← Beranda
Aksara Jawi Aceh Bersiap Masuk Internet, Alamat Website Bisa Ditulis dengan Huruf Arab Melayu
Rian AlfiantoRabu, 23 September 2026 | 22.18 WIB
Pemerintah Aceh dan Pandi kaji kemungkinan penggunaan Aksara Jawi atau Arab Melayu untuk digunakan sebagai domain internet. (Istimewa)

JawaPos.com - Aksara Jawi atau Arab Melayu yang selama ini banyak ditemukan dalam manuskrip dan dokumen sejarah Aceh mulai diproyeksikan untuk memasuki ruang digital. Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi) bersama Pemerintah Aceh tengah mengkaji kemungkinan penggunaan Aksara Jawi dalam nama domain internet.

Jika kajian tersebut berlanjut hingga tahap penerapan, alamat website tidak hanya akan dikenal dalam karakter Latin seperti yang umum digunakan saat ini. Representasi nama domain tertentu berpotensi ditulis menggunakan Aksara Jawi, sehingga membuka bentuk baru penggunaan aksara lokal di internet.

Pembahasan mengenai rencana tersebut dilakukan Pandi bersama Pemerintah Aceh di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh baru-baru ini. Pertemuan itu diterima langsung Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Dedy Yuswadi, AP.

Pandi sendiri tengah mengkaji pengembangan Internationalized Domain Name (IDN) pada tingkat Top-Level Domain (TLD). Sejumlah kemungkinan representasi yang dibahas antara lain nama Indonesia, Indo, atau Nusantara dalam Aksara Jawi.

Namun, rencana tersebut tidak sekadar mengganti bentuk huruf Latin dengan huruf Arab Melayu. Ada sejumlah aspek yang harus dipastikan sebelum domain beraksara Jawi dapat digunakan secara luas.

Kajian mencakup aspek kebahasaan, teknis, kebijakan internet global, kebutuhan pengguna, hingga kesiapan ekosistem digital. Konsistensi penulisan, penggunaan karakter Unicode, serta potensi kemiripan antar-karakter juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

Ketua Pandi Isnawan mengatakan, kehadiran aksara lokal di internet berkaitan dengan bagaimana masyarakat dapat menggunakan teknologi dengan bahasa dan tulisan yang dekat dengan kehidupan mereka.

“Internet seharusnya dapat digunakan oleh masyarakat dengan bahasa dan aksara yang mereka kenal. Melalui IDN, kita ingin agar kekayaan aksara Nusantara tidak hanya tersimpan sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat hidup dan digunakan dalam ekosistem digital,” ujar Isnawan.

Dari Manuskrip ke Alamat Website

 

Aksara Jawi memiliki sejarah panjang di Aceh dan berbagai wilayah Nusantara. Penggunaannya dapat ditemukan dalam naskah keagamaan, sastra, administrasi, hingga dokumentasi sejarah.

Karena itu, rencana membawanya ke internet bukan hanya persoalan teknis. Bentuk karakter dan penggunaannya perlu memiliki dasar kebahasaan yang jelas agar tidak menimbulkan persoalan ketika diterapkan sebagai bagian dari sistem nama domain.

Pandi mendorong keterlibatan pemerintah daerah, akademisi, komunitas, dan praktisi Aksara Jawi dalam proses tersebut. Keterlibatan berbagai pihak diperlukan untuk membahas bentuk aksara yang digunakan sekaligus memastikan penerapannya dapat diterima masyarakat. Pemerintah Aceh sendiri menyatakan akan menyiapkan langkah lanjutan, termasuk dari sisi regulasi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Dedy Yuswadi mengatakan koordinasi dengan perangkat daerah terkait akan dilakukan untuk menindaklanjuti rencana tersebut.

“Kami akan menindaklanjuti rencana ini melalui koordinasi dengan perangkat daerah terkait, termasuk menyiapkan aspek regulasi. Tinggal kita siapkan draftnya dan kita tindak lanjuti terus, sehingga tahun depan kita sudah bisa bergerak,” ujar Dedy Yuswadi.

Malaysia Sudah Menggunakan Domain Beraksara Arab

Penggunaan aksara non-Latin dalam nama domain bukan sepenuhnya konsep baru. Malaysia telah lebih dahulu memiliki IDN ccTLD dengan aksara Arab yang merepresentasikan nama Malaysia dalam aksara Arab dan dikelola oleh MYNIC.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa identitas sebuah negara dapat direpresentasikan dalam sistem nama domain menggunakan aksara selain alfabet Latin.

Bagi Indonesia, pengembangan IDN berbasis Aksara Jawi masih membutuhkan proses kajian dan persiapan. Salah satu tantangannya adalah memastikan domain tersebut dapat bekerja pada berbagai layanan digital.

 

Domain beraksara Jawi nantinya harus mendukung prinsip Universal Acceptance, sehingga dapat digunakan dengan baik pada situs web, aplikasi, email, dan layanan internet lainnya.

Tak Hanya Pelestarian Budaya

Penggunaan aksara daerah di ruang digital juga berpotensi berkaitan dengan perkembangan ekonomi kreatif. Bahasa dan aksara daerah dapat menjadi bagian dari produk digital, penerbitan, hingga karya kreatif yang menyasar komunitas penutur bahasa tertentu.

Dengan demikian, pembahasan Aksara Jawi sebagai nama domain bukan sekadar upaya membawa bentuk tulisan lama ke teknologi baru. Jika terealisasi, langkah tersebut dapat menjadi salah satu cara memperluas penggunaan aksara Nusantara sekaligus memberi identitas baru bagi komunitas yang masih menggunakan dan mempelajarinya di ruang digital.

Untuk saat ini, rencana tersebut masih berada pada tahap kajian. Pandi dan Pemerintah Aceh perlu menyelesaikan aspek kebahasaan, regulasi, teknis, serta kesiapan ekosistem sebelum Aksara Jawi benar-benar dapat digunakan sebagai bagian dari sistem nama domain internet.

 

EDITOR: Diar Candra