JawaPos.com - Perseteruan hukum antara mantan CEO ADOR, Min Hee Jin, dengan HYBE kembali memasuki babak baru yang penuh kontroversi.
Melansir laman Allkpop, Min Hee Jin, yang tengah terlibat sengketa mengenai pelaksanaan opsi jual senilai 26 miliar KRW atau sekitar Rp 308,5 miliar (dengan kurs Rp 11,87 per KRW), dituduh menyerahkan bukti percakapan KakaoTalk yang diduga telah dimanipulasi ke pengadilan.
Isu ini pertama kali mencuat pada sidang yang digelar pada 11 September lalu di Pengadilan Distrik Pusat Seoul.
Baca Juga: Min Hee Jin Tegaskan HYBE Dorong ILLIT untuk Lampaui NewJeans dalam Sidang Terakhir
Dalam kesempatan itu, pihak HYBE mengungkapkan adanya “versi alternatif” dari percakapan KakaoTalk yang berbeda dengan versi yang sebelumnya diajukan oleh pihak Min Hee Jin sebagai bukti.
Berdasarkan keterangan dari kalangan hukum pada 14 September, HYBE menuding bahwa log percakapan KakaoTalk yang diserahkan oleh kubu Min Hee Jin mengandung baris-baris tambahan yang mencurigakan.
Isi percakapan tersebut diduga menunjukkan adanya upaya Min Hee Jin untuk mengarahkan bahkan merekayasa dialog dengan seorang mantan eksekutif ADOR.
Dalam versi yang dipaparkan HYBE di persidangan, Min Hee Jin diduga sempat memberikan instruksi kepada eksekutif tersebut, seperti, “Aku akan tangkap layar percakapan ini, jadi tulis yang bagus,” lalu, “Sekarang waktunya bertindak, coba lagi,” serta, “Hapus lalu tulis ulang. Potong di sini.”
Kalimat-kalimat tersebut dianggap sebagai indikasi bahwa percakapan itu telah diskenariokan lebih dahulu sebelum dijadikan bukti.
HYBE juga menyoroti detail waktu (timestamp) dari pesan-pesan tersebut. Mereka mengklaim bahwa salah satu kalimat kunci, “Aku akan tangkap layar percakapan ini, jadi tulis yang bagus,” tercatat berada di bagian atas percakapan yang sebelumnya telah diajukan Min Hee Jin sebagai bukti di pengadilan.
Percakapan KakaoTalk tersebut semula diajukan pihak Min Hee Jin untuk menunjukkan bahwa seorang eksekutif penting ADOR mengalami tekanan atau “pelecehan berulang” dari pejabat tinggi HYBE.
Percakapan itu terjadi pada Januari tahun lalu, menjelang munculnya konflik besar antara HYBE dan Min terkait kepemimpinan ADOR.
Min Hee Jin menggunakan bukti tersebut untuk memperkuat klaim bahwa dirinya dan timnya menghadapi tekanan kuat dari HYBE hingga akhirnya ia memilih mundur dari posisi CEO.
Sidang ini kini ditangani oleh Divisi Perdata 31 Pengadilan Distrik Pusat Seoul dengan Hakim Ketua Nam In Soo.
Proses hukum tersebut menggabungkan dua perkara sekaligus, yakni gugatan Min Hee Jin dan dua pihak lainnya terhadap HYBE terkait pembayaran opsi jual (hak pembelian saham), serta gugatan balik dari HYBE yang bertujuan mengakhiri perjanjian pemegang saham dengan Min Hee Jin dan pihak terkait.
Di tengah tuduhan serius itu, Min Hee Jin tak tinggal diam. Ia memberikan klarifikasi langsung melalui wawancara dengan media.
Menurutnya, isi pemberitaan mengenai persidangan 11 September 2025 tidak sepenuhnya akurat.
“Sidang pada 11 September hanya memberikan kesempatan kepada tim hukum ADOR untuk melakukan pemeriksaan langsung terhadap saksinya. Sebagian besar laporan media didasarkan pada pertanyaan sepihak dari pengacara ADOR. Karena waktu terbatas, pemeriksaan silang ditunda ke sidang berikutnya pada 27 November 2025, di mana saya akan memberikan bantahan. Jadi, isi laporan yang beredar saat ini mungkin tidak sepenuhnya benar atau adil,” jelas Min Hee Jin.
Dengan adanya tuduhan manipulasi bukti, persidangan ini semakin menyita perhatian publik dan penggemar K-pop.
Bagaimanapun hasil akhirnya, kasus ini akan menjadi salah satu pertarungan hukum paling berpengaruh dalam industri hiburan Korea, mengingat dampaknya yang besar terhadap hubungan antara HYBE dan ADOR, serta masa depan kepemimpinan Min Hee Jin di industri musik.