← Beranda
Jumlah Korban Jurnalis dalam Perang Israel-Gaza Terus Bertambah: 36 Tewas, 8 Luka-Luka, dan 9 Orang Hilang
Amanda Luthfi IndrasariJumat, 3 November 2023 | 23.41 WIB
Para reporter yang menghindar saat mendengar sirine peringatan roket yang akan meluncur ke Gaza.

JawaPos.com – Perang Gaza-Israel kini telah memakan banyak korban termasuk para jurnalis yang sedang meliput konflik secara langsung sejak Hamas melancarkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Israel (7/10) lalu.

Imbas dari serangan Hamas tersebut, Israel pun dengan tegas menyatakan perang terhadap kelompok militan Palestina dengan meluncurkan serangan di Jalur Gaza yang diblokade.

Committee to Protect Journalists (CPJ) saat ini sedang menyelidiki seluruh laporan jurnalis dan pekerja media yang terbunuh, terluka, ditahan, atau bahkan hilang dalam perang, termasuk mereka yang mengalami luka saat perang menyebar ke negara tetangga Lebanon.

Baca Juga: PBB Sebut Serangan Israel ke Kamp Pengungsian sebagai Kejahatan Perang

Hasil dari penyelidikan awal yang dilakukan CPJ, Kamis(2/11), menunjukkan setidaknya 36 jurnalis dan pekerja media tewas sejak perang dimulai, bersama dengan lebih dari 9.000 warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat, serta 1.400 kematian warga Israel.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan kepada Reuters dan Agence France Press bahwa pihaknya tidak dapat menjamin keselamatan jurnalis mereka yang beroperasi di Jalur Gaza, setelah mencari jaminan bahwa karyawannya tidak akan menjadi sasaran serangan negaranya.

"IDF menargetkan semua aktivitas militer Hamas di seluruh Gaza," tulis surat IDF.

Baca Juga: Kelompok Kebebasan Media Tuduh Israel dan Hamas Lakukan Kejahatan Perang dan Kematian 34 Jurnalis

Mereka menambahkan, bahwa Hamas sengaja menempatkan operasi militer "di sekitar jurnalis dan warga sipil ... Kami tidak dapat menjamin keselamatan karyawan Anda, dan sangat mendesak Anda untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk keselamatan mereka," pungkasnya.

Diketahui, jurnalis di Gaza saat ini tengah menghadapi risiko yang sangat tinggi ketika mereka mencoba untuk meliput kejadian.

Sebab, mereka harus menghadapi serangan darat Israel di Kota Gaza, serangan udara yang menghancurkan, komunikasi yang terganggu, hingga pemadaman listrik yang luas.

Baca Juga: Deklarasi Balfour, Awal Sejarah Pendudukan Zionis Israel di Tanah Palestina

Pada 2 November, 36 jurnalis dan pekerja media dipastikan tewas, diantaranya 31 warga Palestina, 4 warga Israel, dan 1 warga Lebanon. Selain itu, delapan jurnalis dilaporkan terluka dan sembilan lainnya hilang atau ditahan.

Serangan, penangkapan, ancaman, penyensoran, hingga pembunuhan anggota keluarga yang berkelanjutan juga dirasakan oleh para jurnalis dan pekerja media yang terlibat dalam peliputan konflik Gaza-Israel.

CPJ juga menyelidiki banyak laporan yang belum dikonfirmasi mengenai jurnalis lain yang terbunuh, hilang, ditahan, terluka, atau diancam, dan kerusakan kantor media serta rumah pribadi jurnalis.

"CPJ menekankan bahwa jurnalis adalah warga sipil yang melakukan pekerjaan penting selama masa krisis dan tidak boleh menjadi sasaran pihak-pihak yang bertikai," kata Sherif Mansour, koordinator program CPJ Timur Tengah dan Afrika Utara.

"Jurnalis di seluruh wilayah membuat pengorbanan besar untuk meliput konflik yang memilukan ini. Mereka yang berada di Gaza, khususnya, telah membayar, dan terus membayar, jumlah korban yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menghadapi ancaman eksponensial. Banyak yang kehilangan kolega, keluarga, dan fasilitas media, hingga melarikan diri mencari keselamatan ketika tidak ada tempat berlindung yang aman atau keluar." ujarnya.

Baca Juga: Hari Ke-27 Kampanye Genosida Israel: 9.061 Korban Jiwa, 2.060 Dinyatakan Hilang

Meskipun pihak CPJ tidak mengetahui secara pasti apakah para jurnalis yang menjadi korban perang Gaza-Israel ini meliput konflik pada saat kematiannya, namun pihaknya akan tetap menghitung dalam penyelidikannya.

EDITOR: Nicolaus