← Beranda
Ekonomi Kreatif Tak Diusung dalam Debat Capres-Cawapres, Bayu Skak: Itu juga Penting Buat Negara
Alfa KamilaRabu, 13 Desember 2023 | 23.52 WIB
Conten Creator Bayu Skak menyayangkan tidak adanya topik ekonomi kreatif dalam tema Debat Capres – Cawapres 2024. Sumber: IG @moektito

 

JawaPos.com – Konten kreator sekaligus sineas muda tanah air, Bayu Skak, mengungkapkan keresahannya ihwal tema Debat Capres – Cawapres 2024 yang sudah ditentukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya (@moektito), Bayu Skak mengaku menyayangkan tidak adanya isu tentang Ekonomi Kreatif, di antara deretan tema yang diajukan.

Sebagai seorang kreator digital, persoalan Ekonomi Kreatif dinilai sangat penting untuk menjadi perhatian para pemimpin negara kelak

“Ekonomi Kreatif itu juga penting lho buat negara. Semua orang yang bergelut di industri kreatif pasti kecewa. Kenapa ya kok ngga ada? Padahal juga sama pentingnya dengan yang lain-lain,” kata dia, dikutip JawaPos.com, Rabu (13/12).

Lulusan Universitas Negeri Malang (UM) itu menjelaskan, bahwa selama ini kebanyakan masyarakat masih melihat industri kreatif sebagai hiburan belaka. Padahal, kata dia, industri kreatif bisa menjadi lokomotif perekonomian.

Menurutnya, di era sekarang, industri kreatif mengambil peran penting pada kemajuan negara. Misalnya, banyaknya konten kreator yang membantu UMKM atau sisi-sisi lain seperti pariwisata hingga kuliner.

Baca Juga: Pengamat Soroti Gaya Komunikasi Politik Capres dalam Debat Pertama

“Mikirnya harus gini temen-temen, karya kreatif itu juga bisa menjadi lokomotif. Kalau diibaratkan sebuah kereta ya, itu kan ada lokomotif dan gerbong-gerbong di belakangnya. Nah gerbong-gerbong harus ada yang narik,” jelasnya.

“Gerbong-gerbong ini bisa diisi dengan industri-industri lainnya, untuk menjadi lokomotif yang paling enak itu ya karya kreatif. Karya kreatif itu bisa berupa film, animasi, series, lagu,” lanjutnya.   

Dalam hal ini, Bayu Skak berkaca pada industri dunia hiburan Korea Selatan. Dengan banyaknya produk hiburan dan kreatif seperti Kdrama, Kpop, kuliner dan lainnya, dukungan pemerintah yang sepadan, membuat perekonomian negeri gingseng itu melesat cepat.

“Korea Selatan sepakat yang jadi lokomotifnya adalah kpop dan kdrama, dan gerbongnya diisi dengan banyak hal, industri-industri yang mereka punya,” pungkasnya.

“Mereka memikirkan bagaimana ekonomi kreatifnya itu tumbuh agar bisa menjadi lokomotif yang kuat,” tambahnya.

Lebih lanjut, Bayu menyebut Korea Selatan bukan satu-satunya negara yang menerapkan pentingnya ekonomi kreatif sebagai lokomotif, melainkan sudah diikuti oleh banyak negara-negara lain.

Indonesia, dinilai masih belum terlambat untuk memulai memprioritaskan ekonomi kreatif. Katanya, sejauh ini Indonesia hanya sampai pada perencanaan saja dan belum pada eksekusi yang maksimal dan hasil yang nyata.

Baca Juga: Gerindra Surabaya Bangun Pendidikan Politik Bareng Gen Z di Nobar Debat Capres

“Kita punya kesempatan untuk memilih, memperkenalkan negara kita yang banyak sekali budayanya ke sebanyak-sebanyaknya negara,” imbuhnya.

Di samping itu, Bayu juga menyayangkan sulitnya birokrasi di tanah air. Pada faktanya, lanjutnya, tak jarang masyarakat dibuat kesulitan saat akan mengurus sejumlah kepentingan yang berkaitan dengan industri kreatif.

“Birokrasi sangatlah berbelit, perijinan berbelit, pajak bagaimana cara dipermudah. Kalo dipermudah, Indonesia punya peluang besar,” tandasnya.

 ***

EDITOR: Novia Tri Astuti