← Beranda
Permintaan Maaf Choi Siwon Super Junior Atas Postingan Rasis dan Islamofobia Dinilai Tak Tulus, Petisi Pengusiran Semakin Menguat
Alyssa NaziraRabu, 1 Oktober 2025 | 21.01 WIB
Permintaan maaf Siwon Super Junior soal postingan rasis dianggap gagal, petisi pengusiran kian menguat. (Instagram/@siwonchoi)

JawaPos.com - Nama Choi Siwon, member grup legendaris Super Junior, kembali menjadi sorotan tajam publik internasional.

Bukan karena karya musik ataupun aktivitas panggung, melainkan akibat serangkaian unggahan kontroversial di media sosial yang kini berujung pada desakan agar dirinya dikeluarkan dari grup.

Melansir laman Koreaboo, kontroversi bermula dari postingan Siwon mengenai Charlie Kirk, seorang aktivis sayap kanan Amerika yang kerap menuai polemik.

Namun, situasi semakin memanas setelah ia mengunggah ulang sebuah video dari akun @reformedbychrist dengan keterangan, “Umat Kristen Nigeria menolak meninggalkan iman mereka setelah kaum Islamis membakar gereja mereka hingga rata dengan tanah.”

Unggahan tersebut segera menuai gelombang kecaman. Banyak netizen menilai isi postingan itu sarat dengan rasisme dan Islamofobia, sekaligus menunjukkan sikap kontradiktif Siwon.

Pasalnya, sang idola sebelumnya sempat menyoroti isu kemanusiaan di Gaza, namun justru membagikan konten yang dianggap penuh kebencian terhadap kelompok lain.

Melihat kontroversi yang semakin meluas, Siwon akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui platform chat khusus penggemar.

Dalam klarifikasinya, ia mengakui unggahan tersebut dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Ia menuturkan bahwa menurut data resmi, sepanjang tahun 2025 di Nigeria, sekitar 7 ribu umat Kristen terbunuh dan lebih dari 7 ribu orang diculik oleh kelompok bersenjata ekstremis seperti Boko Haram dan ISWAP (Islamic State West Africa Province).

Siwon menjelaskan bahwa sebagai seorang Kristen, ia merasa sangat berduka melihat penderitaan tersebut dan ingin meningkatkan kesadaran dunia terhadap tragedi kemanusiaan yang jarang mendapat sorotan.

“Saya ingin menegaskan, tidak ada niat untuk menebarkan kebencian terhadap umat Muslim atau memprovokasi konflik antaragama. Dunia kita adalah tempat di mana berbagai latar belakang dan keyakinan seharusnya hidup berdampingan dengan rasa hormat dan kasih. Sekali lagi, saya meminta maaf atas kekhawatiran dan rasa sakit yang mungkin ditimbulkan dari kesalahpahaman ini,” tulisnya.

Alih-alih meredakan amarah, pernyataan tersebut justru dianggap tidak tulus.

Baca Juga: Kaya Raya Abadi: 6 Rezekinya Mengalir Lancar Seumur Hidup Menurut Primbon Jawa

Banyak netizen menyebut permintaan maaf Siwon sebagai bentuk kemunafikan karena tetap menyudutkan kelompok tertentu meski ia menolak label Islamofobia.

Kritik semakin deras, terutama dari penggemar internasional yang menilai idola dengan popularitas global harus lebih berhati-hati dalam menyuarakan isu sensitif.

Kekecewaan publik akhirnya berujung pada tindakan nyata. Sebuah petisi di Change.org yang menyerukan pengusiran Siwon dari Super Junior kini semakin mendapat dukungan.

Hingga saat ini, petisi tersebut telah mengumpulkan lebih dari 4.190 tanda tangan, dan jumlahnya terus bertambah setiap harinya sejak kontroversi pertama mencuat.

Gerakan ini menunjukkan betapa seriusnya dampak yang ditimbulkan dari satu unggahan media sosial seorang figur publik.

Situasi juga menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan Siwon di Super Junior, serta bagaimana pihak agensi akan menyikapi tekanan besar dari publik global.

Kasus ini menambah daftar panjang kontroversi yang pernah melibatkan Siwon, terutama terkait sikapnya yang vokal mengenai isu politik dan agama.

Meski hal tersebut mencerminkan keberanian menyuarakan pandangan pribadi, bagi seorang selebriti dengan penggemar lintas negara, dampaknya bisa sangat besar dan memicu konflik internasional.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak agensi terkait desakan publik.

Namun, jelas bahwa kontroversi ini telah mengguncang citra Siwon, sekaligus menciptakan keretakan antara dirinya dengan sebagian besar penggemar yang sebelumnya selalu mendukungnya. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah