Korea Times juga melaporkan bahwa Trump mengenal Epstein secara sosial sejak tahun 1990-an hingga awal 2000-an. Trump menyatakan hubungan tersebut berakhir pada pertengahan 2000-an dan menegaskan dirinya tidak pernah mengetahui praktik pelecehan seksual yang dilakukan Epstein.
Sebagai catatan, Epstein sempat dijatuhi hukuman di Florida pada 2008 karena menyediakan anak di bawah umur untuk prostitusi. Ia kemudian kembali didakwa Departemen Kehakiman AS pada 2019 atas kasus perdagangan seks.
Dalam pernyataannya di platform X, Departemen Kehakiman menyebut bahwa sebagian dokumen memuat klaim sensasional dan tidak benar terkait Presiden Trump, yang sebelumnya diserahkan ke FBI menjelang Pemilu 2020. Departemen tersebut menegaskan klaim-klaim itu tidak berdasar dan tidak memiliki kredibilitas.
Meski demikian, Departemen Kehakiman tetap merilis dokumen-dokumen tersebut sebagai bagian dari komitmen terhadap transparansi dan penegakan hukum, dengan tetap menerapkan perlindungan hukum bagi para korban Epstein.
Rilis terbaru ini mencakup sekitar 30.000 halaman dokumen yang sebagian besar disensor, serta puluhan klip video, termasuk beberapa yang diklaim diambil dari dalam pusat penahanan federal. Epstein sendiri ditemukan meninggal dunia di penjara New York pada 2019, dengan kematian yang dinyatakan sebagai bunuh diri.
Dokumen lain turut mengungkap email tahun 2021 dari seseorang yang tidak diketahui identitasnya, yang mengaku menemukan gambar Trump bersama Maxwell saat meninjau data ponsel mantan ajudan Trump, Steve Bannon. Identitas pengirim dan penerima email tersebut kemudian disunting oleh pemerintah.
Selain itu, terdapat pula foto buram yang memperlihatkan Trump duduk di samping Maxwell. Gambar tersebut sesuai dengan foto keduanya dalam sebuah peragaan busana di New York pada tahun 2000.
Baca Juga: 10 Lagu Natal Paling Populer yang Selalu Diputar Setiap Tahun, Teman Setia Menyambut Hari Raya
Pengungkapan ini juga memuat sejumlah catatan lain yang menyebut nama Trump, meski tidak menunjukkan bahwa pemerintah menganggap informasi tersebut kredibel. Salah satunya adalah gambar kartu ucapan yang diduga dikirim Epstein kepada Larry Nassar, mantan dokter senam yang dipenjara atas kasus pelecehan seksual. Pesan tulisan tangan di kartu tersebut menyinggung Trump tanpa menyebutkan namanya secara langsung.
Departemen Kehakiman kemudian menyatakan bahwa kartu tersebut palsu dan menegaskan akan terus merilis arsip Epstein sesuai ketentuan hukum.
Pemerintah juga mengungkap adanya laporan panggilan ke saluran informasi FBI yang menyebut nama Trump. Namun, identitas penelepon tidak diungkap, dan tidak ada kejelasan apakah laporan tersebut ditindaklanjuti atau dianggap kredibel oleh penyidik.
Salah satu penelepon mengklaim pernah menjadi sopir limusin Trump pada 1995 dan mengaku mendengar Trump melakukan percakapan telepon dengan seseorang bernama “Jeffrey,” yang pada satu titik menyinggung pelecehan terhadap seorang gadis.
Baca Juga: 10 Tradisi Natal Unik dari Berbagai Belahan Dunia
Pada hari yang sama, pemerintah juga merilis sebuah video yang diklaim memperlihatkan Epstein berlutut di dalam sel penjaranya. Namun, pemeriksaan Reuters menyimpulkan bahwa video tersebut kemungkinan merupakan hasil rekayasa komputer yang pertama kali beredar di media sosial pada 2020, setahun setelah Epstein meninggal.
Video tersebut diserahkan ke Departemen Kehakiman oleh seseorang yang mengklaim rekaman itu menunjukkan kematian Epstein, sebagaimana tertulis dalam email lain yang turut dirilis pada Selasa tersebut. (*)