← Beranda
Demonstran Gen Z Guncang Nepal, Militer Jadi Penentu Arah Politik
Bhagas Dani PurwokoSabtu, 13 September 2025 | 03.41 WIB
Tentara Angkatan Darat Nepal fokus melakukan penjagaan, menunggu penunjukan Perdana Menteri (PM) sementara. (france24.com)

 

JawaPos.com - Saat para demonstran "Gen Z" di Nepal membakar gedung Parlemen, Mahkamah Agung, serta rumah lima mantan perdana menteri pada Selasa (9/9/2025), negara itu seolah kehilangan kendali dan terjerumus dalam kekacauan.

Malam harinya, Jenderal Ashok Raj Sigdel, Panglima Angkatan Darat Nepal, muncul lewat sebuah video singkat untuk menyerukan ketenangan di jalan-jalan.

Menurut laporan The New York Times, pasukan tentara Nepal mulai mengambil alih kendali sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Gelombang protes yang sebelumnya mengguncang ibu kota, Kathmandu, pun perlahan mereda.

Di malam yang sama, sejumlah perwira militer bertemu dengan para pemimpin muda dari gerakan protes yang menamakan diri mereka Gen Z guna merancang langkah menuju perdamaian.

Kini, tentara Nepal menjadi satu-satunya lembaga yang masih memiliki wewenang untuk bernegosiasi dengan para penggerak pemberontakan. Posisi ini menempatkan militer, yang dikenal kuat di kancah internasional, pada peran yang jarang mereka jalani.

Selama ini, militer Nepal dihormati karena tidak pernah berdiri sendiri dalam kekuasaan. Namun, situasi terbaru membuat mereka berada di tengah transisi yang sulit.

“Tentara pasti akan menciptakan kondisi aman hingga pemilu digelar,” ujar Mayor Jenderal Binoj Basnyat, purnawirawan Angkatan Darat Nepal sejak 2016.

Saat memulai dinasnya, angkatan bersenjata itu masih bernama Tentara Kerajaan Nepal. Binoj Basnyat pun menegaskan rasa bangganya pada institusi militer, sebagaimana halnya mayoritas rakyat Nepal.

Menurut survei Asia Foundation pada 2022, sekitar 91 persen warga menaruh kepercayaan lebih besar pada Angkatan Darat dibanding lembaga lain di Nepal.

Binoj Basnyat menilai kepercayaan itu lahir karena militer berkomitmen tetap tunduk pada otoritas sipil.

Ia juga menegaskan bahwa yang menembaki pengunjuk rasa Gen Z pada Senin adalah polisi bersenjata, bukan tentara Nepal. Sedikitnya 19 orang tewas dalam insiden tersebut.

Sikap tentara yang menghormati warga sipil minggu ini dianggap patut diapresiasi. Padahal, di masa lalu, sebagai tentara kerajaan, mereka hanya bertanggung jawab kepada raja, bahkan setelah Nepal beralih menjadi negara demokrasi multipartai pada 1990.

Dalam perang saudara berdarah antara pemerintah dan pemberontak Maois pada 1996–2006, tentara tetap setia kepada kerajaan di Kathmandu, bukan kepada rakyat.

Tentara Nepal yang telah berdiri hampir 500 tahun itu mengibarkan panji tempur bergambar genderang dan trisula Siwa, dewa Hindu.

Reputasi keberanian mereka pada akhir abad ke-18 begitu besar hingga Inggris menjadikan mereka satu unit khusus bernama Gurkha dalam pasukan kolonial.

Hingga kini, Inggris dan India masih mempertahankan pasukan Gurkha yang direkrut dari penduduk Nepal. Jenderal India ternama, Sam Manekshaw, bahkan pernah berkata, “Jika seseorang bilang ia tak takut mati, maka ia berbohong, atau ia seorang Gurkha.”

Di era modern, tentara Nepal aktif berpartisipasi dalam misi penjaga perdamaian PBB di Afrika, Timur Tengah, dan wilayah lain.

Menurut Ashok K. Mehta, jenderal India yang pernah banyak bekerja dengan militer Nepal, jumlah tentara Nepal meningkat pesat selama perang saudara.

Kekuatan itu, katanya, berhasil memaksa kaum Maois duduk di meja perundingan pada 2005 dan membuka jalan menuju perdamaian.

Namun, Mehta menilai transformasi tentara Nepal masih berlangsung. Sejarah feodal mereka tidak otomatis mempersiapkan mereka sebagai penjaga demokrasi.

Kerusuhan beberapa hari terakhir, ketika otoritas sipil menghilang, membuat militer terpaksa memikul peran yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Menurutnya, Panglima Militer Jenderal Sigdel kini menghadapi situasi “sangat suram” karena, untuk pertama kalinya dalam sejarah Nepal, militer berada di puncak kekuasaan politik.

Meski begitu, Mehta tidak melihat tentara Nepal sebagai institusi yang ambisius, melainkan penuh ketidakpastian.

Kesalahan terbesar tentara, katanya, adalah terlambat bertindak pada Selasa, padahal langkah lebih cepat bisa menyelamatkan nyawa dan mencegah kerugian miliaran dolar.

Jenderal Sigdel sendiri relatif kurang dikenal publik. Mehta, yang pernah bekerja dengannya, menyebut Sigdel bukan komunikator yang baik.

Kelemahan semacam itu mungkin tak terlalu berpengaruh sepanjang sejarah panjang tentara Nepal. Namun kini, menghadapi generasi muda yang militan dan penuh daya, para jenderal tampaknya perlu menyiapkan strategi baru. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah