JawaPos.com – Libya sedang dilanda banjir bandang yang menyebabkan ribuan orang dinyatakan hilang. Badai besar dan hujan yang melanda kota Derna itu menghancurkan bangunan-bangunan dan menghantam pemukiman warga.
Baca Juga: BI Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan S1 dan S2 Berbagai Jurusan, Simak Persyaratannya
Juru bicara Libya National Army (LNA), Ahmed Mismari mengatakan bahwa bencana yang terjadi saat ini adalah akibat dari runtuhnya bendungan di atas Derna. Hal ini mengakibatkan air menyapu seluruh penduduknya ke laut. Mismari mengatakan setidaknya 5.000-6.000 orang telah hilang. Tujuh anggota LNA juga tewas akibat banjir tersebut.
Dilansir dari Reuters, Selasa (12/9), pada Senin (11/9) kepala kelompok Bulan Sabit Merah di wilayah tersebut mengatakan jumlah korban tewas yang sudah dilaporkan mencapai 150 orang dan diperkirakan akan terus bertambah. Dewan Kepresidenan Libya sudah meminta bantuan kepada komunitas internasional.
Baca Juga: Ketua DPRD: Usulan Dana Operasional RT/RW Surabaya Perlu Pertimbangan
Osama Hamad, kepala pemerintahan wilayah timur mengatakan pada siaran televisi lokal bahwa 2000 orang lebih telah tewas dan ribuan lainnya hilang tersapu banjir. Banjir bandang ini disebabkan oleh Badai Daniel yang menyapu Mediterania pada Minggu (10/9) sehingga membanjiri jalan-jalan dan menghancurkan bangunan di kota Derna serta menghantam pemukiman di sepanjang pantai, termasuk kota Benghazi yang merupakan kota terbesar kedua di Libya.
Sebuah video menampilkan arus deras air yang mengalir melalui saluran air di pusat kota dan menghancurkan bangunan-bangunan ada. Televisi lokal Libya juga menampilkan orang-orang duduk di atap kendaraan mereka meminta bantuan.
Baca Juga: Konflik Pulau Rempang, Polisi Tangkap 43 Orang Terkait Kericuhan di Kantor BP Batam
Salah satu warga kota Derna, Saleh al-Obaidi mengatakan ia berhasil menyelamatkan diri bersama kelurganya meskipun rumah-rumah di dekat lembah kota tersebut runtuh. Warga lainnya juga mengatakan air sudah mengepung rumah mereka saat mereka masih tertidur sehingga sulit untuk keluar.
Seorang saksi mata mengatakan ketinggian air mencapai tiga meter, operasi pencarian dan penyelamatan masih terus dilakukan. Pihak berwenang juga mengumumkan kondisi tersebut sebagai keadaan darurat ekstrem sehingga harus menutup sekolah dan toko, serta harus memberlakukan jam malam.