← Beranda
Profil Mojtaba Hosseini Khamenei: Putra Pemimpin Revolusi yang Kini Pimpin Iran
Rian Alfianto• Kamis, 5 Maret 2026 | 14.37 WIB
Mojtaba Hosseini Khamenei resmi terpilih jadi pemimpin tertinggi Iran mengganti peran sang ayah Ayatollah Ali Khamenei. (NDTV).

JawaPos.com - Terpilihnya Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menandai babak baru dalam sejarah Republik Islam tersebut. Putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei itu selama ini lebih dikenal sebagai figur berpengaruh di balik layar ketimbang tokoh publik yang tampil terbuka.

Lahir di Mashhad pada 1969, Mojtaba tumbuh ketika ayahnya menjadi salah satu ulama yang vokal menentang pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Revolusi Islam 1979 mengubah nasib keluarganya secara drastis dan menempatkan mereka di pusat kekuasaan negara baru.

Latar Pendidikan dan Perdebatan Gelar Keulamaan

Setelah keluarga pindah ke Teheran, Mojtaba bersekolah di Alavi High School, institusi yang dikenal banyak melahirkan elite pemerintahan Iran. Ia kemudian melanjutkan studi agama di Qom, pusat pendidikan Syiah terkemuka.

Namun, meski telah lama berkecimpung di lingkungan hauzah (seminari), Mojtaba belum menyandang gelar ayatollah. Hal ini menjadi bahan perdebatan di kalangan ulama senior, mengingat secara konstitusional Pemimpin Tertinggi diharapkan memiliki otoritas keagamaan tinggi.

Jejak di Perang dan Lingkar Kekuasaan

Saat Perang Iran-Irak, Mojtaba bergabung dengan Batalyon Habib. Dari sana, ia membangun jaringan dengan tokoh-tokoh yang kelak menduduki posisi penting di sektor keamanan dan intelijen.

Meski tak pernah memegang jabatan publik atau mengikuti pemilu, Mojtaba kerap disebut sebagai 'penjaga gerbang' di Kantor Pemimpin Tertinggi, peran yang sering dibandingkan dengan posisi Ahmad Khomeini pada era Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Pengaruhnya diyakini mengalir dari kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), institusi militer yang sangat dominan dalam politik dan ekonomi Iran.

Sanksi dan Tuduhan Politik

Pada 2019, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba dengan tuduhan bahwa ayahnya telah mendelegasikan sebagian kewenangan kepadanya tanpa akuntabilitas publik.

Sejumlah politisi reformis serta pemerintah asing juga menudingnya berperan dalam memengaruhi proses pemilu dan mendukung tindakan keras aparat keamanan, tuduhan yang selalu dibantah otoritas Iran.

Laporan Bloomberg menyebut Mojtaba memiliki jaringan investasi luas, termasuk properti global dan aliran dana besar ke pasar Barat. Namun, nilai kekayaan pastinya tidak pernah diumumkan secara resmi.

Suksesi yang Menguji Narasi Republik Islam

Menariknya, sebelum wafat, Ali Khamenei disebut telah mengidentifikasi tiga ulama senior sebagai kandidat potensial penggantinya, dan nama Mojtaba tidak termasuk di antaranya.

Karena itu, suksesi dari ayah ke anak dinilai berpotensi mengguncang narasi awal Republik Islam yang menolak sistem monarki turun-temurun.

Kini, masa depan kepemimpinan Mojtaba sangat bergantung pada soliditas dukungan elite ulama dan faksi keamanan. Apakah ia mampu mengonsolidasikan kekuasaan atau justru menghadapi resistensi internal, akan menjadi penentu stabilitas politik Iran di tengah tekanan domestik dan internasional yang terus menguat.

 

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra