eskalasi militer yang lebih keras.

Dalam pernyataannya, Trump menulis bahwa jika Iran tidak menyerah, negara itu “akan dihantam oleh serangan yang sangat keras”.

Ia juga mengklaim bahwa permintaan maaf Iran kepada negara-negara Teluk merupakan bukti bahwa tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel mulai memberikan dampak terhadap Teheran.

Serangan Militer Terus Berlanjut

Di tengah perang yang terus memanas, Israel dilaporkan meluncurkan gelombang serangan udara baru terhadap Iran. Sekitar 80 jet tempur Israel dikirim dalam serangan dini hari yang menargetkan sejumlah fasilitas militer penting di Teheran.  

Salah satu target serangan tersebut adalah Bandara Internasional Mehrabad, yang menjadi salah satu bandara utama di ibu kota Iran. Foto dan rekaman video menunjukkan kobaran api besar serta asap tebal yang membubung dari area bandara setelah serangan terjadi.

Iran juga melakukan serangan balasan. Sirene serangan udara dilaporkan berbunyi di Yerusalem, sementara ledakan juga terdengar di sejumlah kota Teluk seperti Dubai dan Manama.

Uni Emirat Arab menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 15 rudal balistik serta 119 drone yang diluncurkan pada Sabtu (7/3).  

Konflik yang Meluas di Timur Tengah

Konflik yang kini memasuki pekan kedua ini dipicu oleh serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa tersebut memicu eskalasi militer besar yang kini meluas hingga Lebanon serta wilayah Laut Mediterania timur.  

Israel juga meningkatkan serangan udara terhadap Lebanon, khususnya di wilayah yang menjadi basis kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung Iran.

Menurut laporan otoritas kesehatan Iran, sedikitnya ratusan warga sipil tewas dan ribuan lainnya terluka sejak konflik meletus. Sementara itu di Lebanon, ratusan korban jiwa juga dilaporkan akibat intensifikasi serangan udara Israel.  

Dengan perang yang terus meluas dan melibatkan sejumlah negara di kawasan, para pejabat Barat masih berusaha menafsirkan apakah permintaan maaf Presiden Pezeshkian menandai upaya meredakan konflik atau sekadar langkah diplomatik sementara di tengah tekanan militer yang semakin kuat.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho