JawaPos.com - Timor Leste atau Timor Timur merupakan negara kepulauan yang terletak di bagian timur Kepulauan Sunda Kecil, di ujung selatan Kepulauan Melayu. Dikutip dari Britannica, negara ini menempati setengah bagian timur Pulau Timor, serta pulau-pulau kecil di sekitarnya. Dili menjadi ibu kota sekaligus kota terbesar di negara tersebut.
Ekspansi Portugal ke Timor Timur
Melansir dari EBSCO, pada paruh kedua abad ke-15, raja-raja Eropa mulai memperluas kekuasaan dan sumber daya mereka. Bagi Portugal, perluasan ini dilakukan melalui ekspansi ke luar benua Eropa. Portugal hanya mampu mengelola sebagian kecil dari wilayah kekuasaannya di Asia, salah satunya adalah bagian timur Pulau Timor.
Para pedagang Portugis tertarik ke Timor karena kayu cendana menjadi komoditas penting dalam perdagangan dengan Tiongkok. Ketertarikan ini kemudian memicu persaingan dengan para pedagang Belanda yang juga ingin menguasai pasar cendana di Timor.
Konflik antara keduanya berlangsung lama hingga akhirnya pada tahun 1859 ditandatangani perjanjian yang menetapkan batas wilayah Belanda dan Portugal. Sejak saat itu, wilayah barat Pulau Timor menjadi bagian dari Hindia Belanda, yang kemudian bergabung ke Indonesia setelah merdeka pada 1949.
Meskipun banyak kekuatan kolonial mulai melepaskan jajahannya pasca-Perang Dunia II, Portugal tetap bersikeras mempertahankan wilayah koloninya. Hingga akhirnya, terjadi perlawanan dari dalam negeri sendiri, dan terjadi kudeta oleh Movimento das Forças Armadas (Gerakan Angkatan Bersenjata) pada 25 April 1974.
Keberhasilan kudeta ini berdampak besar bagi masa depan Timor Timur. Perekonomian Portugal yang lemah membuat negara itu tak lagi mampu mempertahankan koloninya, termasuk Timor Timur. Meski demikian, pemerintah baru Portugal tetap berhati-hati dalam melepaskan wilayah jajahan tersebut, meskipun saat itu kondisi politik di Timor Timur relatif tenang dan belum banyak memiliki gerakan kemerdekaan yang kuat.
Bangkitnya Gerakan Politik di Timor Timur
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Tiga kekuatan politik mulai muncul di Timor Timur. Pertama, União Democrática de Timor (UDT) yang menginginkan kelanjutan hubungan dengan Portugal sebelum menuju kemerdekaan penuh.
Kedua, Associação Popular Democrática de Timor (APODETI) yang justru mendukung integrasi dengan Indonesia karena menilai Timor Timur belum siap menjadi negara mandiri.
Terakhir, Frente Revolucionaria de Timor Leste Independente (FRETILIN), yang menyerukan kemerdekaan penuh serta kebijakan luar negeri yang netral dan bebas dari campur tangan asing.
Kemunculan tiga partai ini membuat pemerintah Portugal kewalahan. Situasi semakin tegang ketika UDT melakukan kudeta pada 11 Agustus 1975, memaksa Gubernur Portugis Mario Lemos Pires meninggalkan Dili. Kudeta tersebut memicu perang saudara yang berakhir dengan kemenangan FRETILIN.
Proklamasi Kemerdekaan Sepihak
Menurut Government of Timor Leste, pada 28 November 1975 FRETILIN bersama Perdana Menteri Xavier do Amaral secara sepihak memproklamasikan kemerdekaan Timor Leste. Nicolau Lobato ditunjuk sebagai Perdana Menteri sekaligus pemimpin pertama gerakan perlawanan bersenjata.
Namun, kemerdekaan tidak berlangsung lama. Hal ini memicu perang saudara dan konflik dengan Indonesia. Indonesia kemudian mengumumkan wilayah itu sebagai provinsi ke-27, dengan nama Timor Timur.
Konflik dengan Indonesia
Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soeharto khawatir keberadaan negara baru yang berhaluan nonblok dan berpotensi mendekat ke ideologi kiri akan mengganggu stabilitas kawasan. Kekhawatiran juga muncul bahwa penduduk Timor Barat bisa menuntut penyatuan dengan Timor Timur.
Dengan alasan melindungi warga negara Indonesia di wilayah tersebut, Indonesia mengirim angkatan bersenjata ke Dili pada 8 Desember 1975. FRETILIN kemudian mundur ke daerah pegunungan dan melancarkan perang gerilya.
Pada masa itu, Timor Timur masih bergantung pada pertanian dan infrastruktur yang minim. Konflik dengan Indonesia menyebabkan penderitaan rakyat, lebih dari 10 persen penduduk diperkirakan tewas akibat pertempuran, kelaparan, dan penyakit.
Di sisi internasional, pemerintah Amerika Serikat memberikan dukungan diam-diam terhadap langkah Indonesia, karena menilai FRETILIN sebagai organisasi berhaluan kiri atau bahkan Marxist.
Tragedi dan perjuangan panjang ini menjadi awal dari perjalanan berdarah Timor Leste menuju kemerdekaan yang baru benar-benar diakui dunia internasional pada tahun 2002.