JawaPos.com - Selama 17 tahun, Susilo Nugroho hidup bersama karakter Den Baguse Ngarso dalam serial televisi "Mbangun Desa". Seniman itu kini telah meninggal dunia dengan jejak karya yang lekat di hati masyarakat, terutama Yogyakarta.
Tokoh Den Baguse Ngarso yang angkuh dan gila hormat itu bukan sekadar peran yang dimainkan, tetapi ikut menjadi bagian penting dalam perjalanan berkesenian Susilo hingga namanya dikenal luas masyarakat.
Bagi Susilo, serial "Mbangun Desa" menjadi salah satu fase yang paling membekas dalam hidupnya. Bukan hanya karena panjangnya masa pengabdian dalam serial tersebut, tetapi juga karena program itu berhasil menyampaikan pesan kepada masyarakat tanpa terasa seperti sedang menggurui.
Saat ditemui Radar Jogja (Jawa Pos Grup) di kediamannya di Kampung Jogokaryan, Kota Jogja, 2022 lal, Susilo mengaku hampir dua dekade memerankan Den Baguse Ngarso.
Baca Juga: MK Diminta Batalkan Jabatan Wapres Gibran, Syarat Pendidikan Dipersoalkan
Ia mengenang proses syuting "Mbangun Desa" sebagai pengalaman yang selalu berkesan. Baginya, keberhasilan sebuah episode bukan semata ketika penonton tertawa, melainkan saat pesan yang disisipkan dalam cerita benar-benar dipahami dan mengubah perilaku masyarakat.
Salah satu episode yang paling diingatnya berkaitan dengan kebiasaan masyarakat desa menjemur gabah di depan rumah. Kebiasaan tersebut terkadang membuat gabah memenuhi sisi kanan dan kiri jalan sehingga mengganggu pengguna jalan.
Cerita itu kemudian dikemas dengan pendekatan komedi. Dalam adegan tersebut, seorang pengendara motor harus mematikan kendaraannya dan bermanuver zig-zag agar tidak menggilas gabah yang sedang dijemur.
Tak disangka, pesan sederhana dari episode tersebut kemudian membawa perubahan. Susilo mengaku mendapat informasi bahwa setelah episode itu ditayangkan, mulai ada masyarakat di sebuah desa yang mengubah cara menjemur gabah.
Gabah tidak lagi memenuhi kedua sisi jalan sehingga pengguna jalan tetap bisa melintas.
Bagi Susilo, perubahan kecil semacam itu justru menjadi keberhasilan terbesar dari "Mbangun Desa" Sebab, pesan tidak perlu disampaikan melalui ceramah panjang agar bisa diterima masyarakat.
"Sehingga sebenarnya yang paling mengesankan bukan isi penyuluhannya, tapi perubahan perilaku (edukasinya tersampaikan) di masyarakat," ucapnya dikutip dari Radar Jogja (Jawa Pos Grup), Senin (21/9).
Baca Juga: Seniman Susilo Nugroho Meninggal Dunia, Dikenal Lewat Pemeran Den Baguse Ngarsa
Bagi Susilo, seni pada akhirnya bukan hanya tentang tampil dan menghibur. Ada pesan yang bisa dititipkan lewat karakter, cerita, dan tawa.
Selama 17 tahun menjadi Den Baguse Ngarso, ia telah menunjukkan bahwa sebuah karya bisa menyampaikan pendidikan dengan cara yang ringan mengingatkan tanpa menghakimi, serta mengajak berubah tanpa merasa sedang dinasihati.
Kini, Susilo Nugroho telah berpulang. Namun Den Baguse Ngarso dan jejak keseniannya tetap tinggal dalam ingatan masyarakat, termasuk melalui karya Mbangun Desa yang pernah membuat hiburan dan penyuluhan berjalan beriringan.